Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah - Indonesia 74459

Minggu, 02 April 2023

Bukan Burung Hantu, Ini Adalah Burung Paruh Kodok!

www.bambofoundation.org - Di sekitar kawasan Taman Suluh Pambelum ada jenis burung yang dianggap sebagian masyarakat sebagai salah satu jenis burung hantu, padahal jenis burung ini berbeda. Hewan ini di dinamakan Burung Paruh Kodok atau dalam bahasa Inggris disebut "Frogmouth". Penamaan tersebut nampaknya berhubungan dengan bentuk paruh atau mulut dan kepalanya yang menyerupai  kodok. 

Burung Paruh Kodok

Burung Paruh Kodok merupakan hewan nokturnal (aktif pada malam hari), pada siang hari hewan ini cenderung tidur diranting-ranting pohon di dalam hutan. Karena kemampuan terbangnya yang tidak terlalu bagus, serta untuk menghindari predator saat tidur disiang hari, burung ini memiliki corak yang sangat baik untuk berkamuflase pada pepohonan disekitarnya. 
Telur Burung Paruh Kodok

Jenis burung Paruh Kodok dibedakan ke dalam tiga marga yaitu : Podargus, Batrachostomus dan Rigidipenna.Walaupun penyebaran hewan ini mencakup Australia, India dan Asia Tenggara, di Indonesia sendiri ada jenis yang tergolong endemik contohnya Batrachostomus javensis (Paruh Kodok Jawa).

Makanan hewan ini adalah serangga yang banyak terdapat diserasah lantai hutan. Namun demikian tidak menutup kemungkinan juga reptil dan amphibi kecil seperti kadal, cicak serta katak, bahkan termasuk mamalia kecil seperti tikus. Untuk mangsa-mangsa seperti ini biasanya dibunuh terlebih dahulu dengan cara dibenturkan pada kayu, atau batu. 

Burung ini memiliki kekerabatan dengan burung Cabak (Caprimulgidae dan Podargidae). Sekilas coraknyapun agak mirip dan sama-sama merupakan hewan yang lebih dominan tidur di siang hari dan aktif di malam hari, walaupun kecenderungan burung cabak ini tampaknya lebih aktif pada senja (hewan krepuskular). Selain itu, cabak juga merupakan pemakan serangga hanya saja ia lebih banyak berburu dan memangsa serangga di area terbuka. Di beberapa daerah di Indonesia, Paruh Kodok juga disebut sebagai cabak misalnya di Jawa dan Bali. 

Share:

Minggu, 12 Juni 2022

Alih Fungsi Lahan Ancam Puyuh Sengayan

www.bambofoundation.org - Tidak banyak yang tahu bahwa di lantai hutan tropis dataran rendah dan perbukitan Kalimantan termasuk di sekitar  area Taman Biodiversitas Suluh Pambelum Kecamatan Petak Malai, Kab. Katingan Kalimantan Tengah terdapat spesies burung eksotis yang memesona. Masyarakat setempat menamainya burung "Siau" yang secara umum dikenal dengan Burung Puyuh Sengayan. 

Puyuh Sengayan
Burung Puyuh Sengayan (Jantan)

Puyuh Sengayan atau Puyuh Jambul dengan lama ilmiah Rollulus rouloul merupakan sejenis burung puyuh kecil dengan panjang dapat mencapai 25 cm. Ciri khas yang dapat dikenali dari hewan ini adalah adanya kulit berwarna kemerahan di sekitar mata dan adanya jambul atau bulu tegak di atas kepalanya. Burung jantan memiliki warna biru-keunguan mengkilap, paruh berwarna hitam-merah, dan dahi berwarna putih, serta jambul yang berdiri tegak seperti sikat. Sedangkan yang betina kepala dan jambul pendek berwarna abu-abu, sayap kecokelatan dan bulu berwarna hijau serta berukuran lebih kecil dibandingkan jantan.

Walaupun tergolong bangsa Aves, jenis burung ini lebih banyak menghabiskan waktunya di lantai hutan untuk mencari makan. Selain memakan biji-bijian termasuk padi, ia juga memakan beberapa jenis buah yang jatuh di tanah dan beberapa jenis hewan kecil. Burung Siau tersebar di Asia Tenggara meliputi Thailand, Mayanmar, Semenanjung Melayu, Sumatera dan Kalimantan. 

Salah satu sifat uniknya burung ini adalah ia termasuk hewan yang cenderung untuk bersikap setia pada pasangannya (monogami). Meski dalam berkembang biak betina dapat menghasilkan sekitar 5 butir telur, namun maraknya alih fungsi hutan untuk berbagai kepentingan manusia perlahan namun pasti semakin mengancam populasi spesies ini. 

