Rabu, 05 Mei 2021

Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Perlahan tetapi pasti sejak tahun 2019 lalu Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) sedikit demi sedikit  membebaskan lahan masyarakat untuk melestarikan buah lokal yang terancam punah. Pada awalnya areal seluas 0,25 Ha ini akan diarahkan menjadi kebun buah lokal, namun dengan berbagai pertimbangan termasuk dengan ditemukanya fakta bahwa ada beberapa jenis hewan endemik dan dilindungi disekitar kawasan maka diputuskan untuk mengembangkannya menjadi  Taman Biodiversitas. 

Taman Biodiversitas atau taman keanekaragaman hayati (Kehati) memiliki beberapa fungsi antara lain tempat pelestarian tumbuhan lokal, sarana rekreasi, tempat edukasi, sumber genetik tumbuhan lokal, ruang terbuka hijau dan tutupan vegetasi. Saat ini sudah ada ratusan bibit buah termasuk beberapa jenis buah langka yang ditanam di kawasan ini. 

Sayangnya biaya untuk membangun sebuah taman biodiversitas tidaklah sedikit bahkan untuk yang sangat sederhana sekalipun. Untuk itu kami mengajak seluruh lapisan masyarakat, siapapun dan dengan latar belakang apapun untuk turut bergabung Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas yang kami beri nama "Suluh Pambelum" atau "Tunas Kehidupan". 

Kami telah meluncurkan sebuah laman penggalangan dana di situs Kitabisa.com/suluhpambelum. Bagi sahabat sekalian yang belum pernah melakukan donasi di situs ini berikut tutorial atau panduannya. 

1. Klik halaman penggalangan dana www.kitabisa.com/suluhpambelum. Link tersebut akan mengarah pada halaman penggalangan dana dengan judul " Bantu Bangun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum" kemudian klik tombol berwarna merah muda dengan tulisan donasi sekarang.

Cara donasi Bangun Taman Biodiversitas

2. Langkah berikutnya adalah memasukan nominal donasi. Untuk donasi melalui situs atau laman ini nilai minimum atau paling sedikit adalah Rp 10.000,- namun jika melalui aplikasi maka nominal paling rendah untuk donasi adalah Rp 1.000,-. Nominal ini masih bisa dikoreksi atau diedit di halaman selanjutnya.
Cara donasi lingkungan

3. Pilih metode pembayaran. Ada banyak jenis metode atau alternatif pilihan pembayaran donasi, Misalnya pembayaran instan menggunakan e wallet seperti gopay, dompet kebaikan kitabisa, DANA, ShopePay, Linkaja, dan Jenius Pay. Alternatif lain adalah mentransfer ke akun virtual berbagai jenis bank antara lain BCA, MANDIRI, BNI, BRI dan BSI. Pilihan lainnya juga bisa langsung transfer bank atau menggunakan kartu kredit.  Untuk memilih metode pembayaran  klik pada salah satu yang anda inginkan. Untuk contoh panduan donasi kali ini kami akan menggunakan virtual akun BRI. 

Panduan terbaru donasi kitabisa.com

Cara bayar donasi kitabisa.com

cara Berdonasi bidang lingkungan

4. Setelah memilih metode pembayaran maka halaman selanjutnya adalah mengisi nominal donasi. Nominal nominasi akan secara otomatis terisi nilai yang anda pilih pada langkah dua, jika ingin dirubah cukup arahkan pada kolom nominal dan hapus lalu ganti dengan nominal yang baru, jika tidak maka bisa langsung mengisi nama di kolom Nama lengkap dan Nomor HP di Nomor Ponsel atau Email. Klik di sebelah kanan tulisan "sembunyian nama saya" jika ingin berdonasi sebagai anonim (tanpa nama). Anda juga bisa menuliskan doa atau harapan kepada penggalang dana tau anda sendiri di kolom terakhir sebelum lanjut pembayaran.

Cara donasi kitabisa.com

5. Segera anda akan masuk ke halaman instruksi pembayaran serta nomor akun bank virtual  (pada tutorial ini sebelumnya  memilih metode pembayaran menggunakan virtual akun bank BRI). Jika masih belum yakin dan bingung, maka bisa klik salah satu dari tiga panduan pembayaran. 

