Kamis, 08 Juli 2021

Joran Tradisional Dari Pelepah Palem

www.bambofoundation.org - Joran tradisional dari Pelepah Palem barangkali masih asing bagi sebagian orang khususnya di perkotaan. Joran-joran menggunakan tanaman tertentu yang diolah sendiri dahulu banyak digunakan bagi para pecinta hobi mancing, namun seiring waktu mulai kehilangan peminatnya karena berbagai alasan. Selain lantaran kalah bersaing dengan joran-joran modern yang lebih praktis, penyebab lain joran klasik sudah tidak banyak digunakan mungkin saja karena akibat bahan yang semakin sulit didapat atau justru pengrajinnya sendiri sudah mulai langka. 

Cara membuat Joran Dari Pelepah Palem
Bahan untuk joran tradisional yang sudah umum adalah dari rumpun bambu, ada beberapa jenis bambu yang biasa digunakan untuk membuat joran pancing beberapa yang mungkin cukup familiar seperti bambu cendani dan bambu petung. Beberapa di antaranya menggunakan teknik dan cara pengolahan joran khusus yang mungkin berbeda antar daerah. Di Kalimantan Selatan misalnya, bambu juga sering digunakan untuk memancing terutama jenis ikan Betok dan Gabus yang populasinya banyak terdapat di rawa-rawa gambut. Untuk jenis ikan ini, joran bambu yang digunakan berukuran relatif kecil yang mana pangkalnya hanya berdiameter sebesar jempol tangan (untuk memancing ikan betok) dan kurang lebih sebesar jempol kaki untuk memancing ikan Gabus. 

Jenis-jenis joran tradisional

Di Kalimantan Tengah khususnya di daerah hulu atau pedalaman seperti Kecamatan Petak Malai lokasi Taman Suluh Pambelum, penggunakan bambu untuk joran tradisional relatif sangat jarang. Meskipun di daerah ini banyak dijumpai bambu namun agaknya jenis yang ada tidak cocok untuk digunakan sebagai joran pancing. Namun demikian, beberapa jenis yang berdiameter kecil masih digunakan untuk keperluan joran "banjur"  yakni teknik menangkap ikan dengan cara ditinggal setelah kain diberi umpan dan dijenguk setelah beberapa saat biasanya dalam beberapa jam. 

Kendati jenis bambu yang digunakan sebagai joran sulit ditemukan, suku Dayak yang merupakan masyarakat asli daerah ini pada umumnya tetap menggunakan joran untuk memancing ikan-ikan yang berukuran relatif kecil hingga sedang. Sebagai gantinya tanaman yang digunakan untuk joran pengganti bambu adalah pelepah palem. Ada beberapa jenis palem yang dapat digunakan seperti pelepah aren, rotan, dan  pelepah pelem dari jenis Salak Hutan

Joran Tradisional dari Pelepah Palem Salak Hutan ini cukup kuat dan nyaman digunakan untuk memancing jenis-jenis ikan seperti Seluang Kalimantan (Rasbora spp), Sepat Siam (Trichopodus pectoralis), Sepat rawa ( Betok (Anabas testudineus), Sepat rawa (Trichopodus trichopterus) Bahkan ikan Gabus (Channa striata) yang berukuran sedang. 

Cara membuat Joran dari Pelepah Palem ini cukup mudah dan jenis tumbuhan ini cukup banyak tumbuh di hutan-hutan sekunder di sekitar desa. Pilih salah satu pelepah yang kokoh, biasanya sudah berwarna hijau agak kekuningan namun bukan yang telah kering. Potong dengan hati-hati karena pelepah ini memiliki banyak duri tajam. Pangkas daun dan duri-duri yang menempel. Joran ini belum siap digunakan karena masih berat dan biasanya bengkok/ melengkung. Agar ringan, maka perlu didiamkan selama beberapa hari agar kering (sebaiknya kering angin saja). Selama proses pengeringan joran dapat diluruskan. Cara meluruskan joran ini bisa dengan beragam pilihan misalnya ditindih dengan benda yang agak berat atau di gantung dengan seutas tali, posisinya pangkal di bagian atas dan pada bagian ujung joran yang menghadap kebawah diberi pemberat. 