Sifat monogami barangkali juga menjadi perihal penyebab semakin cepatnya penurunan Puyuh Sengayan, karena bagaimanapun menangkap salah satu pasangan akan berdampak bagi salah satu yang lainnya karena sifat mereka yang hidup dan kawin hanya dengan satu pasangan tetap.

Puyuh Sengayan dievaluasikan sebagai berisiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix III. Appendix III merupakan lampiran yang memuat daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang telah dilindungi di suatu negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan memberikan pilihan (option) bagi negara-negara anggota CITES bila suatu saat akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke Appendix II, bahkan mungkin ke Appendix I.



Share:

Selasa, 26 April 2022

Mengenal Kerumbai Merah Endemik Kalimantan di Taman Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Buah unik lainnya yang tumbuh secara alami di Taman Suluh Pambelum, Kecamatan Petak Malai, Kalimantan Tengah adalah "anggur mini" atau Sarcotheca macrophylla. Di kenal juga dengan nama lain kerumbai merah, buah tanaman dari famili  Oxalidaceae ini tampak meng"anggur" yaitu melekat pada tangkai buah secara bergerombol dari atas kebawah seperti untaian anggur.
kerumbai merah

Warna merah cerah dan ukurannya yang mini berasal dari bunga yang pernyerbukannya seringkali dibantu serangga khususnya serangga Trigona. Oleh karena itu bagi peternak Trigona tanaman ini bisa jadi alternatif sumber nektar bagi peliharaan mereka. 

Selain menjadi makanan beberapa hewan liar, seperti bajing, burung dan beberapa jenis hewan lainnya, Kerumbai merah juga kerap kali dikonsumsi oleh anak-anak sekitar sebagai panganan liar. Rasanya yang cenderung kecut membuat anak-anak sering mengkonsumsinya seperti rujak yakni dengan tambahan garam atau penyedap rasa. Buah-buah ini biasanya dikumpulkan saat mereka bermain dipinggiran hutan, bersama buah-buah hutan liar lainnya seperti Suli, rambusa, dan salak hutan. 

Selain pemanfaatan buah untuk konsumsi, dilansir dari laman https://repository.ipb.ac.id, buah ini juga dimanfaatkan untuk sampo khususnya bagi masyarakat daerah Kutai Barat. Selain itu, data tentang tumbuhan dan pemanfaatan secara luas masih sangat terbatas. 


Share:

Senin, 05 Juli 2021

Serangga Lentera Kalimantan (Pyrops intricatus)

www.bambofoundation.org - Serangga Lentera adalah serangga unik lainnya yang juga dapat dijumpai di Kalimantan. Dinamai serangga lentera sebenarnya bukan lantaran serangga ini mampu menghasilkan cahaya, akan tetapi dari bentuk kepalanya yang memanjang dan terkadang menggembung pada bagian ujung atau moncongnya sehingga dahulu diduga dapat memancarkan cahaya seperti lentera. 

Serangga lentera Kalimantan


Faktanya Serangga Lentara  yang memiliki sejumlah nama lain seperti Lalat Lentera (Lantern flies) atau Lalat Lanthorn dengan nama ilmiah Pyrops intricatus merupakan kelompok serangga dari famili Fulgoridae yang tidak menghasilkan cahaya seperti halnya kunang-kunang. Famili ini banyak dijumpai di daerah tropis dan tercatat setidaknya ada 125 genus secara keseluruhan tersebar diseluruh dunia. 

Kepala memanjang yang menyerupai moncong bahkan ada yang berukuran hampir sebesar tubuhnya ini diduga berfungsi untuk membantu serangga tersebut meraih atau menembus kulit pohon yang merupakan makanannya. 

Klasifikasi Serangga Lentera Kalimantan adalah sebagai berikut :
Kingdom   : Animalia
Phylum     : Arthropoda
Class         : Insecta
Order        : Hemiptera
Infraorder : Fulgoromorpha
Family      : Fulgoridae
Genus       : Pyrops
Species     : Pyrops intricatus

Jika beruntung, di Taman Suluh Pambelum pengunjung atau pelancong dapat menemukan serangga ini hinggap atau beristirahat di pepohonan. terkadang selain serangga lentera beberapa jenis serangga lain seperti stick insect atau serangga ranting, beragam jenis capung, bahkan kupu-kupu langka, juga bisa dijumpai disekitar areal kawasan taman.

Taman yang dibangun secara swadaya ini masih dalam proses pengembangan, dan membutuhkan banyak support atau dukungan. Salah satu bentuk dukungan yang bisa dilakukan adalah dengan berdonasi melalui link laman donasi Taman Suluh Pambelum atau dengan membagikannya kepada teman atau keluarga baik secara langsung ataupun dengan mempostingnya di laman sosial media . 