Membantu penggalangan dana di kitabisa.com
6. Misalnya jika ingin melakukan pembayaran menggunakan BRI Mobile Banking maka caranya dapat dilihat seperti di gambar berikut. 
Cara donasi kitabisa.com pakai BRI

Jangan ragu untuk berdonasi meski hanya Rp 1.000,- , karena bagi kami tidak ada nominal yang terlalu sedikit untuk ikut Patungan Bangun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum". 

Donasi secara langsung juga bisa dikirimkan ke rek BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO (mohon kesediaanya untuk konfirmasi nama dan nominal transfer ke 082255313036). 

Kami juga mohon dengan hormat bagi Bapak/ Ibu atau sahabat sekalian yang bekerja atau memimpin sebuah instansi dan dapat membantu tetapi memerlukan proposal atau usulan agar berkenan menghubungi kami melalui Tlp/ WA : 0822 5531 3036 - Muhammad Jumani atau 0822 5150 6889 - Eko Ardinatha.



Share:

Selasa, 04 Mei 2021

Mengenal Kadal Pohon Reptil Endemik Kalimantan

www.bambofoundation.org - Kadal pohon Kalimantan adalah sedikit jenis kadal yang lebih banyak menghabiskan waktu di pepohonan untuk tinggal, mencari makan hingga berkembangbiak. Jenis kadal pohon ini dalam bahasa Inggris disebut Striped Bornean Tree Skink atau Striped Tree Skink.

Kadal Pohon Kalimantan

Secara fisik Kadal Pohon Kalimantan tidak jauh berbeda dengan kadal serasah atau bengkarung pada umumnya. Selain aktivitasnya yang lebih dominan di batang dan dahan pohon, spesies ini dapat dikenali dari motif strip atau warna pada tubuhnya. Kadal Pohon Kalimantan didominasi warna coklat dengan bintik-bintik kuning pada bagian tubuh terutama punggung, kaki hingga ekor. Pada kepala hingga leher warna cenderung hitam dengan pita atau strip putih kekuningan. Sedangkan pada sisi bagian perut, bagian dalam kaki serta ekor berwarna hijau. 

Reptil dengan nama ilmiah atau nama latin Dasia vittata ini memiliki panjang tubuh sekitar 10,8 cm dan sangat lincah memanjat. Jari-jari kakinya yang ramping dan kuku-kuku yang tajam sangat mendukung aktivitasnya dalam mencari makan di pepohonan berupa semut dan serangga kecil. Warna tubuh khususnya bagian punggung yang dominan coklat cukup baik dalam membantunya membaur dengan warna-kulit-kulit kayu. 

Kadal Pohon Kalimantan ini adalah salah satu dari dua jenis fauna eksotis  endemik yang ditemukan disekitar kawasan Taman Biodiversitas Suluh Pambelum Bambo Foundation. Selain jenis reptil, jenis mamalia kecil yakni Tupai Kerdil Kalimantan atau Bornean Pygmy Squirrel (Exilisciurus exilis) juga tercatat hidup disekitar kawasan ini. Uniknya selain endemik hanya di Pulau Kalimantan hewan mungil ini  juga tercata  menyandang predikat tupai terkecil didunia.

Selain hewan endemik, di areal yang dikembangkan menjadi taman biodiversitas ini juga diketahui menjadi habitat dua hewan dilindungi yaitu dari bangsa kupu-kupu (Trogonoptera brookiana) yang masuk kedalam Appendix II CITES dan Pelanduk Kancil (Tragulus kanchil) satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Diyakini masih ada jenis hewan endemik atau dilindungi  yang belum teridentifikasi di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum, terutama dari kelompok serangga dengan spesies yang jauh lebih berlimpah, namun tidak menutup kemungkinan dari kelas Aves yang juga terpantau cukup beragam.

