Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah - Indonesia 74459

Minggu, 24 November 2019

Khasiat Tanaman Langka Asam Pangi Mulai Anti Mikroba Hingga Anti Kanker

www.bambofoundation.org- Asam Pangi (Mangifera pajang) adalah tanaman buah dari keluarga Anacardiaceae yang memiliki kulit tebal dan aroma khas. Tanaman yang masih berkerabat dekat dengan mangga ini umumnya tumbuh liar dan merupakan tanaman asli pulau Borneo (Kalimantan) termasuk Brunei, dan Malaysia. 

Khasiat asam pangi anti kanker
Buah Asam Pangi/ Bambangan (Mangifera pajang)
Asam Pangi yang secara umum dikenal dengan sebutan Bambangan atau "Bambangan Manggo/ wild manggo" merupakan tanaman berupa pohon berperawakan besar dengan tinggi  mencapai belasan meter bahkan beberapa puluh meter dan diameter dapat berukuran lebih dari satu meter. Buahnya berbentuk bulat telur dengan warna kulit kuning-kecoklatan, jika diraba kulit akan cenderung terasa agak kasar. Di bawah lapisan kulitnya yang tebal terdapat daging buah yang berwarna kekuningan dengan serat yang agak lebih kasar pada kelompok mangga pada umumnya. Ukuran buahnyapun relatif lebih besar, dengan berat bisa mencapai 800 gram dan dapat disimpan beberapa hari.
bibit buah asam pangi/ bambangan
Bibit Asam Pangi (Mangifera pajang)
Jika ingin mengkonsumsi buah ini ada baiknya jangan langsung dikupas setelah dipetik, tetapi didiamkan terlebih dahulu satu atau dua hari. Selain itu pastikan kulitnya yang tebal benar-benar bersih karena sisa getah pada kulitnya akan membuat lidah anda akan terasa getir seperti halnya jika terkena getah buah Kweni (Mangifera odorata).

Tanaman Asam Pangi dapat berbuah dua kali setahun, biasanya antara bulan Januari-Februari dan Juli-Agustus. Selain dinikmati langsung daging buahnya yang tinggi kandungan air, antioksidan vitamin C serta agen anti mikroba dapat pula dikonsumi dalam bentuk jus.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Asam Pangi adalah tanaman endemik  yang hanya ditemukan di pulau Kalimantan. Artinya sebaran alaminya adalah pulau Borneo yang merupakan milik dari tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam meskipun beberapa sumber juga menyebutkan tanaman ini juga tercatat ada di Singapura.

Status konservasi Asam Pangi (Mangifera pajang) mengacu pada situs IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources), berada pada katagori "rentan"  (Vulnurable). Dengan kata lain berdasarkan data yang dikeluarkan IUCN Red List of Threatened Species atau disingkat IUCN Red List tersebut menunjukan bahwa spesies ini sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar.

Padahal menurut data dari Perpustakaan Nasional Institut Kesehatan Nasional AS menyebutkan  selain buahnya yang edibel,  Spesies tanaman Asam pangi (Mangifera pajang) dapat menjadi sumber potensial untuk antikanker alami (terutama untuk kanker payudara, hati dan usus besar) dan antioksidan serta anti mikroba. Ekstrak kernel, kulit batang dan daun Asam Pangi (Mangifera pajang). Beberapa zat penting yang berfungsi sebagai anti kenker dan antioksidan yang terkandung dalam kernel, kulit, batang dan daun Asam Pangi antara lain triterpen sikloartana,lupane,metil galat, dan quercitrin.

Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum" agar tidak hanya Asam Pangi dan  berbagai jenis pohon buah lokal lainnya yang bisa dilestarikan tetapi juga berbagai fauna endemik serta dilindungi yang hidup di sekitar kawasan ini. 

Mari Bersama Jaga Jantung Borneo Kita!