Referensi : Wikipedia
Share:

Senin, 28 Juni 2021

Giant Pill Millipedes Serangga Bola Menggemaskan Di Taman Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Taman Kehati atau Taman Biodiversitas  memiliki fungsi utama menjaga sumber daya alam hayati namun demikian sebagaimana seperti yang tertulis dalam hukum alam, sejatinya kehidupan makhluk hidup di dalam sebuah ekosistem tidak dapat terlepaskan antara satu komponen dengan komponen lainnya baik berupa hubungan faktor biotik dengan abiotik, maupun interaksi sesama biotiknya. 

Giant Pill Millipedes Borneo

Begitupula dengan yang terjadi di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum, Petak Malai, Katingan, Kalimantan Tengah, walaupun tujuan utamanya adalah sebagai kawasan konservasi bagi tumbuhan buah lokal secara insitu maupun exsitu nyatanya areal ini juga menjadi rumah bagi beragam fauna eksotis yang akan sangat bergantung dan membutuhkan habitat yang aman dan terjaga.

Giant Pill Bug Borneo

Hewan-hewan unik dan eksotis yang kami maksud tidak hanya jenis satwa endemik dan dilindungi di Taman Suluh Pambelum, tetapi juga meliputi banyak jenis arthropoda yang belum diketahui dengan pasti baik dari segi keberagaman jenis maupun status kelangkaan dan endemisitasnya. 

"Giant Pill Millipedes" atau "Giant Pill Bug" adalah salah satu contohnya. Hewan tak bertulang belakang yang tergolong kedalam Ordo Sphaerotheriida ini layak menyandang gelar unik lantaran kebiasaan mempertahankan dirinya yang menyerupai Trenggiling (Manis javanica). Eksoskeleton yang kuat dan kemampuan menggulung adalah mekanisme pertahanan tangguh hewan ini terhadap beberapa jenis predator. Tidak hanya itu warnanya yang cenderung hitam atau gelap juga membantu "serangga" lucu ini berkamuflase diantara serasah dan rerumputan. 

Dibalik tingkahlakunya yang unik yakni menggulung ketika terancam bahaya, teman kecil kita ini adalah pahlawan bagi beragam jenis tumbuhan karena perannya sebagai detrivor. Seperti halnya rayap dan cacing tanah, mereka memakan bahan organik mati seperti daun dan kayu di lantai hutan kemudian memecah bahan organik yang membusuk dan melepaskan nutrisi yang terkunci kembali ke dalam tanah. Daur ulang seperti ini tidak hanya sangat penting untuk nutrisi tanaman tetapi juga untuk seluruh ekologi.

Giant Pill Millipedes masih menyimpan banyak misteri dan tanda tanya. Hingga tahun 2014 diperkirakan ordo ini memiliki sekitar 34 Genera (marga) dengan lebih dari 326 jenis dan baru sekitar 20 genera yang telah dideskripsikan. Di Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah, data tentang jenis Giant Pill Bug yang ditemukan masih sangat minim. 

Berdasarkan data dari wikipedia, jenis-jenis yang mungkin terdapat di Indonesia khususnya Kalimantan termasuk di Taman Suluh Pambelum besar kemungkinan dari famili Zephroniidae yakni dari genus Bothrobelum, Zephronia, Sphaeropoeus, Castanotherium, Rajasphaera. Tentu saja untuk lebih pastinya perlu diadakan penelitian atau identifikasi lebih lanjut. Namun apapun, jenisnya hewan unik dan lucu ini harus terus kita jaga kelestariannya.

Ayo Patungan Klik Bantu kami membangun Taman Biodiversitas Taman Suluh Pambelum

Share:

Berkenalan Dengan Satwa Endemik dan Dilindungi Di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Kawasan Taman Biodiversitas Suluh Pambelum yang didirikan Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) di Desa Tumbang Baraoi Kecamatan Petak Malai Kabupaten katingan Provinsi Kalimantan Tengah ternyata menyimpan beragam fauna eksotis bahkan  bersifat endemik serta dilindungi

Kupu Trogon

Pendiri taman biodiversitas Muhammad Jumani mengatakan dari hasil pendataan sementara sedikitnya ada empat jenis fauna yang berhasil diidentifikasi berstatus dilindungi atau merupakan satwa endemik tercatat tinggal atau hidup disekitar area ini. 


Tupai Kerdil Kalimantan

"Ada empat jenis fauna yang menjadi perhatian kami. Dua diantaranya berstatus endemik dan dua lagi merupakan hewan yang dilindungi dan masuk dalam daftar appendix II", ujar Jumani.  

Lebih lanjut Founder Bambo Foundation ini menjelaskan empat fauna yang dimaksud yang pertama adalah dari kelompok mamalia yakni Tupai Kerdil Kalimantan (Exilisciurus exilis) yang juga dikenal dengan sebutan "Bornean Pygmi Squirrel" yakni sejenis tupai kecil yang panjang totalnya hanya sekitar 12,5 cm dengan berat kurang dari 20 gram. Selain berstatus endemik hewan mungil ini juga tercatat sebagai salah satu jenis tupai terkecil di dunia. 