Taman biodiversitas sendiri pada dasarnya memiliki beberapa fungsi antara lain :

  1. Tempat pelestarian tumbuhan lokal khususnya yang memiliki tingkat ancaman tinggi terhadap kelestariannya
  2. Sebagai sarana rekreasi berbasis lingkungan
  3. Tempat edukasi bagi pelajar dan masyarakat umum
  4. Sumber genetik tumbuhan dan tanaman lokal
  5. Ruang terbuka hijau
  6. Tutupan vegetasi
Pada awalnya, areal seluas 0,25 Ha yang sedang dikembangkan akan dijadikan taman buah lokal, namun mengingat adanya beberapa spesies penting di areal ini serta pertimbangan lainnya maka disepakati untuk mendirikan Taman Biodiversitas. Sayangnya pendirian taman biodiversitas membutuhkan biaya tidak sedikit, terutam biaya pembebasan lahan dan sarana penunjang. Untuk itu selain menyisihkan dana dari  penghasilan pribadi,  sumber dana bergantung pada propsal dan penggalangan melalui situs crowdfounding.  Kami mengajak siapa saja untuk sama-sama bergerak membantu mewujudkan taman biodiversitas ini dengan berdonasi melalui laman www.kitabisa.com/suluhpambelum atau donasi secara langsung ke rek  BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO

Ikuti aktivitas kami melalui halaman facebook www.facebook.com/bambofoundation dan IG : Bambo_Foundation.



Share:

Selasa, 30 Maret 2021

Selamatkan Tumbuhan Lokal Melalui Taman Biodiversitas

SariAgri - Prihatin akan keberadaan tumbuhan buah lokal yang kian langka mendorong Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) berinisiatif mendirikan Taman Biodiversitas di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

“Setiap tahun kehadiran buah-buahan lokal di pasar tradisional dan desa-desa yang dulu merupakan penghasilnya semakin berkurang, sementara upaya perbanyakan atau penanaman kembali nyaris tidak ada,” kata founder Bambo Foundation, Muhammad Jumani.

Terancamnya keberadaan buah-buah lokal tersebut, ungkap dia, akibat alih fungsi lahan dan kebiasaan sebagian masyarakat yang menempuh cara instan untuk memanen buah dengan cara menebang pohonnya. Padahal jika bergantung pada alam, perlu waktu hingga puluhan tahun bagi biji-bijian tersebut untuk bisa mencapai usia produktif dan menghasilkan buah.

Untuk itu, sejak 2016 Bambo Foundation memulai berburu biji-bijian tumbuhan buah lokal dari desa ke desa khususnya di Kecamatan Petak Malai untuk keperluan perbanyakan menggunakan teknik tanam biji di dalam polybag. Hasilnya, sudah ada ratusan bibit tumbuhan buah lokal yang sudah dan siap tanam.

Kini Taman Biodiversitas yang dirintis pada 23 Agustus 2019 itu sudah memiliki lebih dari seratusan bibit buah yang mana sebagian di antaranya adalah buah-buahan lokal eksotis dan khas seperti asam pangi (Mangifera pajang), kapul/ tampoi (Baccaurea macrocarpa), tenggareng (Nephelium ramboutan-ake), tangkuhis (Dimocarpus longan var malaysianus), kecapi (Sandoricum koetjapi), balangkasua, dan durian merah (Durio dulcis).

Tidak mudah menemukan areal yang tepat dan cukup luas untuk mendirikan sebuah Taman Biodiversitas. Beruntung, berkat kegigihan dan semangat pantang menyerah, hasil patungan pengurus akhirnya bisa membebaskan lahan milik masyarakat dengan sistem buy back land.

Sebelumnya Jumani, sapaan akrab pria kelahiran Batola, 22 Februari 1985 ini, menuturkan pernah melakukan penanaman bibit tumbuhan lokal bersama-sama masyarakat di beberapa lahan kosong strategis di Desa Tumbang Baraoi, seperti lingkungan SMA dan SD serta sekitar area Lapangan Sepak Bola “Buluh Merindu”, bertepatan Hari Bumi tahun 2018 namun hasilnya belum memuaskan.

“Penanaman tahun 2018 di lahan kosong areal pemukiman kurang efektif karena sulit kontroling, jadi kami berinisiatif membebaskan lahan tidur milik warga dengan sistem membeli lagi lahan masyarakat yang ditelantarkan tersebut, untuk dirintis menjadi Taman Biodiversitas agar lebih mudah dalam perawatan dan pengawasan,” ujar dia.

Pendirian Taman Biodiversitas adalah salah satu bentuk dukungan Yayasan Bambo kepada pemerintah dalam upaya melestarikankeanekaragaman hayati Indonesia. Selain sebagai tempat pelestarian tumbuhan lokal, taman biodiversitas juga berperan sebagai sumber genetik tumbuhan, tutupan vegetasi, ruang terbuka hijau dan ekowisata.