Joran tradisional dari pelepah palem yang sudah lurus dan ringan ini sudah bisa di pasang nilon dan mata kail atau mata pancing setelah kurang lebih satu minggu. Agar awet, joran ini harus disimpan ditempat kering setelah digunakan.  Jika basah saat digunakan maka sebelum disimpan perlu dikeringkan terlebih dahulu untuk menghindari jamur yang membuat pancing ini akan cepat rusak. Tertarik mencoba ?.

Share:

Senin, 15 Februari 2021

Pesona Bukit Bangapan Desa Batu Tukan, Petak Malai

www.bambofoundation.org, Petak Malai – Keindahan panorama alam, ragam jenis pepohonan, pesona anggrek spesies dan variasi jenis serangga di Bukit Bengapan atau  Bangapan desa Batu Tukan Kecamatan Petak Malai  merupakan potensi wisata alam yang sayang jika tidak dikelola dan dikembangkan. 

spot foto bukit bengapan

Bukit Bengapan, adalah salah satu di antara beberapa bukit yang terletak di Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan. Tempat ini selain memiliki puncak dengan pemandangan alam yang indah juga kerap digunakan untuk keperluan gelar ritual adat masyarakat setempat.  Karenanya bagi masyarakat sekitar Bukit Bengapan sudah sangat familiar.

Bukit Bengapan

Untuk menuju lokasi kita bisa menggunakan transportasi darat  dari Kasongan, Ibu kota Katingan menuju Desa Batu Tukan dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam.  Rutenya yakni, Kasongan-Tumbang  Kaman- Tumbang Manggu-Batu Tukan atau bisa juga start dari Tumbang Samba - Tumbang Kaman - Tumbang Manggu - Batu Tukan dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam. Untuk diketahui, setelah Tumbang Kaman, kendaraan akan melewati jalan tidak beraspal milik perusahaan HPH (kayu). Untuk itu jika belum terbiasa disarankan menggunakan kendaraan dobel gardan dan supir yang sudah mengenal medan dengan baik atau menggunakan "taksi" lokal.

Objek wisata di Katingan

Di desa Batu Tukan, setelah melapor ke kepala desa atau tokoh masyarakat setempat perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan air  berupa perahu ces, kelotok atau alkon. Ketiga mode transportasi ini sama-sama perahu bermesin namun beda ukuran dan jenis mesin saja. 

Objek Wisata Bukit Bangapan

Waktu tempuh menggunakan transportasi air dari desa Batu Tukan ke kaki bukit Bengapan kurang lebih 10-15 menit, selanjutnya perjalanan menuju puncak bukit dilanjutkan dengan berjalan kaki. Waktu tempuh sampai ke puncak bervariasi, tergantung seberapa sering mengambil jeda istirahat. Umumnya, rata-rata untuk mencapai puncak adalah 45 menit hingga 1 jam.

Meski harus melalui medan yang cukup sulit namun mereka yang pernah mendaki bukit ini mengaku puas dengan sajian panorama alam puncak Bukit Bengapan. Selain bisa melihat desa terdekat, dari atas puncak kita juga bisa melihat bukit lain seperti Bukit Tandu dan deretan pegunungan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya.

Di kawasan ini juga terdapat sebuah kolam mata air. Sebelum pulang biasanya para pengunjung  menyempatkan diri untuk mampir di kolam “Telaga antang patahu”  untuk sekedar mencuci muka atau menyimpannya dibotol untuk dibawa pulang. Air telaga ini unik karena berwarna merah bata. Sebagian masyarakat percaya air ini memiliki khasiat dapat menyembuhkan berbagai penyakit. 

Share:

Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah- Indonesia 74459