Kadal pohon kalimantan

Hewan yang kedua merupakan jenis reptil bersisik yang dikenal dengan nama Kadal Pohon Kalimantan (Dasia vittata). Sesuai namanya hewan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dipepohonan mencari semut atau serangga kecil ini tercatat sebagai hewan endemik yang mana hanya terdapat di pulau Kalimantan.

Fauna eksotis berikutnya adalah jenis serangga dari bangsa Lepidoptera yang familiar dengan nama Kupu Trogon atau Kupu-kupu Rajah Brooke. Kupu-kupu dengan nama ilmiah Trogonoptera brookiana dapat dikenali dari sayapnya yang dominan hitam kombinasi hijau terang. Jenis ini merupakan hewan dilindungi yang terdaftar dalam Appendix II CITES. CITES adalah sebuah konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies flora dan satwa  liar, sedangkan Appendix II adalah daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. 

Hewan yang ke empat adalah binatang yang sangat populer dalam dunia dongeng atau fabel yaitu Kancil atau Pelanduk (Tragulus kanchil). Spesies sebangsa rusa namun berukuran lebih kecil ini merupakan hewan penghuni hutan primer dan sekunder termasuk di Kalimantan. Kendati perburuan terhadap hewan ini cukup umum, seluruh genus pelanduk (Tragulus) merupakan satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Lebih lanjut ia menceritakan, di areal kurang lebih 2500 m2 tersebut pada awalnya akan dibuat taman buah lokal, namun karena berbagai pertimbangan termasuk ditemukannya beberapa fauna eksotis endemik serta dilindungi tersebut akhirnya diputuskan untuk ditingkatkan menjadi taman biodiversitas. 

Taman biodiversitas sendiri pada dasarnya memiliki beberapa fungsi antara lain :

  1. Tempat pelestarian tumbuhan lokal khususnya yang memiliki tingkat ancaman tinggi terhadap kelestariannya
  2. Sebagai sarana rekreasi berbasis lingkungan
  3. Tempat edukasi bagi pelajar dan masyarakat umum
  4. Sumber genetik tumbuhan dan tanaman lokal
  5. Ruang terbuka hijau
  6. Tutupan vegetasi

Jumani berharap gagasan yang ia coba wujudkan bersama rekan-rekannya ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hal ini ia sampaikan mengingat dana yang diperlukan untuk mengembangkan areal menjadi sebuah taman biodiversitas yang dapat memenuhi setidaknya enam fungsi dimaksud membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain mengandalkan swadaya dan kantong pribadi, sumber dana yang diharapkan hanyalah dari proposal dan donasi di situs penggalangan online kitabisa.com

"Salah satu tujuan utama didirikannya taman biodiversitas ini adalah untuk melestarikan buah lokal. Beragam jenis buah dan flora khas yang ada di sana tentu akan menjadi daya pikat sekaligus memberi daya dukung bagi kehidupan satwa liar yang ada disekitar kawasan yang saat ini bisa jadi semakin sulit untuk mendapatkan makanan karena dampak alih fungsi hutan dan lahan", pungkasnya. 

Sementara itu, Andhika Prasetya  selaku penanggungjawab pembangunan taman tetap optimis bisa menyelesaikan pengerjaan meski mengalami beberapa hambatan terutama  biaya pembebasan lahan “buy back land”. Dikatakan Andhika, saat ini kawasan taman baru memiliki 0,25 Ha padahal idealnya paling tidak sebuah taman biodiversitas memiliki luasan lahan 3 Ha. Karena konsepnya adalam taman maka selain berbagai jenis tumbuhan khas, di kawsan ini juga akan dibangun berapa sarana penunjang. untuk pengunjung dan wisatawan minat khusus.

"Saat ini penataan areal dan penanaman pohon buah terus dilakukan, kendati masih ada kendala kami tetap yakin bisa mewujudkannya dalam tiga tahun kedepan", ucapnya. 
Share:

Rabu, 05 Mei 2021

Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Perlahan tetapi pasti sejak tahun 2019 lalu Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) sedikit demi sedikit  membebaskan lahan masyarakat untuk melestarikan buah lokal yang terancam punah. Pada awalnya areal seluas 0,25 Ha ini akan diarahkan menjadi kebun buah lokal, namun dengan berbagai pertimbangan termasuk dengan ditemukanya fakta bahwa ada beberapa jenis hewan endemik dan dilindungi disekitar kawasan maka diputuskan untuk mengembangkannya menjadi  Taman Biodiversitas. 