Sementara itu, pegiat konservasi keragaman hayati dari Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) Ferry F. Hoesain, menyambut baik dan mengapresiasi atas upaya yang dilakukan Jumani dan timnya, Kalteng untuk melestarikan tumbuhan buah lokal yang saat ini semangkin langka.

Ferry, yang juga dikenal sebagai pelestari anggrek alam ini, berharap nantinya di Taman Biodiversitas yang dibangun Jumani dan kawan-kawan, bisa semakin banyak tanaman lokal yang bisa dikumpulkan dan ditumbuhkan dengan baik sehingga dapat menjadi tempat riset.

“Melalui kegiatan kepeloporan yang dilakukan oleh Jumani ini diharapkan, bisa juga menjadi inspirasi bagi tokoh muda di daerahnya masing-masing. Sehingga terbangun mata rantai kepedulian terhadap lingkungan, khususnya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia, yang banyak sekali, bahkan mungkin ada yang belum teridentifikasi,” kata Ferry.

Sumber  : Sari Agri

Share:

Sabtu, 20 Maret 2021

Terlalu Dekat Dengan Hutan, Gedung Walet Bahayakan Satwa Liar

www.bambofoundation.org- Konflik antara satwa dan manusia menjadi sesuatu yang tak terhindarkan seiring banyaknya aktivitas manusia yang bersinggungan dengan alam. Cerita tragis Orangutan, Bekantan, Beruang, hingga Harimau yang terbunuh karena masuk pemukiman atau perkebunan warga adalah beberapa contoh ironi yang membuat miris hati.

Antang Alem

Muhammad Jumani, Pendiri Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) yang salah satu programnya bergerak dibidang lingkungan menjelaskan satwa-satwa tersebut dianggap sebagai hama atau ancaman karena harus berjuang hidup ditengah himpitan minimnya sumber pakan atau buruan akibat semakin masifnya kerusakan hutan dan alih fungsi lahan yang menjadi habitat mereka. Padahal semua itu tak lain karena insting bertahan hidup yang menuntunnya mengambil resiko memasuki pemukiman mencari makan sekedar agar tidak mati kelaparan.

Antang Alem

Kisah malang yang dialami contoh hewan-hewan di atas yang harus berhadapan dengan manusia juga tak luput dialami oleh Alap-Alap Walet (Falco subbuteo) burung dari keluarga Falconidae yang oleh sebagian masyarakat Katingan dikenal dengan sebutan “Antang Alem”.


Burung yang dalam bahasa Inggris disebut Eurasian hobby ini adalah salah satu jenis burung pemangsa berukuran kecil dan ramping dengan panjang tubuh antara 29-26 cm. Rentang sayapnya dapat membentang hingga 84 cm. Berat tubuhnya sangat ringan di mana jantan hanya 131-232 gram dan betina sekitar 141-340 gram sehingga wajar sangat efektif menjadikannya seekor predator handal.

Jumani, sapaan akrab laki-laki yang juga Guru di SMAN 1 Petak Malai ini menuturkan di beberapa daerah termasuk Katingan, Alap-alap walet sering kali dicap sebagai hama karena diyakini kerap memangsa burung walet menjelang malam hari ketika burung-burung tersebut akan masuk ke pintu gedung-gedung yang dibangun untuk mereka bersarang. Karena kebiasaan inilah ia mendapat julukan “Antang Alem” atau jika dalam bahasa Indonesia berarti “Elang Malam”.

“Hewan memiliki insting yang menuntun mereka pada mangsa”, ujar Jumani di Petak malai, Selasa.

Potensi menggiurkan dari bisnis sarang burung walet membuat gedung-gedung sarang burung walet menjamur tidak hanya di daerah pemukiman tetapi juga daerah-daerah pinggiran hutan yang sejatinya merupakan habitat Si “Antang Alem”.  Konflik pun tak bisa terhindarkan antara pemilik gedung dan hewan malang tersebut. Dampaknya Si “Antang Alem” kerap diburu dengan senapan atau dijebak menggunakan jaring khusus Karena dianggap sebagai hama.