Taman Biodiversitas atau taman keanekaragaman hayati (Kehati) memiliki beberapa fungsi antara lain tempat pelestarian tumbuhan lokal, sarana rekreasi, tempat edukasi, sumber genetik tumbuhan lokal, ruang terbuka hijau dan tutupan vegetasi. Saat ini sudah ada ratusan bibit buah termasuk beberapa jenis buah langka yang ditanam di kawasan ini. 

Sayangnya biaya untuk membangun sebuah taman biodiversitas tidaklah sedikit bahkan untuk yang sangat sederhana sekalipun. Untuk itu kami mengajak seluruh lapisan masyarakat, siapapun dan dengan latar belakang apapun untuk turut bergabung Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas yang kami beri nama "Suluh Pambelum" atau "Tunas Kehidupan". 

Kami telah meluncurkan sebuah laman penggalangan dana di situs Kitabisa.com/suluhpambelum. Bagi sahabat sekalian yang belum pernah melakukan donasi di situs ini berikut tutorial atau panduannya. 

1. Klik halaman penggalangan dana www.kitabisa.com/suluhpambelum. Link tersebut akan mengarah pada halaman penggalangan dana dengan judul " Bantu Bangun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum" kemudian klik tombol berwarna merah muda dengan tulisan donasi sekarang.

Cara donasi Bangun Taman Biodiversitas

2. Langkah berikutnya adalah memasukan nominal donasi. Untuk donasi melalui situs atau laman ini nilai minimum atau paling sedikit adalah Rp 10.000,- namun jika melalui aplikasi maka nominal paling rendah untuk donasi adalah Rp 1.000,-. Nominal ini masih bisa dikoreksi atau diedit di halaman selanjutnya.
Cara donasi lingkungan

3. Pilih metode pembayaran. Ada banyak jenis metode atau alternatif pilihan pembayaran donasi, Misalnya pembayaran instan menggunakan e wallet seperti gopay, dompet kebaikan kitabisa, DANA, ShopePay, Linkaja, dan Jenius Pay. Alternatif lain adalah mentransfer ke akun virtual berbagai jenis bank antara lain BCA, MANDIRI, BNI, BRI dan BSI. Pilihan lainnya juga bisa langsung transfer bank atau menggunakan kartu kredit.  Untuk memilih metode pembayaran  klik pada salah satu yang anda inginkan. Untuk contoh panduan donasi kali ini kami akan menggunakan virtual akun BRI. 

Panduan terbaru donasi kitabisa.com

Cara bayar donasi kitabisa.com

cara Berdonasi bidang lingkungan

4. Setelah memilih metode pembayaran maka halaman selanjutnya adalah mengisi nominal donasi. Nominal nominasi akan secara otomatis terisi nilai yang anda pilih pada langkah dua, jika ingin dirubah cukup arahkan pada kolom nominal dan hapus lalu ganti dengan nominal yang baru, jika tidak maka bisa langsung mengisi nama di kolom Nama lengkap dan Nomor HP di Nomor Ponsel atau Email. Klik di sebelah kanan tulisan "sembunyian nama saya" jika ingin berdonasi sebagai anonim (tanpa nama). Anda juga bisa menuliskan doa atau harapan kepada penggalang dana tau anda sendiri di kolom terakhir sebelum lanjut pembayaran.

Cara donasi kitabisa.com

5. Segera anda akan masuk ke halaman instruksi pembayaran serta nomor akun bank virtual  (pada tutorial ini sebelumnya  memilih metode pembayaran menggunakan virtual akun bank BRI). Jika masih belum yakin dan bingung, maka bisa klik salah satu dari tiga panduan pembayaran. 

Membantu penggalangan dana di kitabisa.com
6. Misalnya jika ingin melakukan pembayaran menggunakan BRI Mobile Banking maka caranya dapat dilihat seperti di gambar berikut. 
Cara donasi kitabisa.com pakai BRI

Jangan ragu untuk berdonasi meski hanya Rp 1.000,- , karena bagi kami tidak ada nominal yang terlalu sedikit untuk ikut Patungan Bangun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum". 

Donasi secara langsung juga bisa dikirimkan ke rek BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO (mohon kesediaanya untuk konfirmasi nama dan nominal transfer ke 082255313036). 

Kami juga mohon dengan hormat bagi Bapak/ Ibu atau sahabat sekalian yang bekerja atau memimpin sebuah instansi dan dapat membantu tetapi memerlukan proposal atau usulan agar berkenan menghubungi kami melalui Tlp/ WA : 0822 5531 3036 - Muhammad Jumani atau 0822 5150 6889 - Eko Ardinatha.



Share:

Selasa, 04 Mei 2021

Mengenal Kadal Pohon Reptil Endemik Kalimantan

www.bambofoundation.org - Kadal pohon Kalimantan adalah sedikit jenis kadal yang lebih banyak menghabiskan waktu di pepohonan untuk tinggal, mencari makan hingga berkembangbiak. Jenis kadal pohon ini dalam bahasa Inggris disebut Striped Bornean Tree Skink atau Striped Tree Skink.

Kadal Pohon Kalimantan

Secara fisik Kadal Pohon Kalimantan tidak jauh berbeda dengan kadal serasah atau bengkarung pada umumnya. Selain aktivitasnya yang lebih dominan di batang dan dahan pohon, spesies ini dapat dikenali dari motif strip atau warna pada tubuhnya. Kadal Pohon Kalimantan didominasi warna coklat dengan bintik-bintik kuning pada bagian tubuh terutama punggung, kaki hingga ekor. Pada kepala hingga leher warna cenderung hitam dengan pita atau strip putih kekuningan. Sedangkan pada sisi bagian perut, bagian dalam kaki serta ekor berwarna hijau. 

Reptil dengan nama ilmiah atau nama latin Dasia vittata ini memiliki panjang tubuh sekitar 10,8 cm dan sangat lincah memanjat. Jari-jari kakinya yang ramping dan kuku-kuku yang tajam sangat mendukung aktivitasnya dalam mencari makan di pepohonan berupa semut dan serangga kecil. Warna tubuh khususnya bagian punggung yang dominan coklat cukup baik dalam membantunya membaur dengan warna-kulit-kulit kayu. 

Kadal Pohon Kalimantan ini adalah salah satu dari dua jenis fauna eksotis  endemik yang ditemukan disekitar kawasan Taman Biodiversitas Suluh Pambelum Bambo Foundation. Selain jenis reptil, jenis mamalia kecil yakni Tupai Kerdil Kalimantan atau Bornean Pygmy Squirrel (Exilisciurus exilis) juga tercatat hidup disekitar kawasan ini. Uniknya selain endemik hanya di Pulau Kalimantan hewan mungil ini  juga tercata  menyandang predikat tupai terkecil didunia.

Selain hewan endemik, di areal yang dikembangkan menjadi taman biodiversitas ini juga diketahui menjadi habitat dua hewan dilindungi yaitu dari bangsa kupu-kupu (Trogonoptera brookiana) yang masuk kedalam Appendix II CITES dan Pelanduk Kancil (Tragulus kanchil) satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Diyakini masih ada jenis hewan endemik atau dilindungi  yang belum teridentifikasi di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum, terutama dari kelompok serangga dengan spesies yang jauh lebih berlimpah, namun tidak menutup kemungkinan dari kelas Aves yang juga terpantau cukup beragam.

Taman biodiversitas sendiri pada dasarnya memiliki beberapa fungsi antara lain :

  1. Tempat pelestarian tumbuhan lokal khususnya yang memiliki tingkat ancaman tinggi terhadap kelestariannya
  2. Sebagai sarana rekreasi berbasis lingkungan
  3. Tempat edukasi bagi pelajar dan masyarakat umum
  4. Sumber genetik tumbuhan dan tanaman lokal
  5. Ruang terbuka hijau
  6. Tutupan vegetasi
Pada awalnya, areal seluas 0,25 Ha yang sedang dikembangkan akan dijadikan taman buah lokal, namun mengingat adanya beberapa spesies penting di areal ini serta pertimbangan lainnya maka disepakati untuk mendirikan Taman Biodiversitas. Sayangnya pendirian taman biodiversitas membutuhkan biaya tidak sedikit, terutam biaya pembebasan lahan dan sarana penunjang. Untuk itu selain menyisihkan dana dari  penghasilan pribadi,  sumber dana bergantung pada propsal dan penggalangan melalui situs crowdfounding.  Kami mengajak siapa saja untuk sama-sama bergerak membantu mewujudkan taman biodiversitas ini dengan berdonasi melalui laman www.kitabisa.com/suluhpambelum atau donasi secara langsung ke rek  BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO

Ikuti aktivitas kami melalui halaman facebook www.facebook.com/bambofoundation dan IG : Bambo_Foundation.



Share:

Sabtu, 20 Maret 2021

Terlalu Dekat Dengan Hutan, Gedung Walet Bahayakan Satwa Liar

www.bambofoundation.org- Konflik antara satwa dan manusia menjadi sesuatu yang tak terhindarkan seiring banyaknya aktivitas manusia yang bersinggungan dengan alam. Cerita tragis Orangutan, Bekantan, Beruang, hingga Harimau yang terbunuh karena masuk pemukiman atau perkebunan warga adalah beberapa contoh ironi yang membuat miris hati.

Antang Alem

Muhammad Jumani, Pendiri Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) yang salah satu programnya bergerak dibidang lingkungan menjelaskan satwa-satwa tersebut dianggap sebagai hama atau ancaman karena harus berjuang hidup ditengah himpitan minimnya sumber pakan atau buruan akibat semakin masifnya kerusakan hutan dan alih fungsi lahan yang menjadi habitat mereka. Padahal semua itu tak lain karena insting bertahan hidup yang menuntunnya mengambil resiko memasuki pemukiman mencari makan sekedar agar tidak mati kelaparan.