Meskipun saat ini IUCN Red List masih menetapkan satwa ini dalam status kurang mengkhawatirkan namun perdagangan Alap-alap walet masuk dalam katagori Appendix II, di mana perdaganganya harus mengikuti peraturan tertentu, selain itu upaya perlindungan hewan ini juga diatur dalam PP no 7 tahun 1999.

Kekhawatiran terhadap kelestarian alam termasuk isu-isu lingkungan semisal konflik satwa liar dengan masyarakat seperti inilah yang mendorong Jumani melalui Bambo Foundation aktif mendukung pemerintah dalam bidang lingkungan melalui berbagai kegiatan, salah satunya dengan menggagas Program Peduli jantung Borneo (PJB) pada tahun 2019 dengan merintis Taman Biodiversitas di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan.

Jumani berharap, upaya-upaya atau langkah-langkah konkrit untuk menjaga flora dan fauna dari ancaman kepunahan harus dipikirkan sedini mungkin tidak hanya oleh pemerintah tetapi seluruh komponen masyarakat. Sebab hutan dan kekayaan alam yang ada saat ini adalah titipan anak cucu kita kelak yang harus kita jaga dan pertanggungjawabkan. 

Share:

Senin, 15 Februari 2021

Pesona Bukit Bangapan Desa Batu Tukan, Petak Malai

www.bambofoundation.org, Petak Malai – Keindahan panorama alam, ragam jenis pepohonan, pesona anggrek spesies dan variasi jenis serangga di Bukit Bengapan atau  Bangapan desa Batu Tukan Kecamatan Petak Malai  merupakan potensi wisata alam yang sayang jika tidak dikelola dan dikembangkan. 

spot foto bukit bengapan

Bukit Bengapan, adalah salah satu di antara beberapa bukit yang terletak di Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan. Tempat ini selain memiliki puncak dengan pemandangan alam yang indah juga kerap digunakan untuk keperluan gelar ritual adat masyarakat setempat.  Karenanya bagi masyarakat sekitar Bukit Bengapan sudah sangat familiar.

Bukit Bengapan

Untuk menuju lokasi kita bisa menggunakan transportasi darat  dari Kasongan, Ibu kota Katingan menuju Desa Batu Tukan dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam.  Rutenya yakni, Kasongan-Tumbang  Kaman- Tumbang Manggu-Batu Tukan atau bisa juga start dari Tumbang Samba - Tumbang Kaman - Tumbang Manggu - Batu Tukan dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Untuk diketahui, setelah Tumbang Kaman, kendaraan akan melewati jalan tidak beraspal milik perusahaan HPH (kayu). Untuk itu jika belum terbiasa disarankan menggunakan kendaraan dobel gardan dan supir yang sudah mengenal medan dengan baik atau menggunakan "taksi" lokal.

Objek wisata di Katingan

Di desa Batu Tukan, setelah melapor ke kepala desa atau tokoh masyarakat setempat perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan air  berupa perahu ces, kelotok atau alkon. Ketiga mode transportasi ini sama-sama perahu bermesin namun beda ukuran dan jenis mesin saja. 

Objek Wisata Bukit Bangapan

Waktu tempuh menggunakan transportasi air dari desa Batu Tukan ke kaki bukit Bengapan kurang lebih 10-15 menit, selanjutnya perjalanan menuju puncak bukit dilanjutkan dengan berjalan kaki. Waktu tempuh sampai ke puncak bervariasi, tergantung seberapa sering mengambil jeda istirahat. Umumnya, rata-rata untuk mencapai puncak adalah 45 menit hingga 1 jam.

Meski harus melalui medan yang cukup sulit namun mereka yang pernah mendaki bukit ini mengaku puas dengan sajian panorama alam puncak Bukit Bengapan. Selain bisa melihat desa terdekat, dari atas puncak kita juga bisa melihat bukit lain seperti Bukit Tandu dan deretan pegunungan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya.

Di kawasan ini juga terdapat sebuah kolam mata air. Sebelum pulang biasanya para pengunjung  menyempatkan diri untuk mampir di kolam “Telaga antang patahu”  untuk sekedar mencuci muka atau menyimpannya dibotol untuk dibawa pulang. Air telaga ini unik karena berwarna merah bata. Sebagian masyarakat percaya air ini memiliki khasiat dapat menyembuhkan berbagai penyakit. 

Share:

Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah- Indonesia 74459