Antang Alem

Kisah malang yang dialami contoh hewan-hewan di atas yang harus berhadapan dengan manusia juga tak luput dialami oleh Alap-Alap Walet (Falco subbuteo) burung dari keluarga Falconidae yang oleh sebagian masyarakat Katingan dikenal dengan sebutan “Antang Alem”.


Burung yang dalam bahasa Inggris disebut Eurasian hobby ini adalah salah satu jenis burung pemangsa berukuran kecil dan ramping dengan panjang tubuh antara 29-26 cm. Rentang sayapnya dapat membentang hingga 84 cm. Berat tubuhnya sangat ringan di mana jantan hanya 131-232 gram dan betina sekitar 141-340 gram sehingga wajar sangat efektif menjadikannya seekor predator handal.

Jumani, sapaan akrab laki-laki yang juga Guru di SMAN 1 Petak Malai ini menuturkan di beberapa daerah termasuk Katingan, Alap-alap walet sering kali dicap sebagai hama karena diyakini kerap memangsa burung walet menjelang malam hari ketika burung-burung tersebut akan masuk ke pintu gedung-gedung yang dibangun untuk mereka bersarang. Karena kebiasaan inilah ia mendapat julukan “Antang Alem” atau jika dalam bahasa Indonesia berarti “Elang Malam”.

“Hewan memiliki insting yang menuntun mereka pada mangsa”, ujar Jumani di Petak malai, Selasa.

Potensi menggiurkan dari bisnis sarang burung walet membuat gedung-gedung sarang burung walet menjamur tidak hanya di daerah pemukiman tetapi juga daerah-daerah pinggiran hutan yang sejatinya merupakan habitat Si “Antang Alem”.  Konflik pun tak bisa terhindarkan antara pemilik gedung dan hewan malang tersebut. Dampaknya Si “Antang Alem” kerap diburu dengan senapan atau dijebak menggunakan jaring khusus Karena dianggap sebagai hama.

Meskipun saat ini IUCN Red List masih menetapkan satwa ini dalam status kurang mengkhawatirkan namun perdagangan Alap-alap walet masuk dalam katagori Appendix II, di mana perdaganganya harus mengikuti peraturan tertentu, selain itu upaya perlindungan hewan ini juga diatur dalam PP no 7 tahun 1999.

Kekhawatiran terhadap kelestarian alam termasuk isu-isu lingkungan semisal konflik satwa liar dengan masyarakat seperti inilah yang mendorong Jumani melalui Bambo Foundation aktif mendukung pemerintah dalam bidang lingkungan melalui berbagai kegiatan, salah satunya dengan menggagas Program Peduli jantung Borneo (PJB) pada tahun 2019 dengan merintis Taman Biodiversitas di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan.

Jumani berharap, upaya-upaya atau langkah-langkah konkrit untuk menjaga flora dan fauna dari ancaman kepunahan harus dipikirkan sedini mungkin tidak hanya oleh pemerintah tetapi seluruh komponen masyarakat. Sebab hutan dan kekayaan alam yang ada saat ini adalah titipan anak cucu kita kelak yang harus kita jaga dan pertanggungjawabkan. 

Share:

Kamis, 19 November 2020

Tractor Millipede, Si "Punggung Datar" dari Hutan Borneo

www.bambofoundation.org- Tractor Millipede adalah satu sekitar 5000 jenis bangsa (ordo) Polydesmida yang hidup di bumi. Dengan angka yang fantastis tersebut Polydesmida diyakini sebagai ordo kaki seribu paling banyak spesies atau jenisnya. 

Traktor Millipede

Tractor Millipede sendiri sejatinya bukan menunjuk pada satu jenis melainkan nama yang umum digunakan untuk kelompok kaki seribu berpunggung datar. Polydesma umumnya tidak memiliki mata, sebagai gantinya mereka memiliki semacam "antena" untuk mengindera segala sesuatu yang ada disekitar mereka seperti makanan maupun potensi ancaman.

Di sepanjang tubuh mereka banyak terdapat pori atau lubang yang menghasilkan hidrosianida (HCN), asam format (asam semut) atau zat lain yang berfungsi sebagai alat pertahanan diri. Sebagian spesies melepaskan zat tersebut secara perlahan, namun diyakini sebagian lain dapat menyemprotkannya.

Hewan unik ini masih cukup sering di jumpai di hutan-hutan Kalimantan baik Hutan Lindung maupun hutan sekunder tidak terkecuali di sekitar pemukiman penduduk yang tinggal berdekatan dengan hutan. Di alam ia memakan tanaman hidup maupun yang telah membusuk dan dapat berpotensi menjadi hama karena memakan pucuk dan daun tanaman budidaya seperti tanaman hias dan sayur-sayuran. 

Tempat tinggal atau habitat yang umum adalah serasah atau tumpukan daun, bebatuan, sekitar pohon yang telah lapuk atau bahkan kulit kayu yang masih hidup. 

Data atau referensi tentang traktor milipede sendiri masih terbilang sedikit. Bahkan menurut beberapa sumber, masih banyak yang belum teridentifikasi. Ini tentunya menjadi peluang dan kesempatan yang baik bagi peneliti-peneliti dan ahli biologi khususnya Indonesia untuk dapat memberikan sumbangsihnya dalam mendeskripsikan dan memberi nama jenis-jenis yang belum teridentifikasi tersebut. 

Karena proses identifikasi tentunya membutuhkan keahlian dan waktu yang tidak singkat, maka kita wajib menjaga kelestarian hewan-hewan ini dengan cara menjaga hutan dan habitatnya. Agar hutan dan segala isinya tidak hanya tinggal cerita tetapi menjadi penyelamat umat manusia.

Share:

Minggu, 16 Agustus 2020

Mengenal Kalajengking Kayu Kerdil Liocheles australasiae

Bambo Foundation - Berbicara flora dan fauna Borneo memang tidak pernah habisnya, karena demikian banyaknya tidak sedikit hewan atau tumbuhan yang sebenarnya ada disekitar namun tidak atau belum kita ketahui. Nah untuk menambah wawasan dan pengetahuan sehingga kita bisa lebih bijak dan peduli akan kelestarian lingkungan, kali ini kami akan mengajak kalian berkenalan dengan salah satu hewan yang tergolong kelas Arachnida dari bangsa Scorpiones atau kalajengking.

Makanan kalajengking di alam
Gambar Kalajengking Kayu Kerdil (Liocheles australasiae)
Jenis kelejengking yang hidup di bumi diperkirakan setidaknya ada 2000 jenis. Sekitar 30-40 jenis memiliki racun yang dapat membunuh manusia. Racun kalajengking pada umumnya tergolong racun saraf atau neurotoxin walaupun ada juga yang bersifat sitoksik atau racun sel. Fungsi racun ini umumnya adalah untuk melumpuhkan mangsanya agar mudah "dimakan". 

Di antara ribuan jenis kalajengking, salah satunya adalah Liocheles australasiae atau dikenal juga dengan kalajengking kayu kerdil. 

Karakteristik Umum
Kalajengking ini termasuk spesies yang berukuran kecil karena  hanya memiliki panjang tubuh dewasa sekitar 2-3 cm. Tubuhnya relatif pipih dengan sengat bagian ekor cenderung kecil dan kurang berkembang. Di duga hal ini karena penyesuaian habitatnya dan kebiasaanya yang suka berada dicelah-celah sempit kayu dan batu. Warna tubuhnya cenderung coklat. 

Habitat
Meski tidak jarang ditemukan di permukaan tanah, celah-celah kayu atau batu di lantai hutan, arthropoda kecil ini sangat lihai memanjat dan sering di jumpai dicelah-celah antara pelepah pohon kelapa (Cocos nucifera) atau pohon Rumbia (Metroxylon sagu) karenanya ia diklasifikasikan sebagai hewan arboreal. 

Makanan
Mangsa Kalajengking Kayu Kerdil ini umumnya adalah laba-laba kecil, dan atau serangga kecil lainnya yang tidak terlalu gesit untuk ditangkap. Sepasang capit berfungsi untuk menangkap atau memegang mangsa yang berada dalam jangkauan. Cara makan kalajengking kayu kerdil tidak dengan mengunyah tetapi dengan menghisap cairan tubuh mangsanya. 

Pertahanan
Meskipun tidak berbahaya bagi manusia, pilihan bijak adalah dengan tidak mengganggunya. Liocheles australasiae umumnya lebih memilih lari jika terancam dan dalam keadaan benar-benar terdesak, terkadang ia akan menunjukan perilaku berpura-pura mati untuk mencegah predator memakannya. Tubuhnya yang relatif pipih dengan metasoma yang bisa dilipat kesamping adalah sebuah keuntungan baginya untuk mendiami celah-celah sempit sehingga terhindar dari predator sekaligus menjadi tempat yang tepat untuk berburu mangsa serangga kecil.

Liocheles australasiae (Kalajengking Kayu Kerdil) dapat di jumpai di India, Bangladesh, Kepulauan Yaeyama (Jepang), Cina, Korea, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, Kepulauan Mariana, Australia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Kaledonia Baru, Fiji, Tonga, Samoa dan Polinesia Prancis. Di Indonesia hewan mungil ini juga tersebar luas termasuk di hutan-hutan Kalimantan dan tidak jarang juga ditemui di sekitar pemukiman penduduk.  

Share:

Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah- Indonesia 74459