Referensi
https://www.iucnredlist.org/species/31394/9625586
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4391605
Share:

Jumat, 22 November 2019

Adopsi Pohon Buah Langka Kalimantan

www.bambofoundation.org- Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) menargetkan sedikitnya bisa menanam 1000 pohon khususnya tanaman buah langka Kalimantan selama tahun 2020 mendatang. Adapun penanaman pohon-pohon tersebut sementara difokuskan di Lokasi Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah.
Bibit buah langka kalimantan murah meriah
Beragam Jenis Bibit Buah Langka Kalimantan Program Peduli Jantung Borneo (PJB)
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation)
Penanaman pohon buah tersebut dilakukan secara bertahap dan sudah diinisiasi sejak Agustus 2019 lalu. Bibit yang sudah ditanam kurang lebih 50 pohon buah di antaranya Tangkuhis (Dimocarpus longan ssp malesianus var malesianus), Tenggareng (Nephelium ramboutan-ake), Asam putar (Mangifera turqoenda), Asam pangi (Mangifera pajang), Kecapi (Sandoricum koetjape), Balangkasua (Lepisanthes alata), Bisbul (Diospyros blancoi), Tanggu (Lansium domesticum), Pampaken (Duri kutejensis) dan Durian merah (Durio dulcis).
bibit buah langka kalimantan
Bibit Tangkuhis/ Mata Kucing (Dimocarpus longan ssp malesianus var malesianus)
Diakui Muhammad Jumani, Pendiri Bambo Foundation saat ini Program Peduli Jantung Borneo (PJB) memang masih terkendala beberapa fasilitas pembibitan khususnya "rumah bibit", pembebasan lahan dan dana operasional pemeliharaan. Namun demikian Ia tetap optimis program ini dapat berjalan dengan modal sebuah lahan dengan luas kurang lebih 4500 m² yang akan digunakan sebagai lokasi percontohan penanaman.

Untuk pembibitan sendiri, saat ini masih dilakukan di tempat seadanya karena belum memiliki "Green House". Kendati begitu saat ini yayasan sudah memiliki lebih dari seratus bibit berbagai jenis tanaman buah khususnya yang memang tumbuh di Kalimantan. Jumani berharap di awal tahun 2020 mereka bisa memiliki "Green House" sehingga proses dan aktifitas pembibitan bisa lebih efektif dan efesien.

Hingga saat ini Yayasan Baraoi Mutiara Borneo belum memiliki sumber dana tetap untuk mendukung kegiatan operasional berbagai program yang ada seperti Taman Baca Baraoi (edukasi), dan Peduli Jantung Borneo (Lingkungan). Selain menyisihkan dana dari kantong pribadi, yayasan juga masih bergantung pada donasi dan kontribusi relawan.

Untuk itu Yayasan Bambo mengajak seluruh elemen masyarakat agar bersama-sama ambil bagian dalam upaya pelestarian kekayaan alam Borneo khususnya buah-buahan khas Kalimantan, yang pada hakikatnya  tidak lain dan tidak bukan semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat. Partisipasi aktif masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap "Jantung Borneo" dapat dilakukan dengan menjadi "adopter". Adopter adalah istilah lain untuk Bapak/Ibu/Kakak asuh untuk setiap pohon yang akan di tanam.

Adapun teknis menjadi adopter adalah sebagai berikut :
  1. Adopter mendonasikan/menitipkan dana sebesar Rp 50.000,- per pohon kepada Yayasan Baraoi Mutiara Borneo untuk kegiatan penanaman pohon dan buah langka Kalimantan melalui Proyek Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan Program Peduli Jantung Borneo (PJB), dengan jangka waktu adopsi selama 3 tahun. 
  2. Sebesar 40 persen dari total dana hasil donasi/ titipan para adopter akan digunakan untuk pengadaan bibit, 25 persen untuk pembebasan lahan, dan 30 persen untuk perawatan atau pemeliharaan (termasuk penyulaman, pemupukan, pembersihan lahan, dll) dan 5 persen sisanya untuk keperluan  administratif, dan database. 
  3. Adopter berhak memilih jenis tanaman/bibit yang akan di adopsi selama persedian jenis bibit yang dimaksud masih ada serta boleh membubuhkan tanda (di tanam oleh ...) dengan tambahan biaya 10 ribu rupiah. 
  4. Adopter diperkenankan untuk ikut dan terlibat langsung dalam proses penanaman dengan catatan biaya akomodasi dan perjalanan selama kegiatan dibebankan kepada yang bersangkutan. 
  5. Dana dapat di transfer melalui rekening BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO, sejumlah yang harus dibayarkan plus dua digit kode unik yaitu "27" sebagai pengganti angka nol satuan dan puluhan terakhir. Misal untuk adopsi dua  pohon jumlah dana yang didonasikan/ditipkan sebesar Rp 100.000,- Maka mohon untuk mentransfer sebesar Rp 100.027,-. Angka ini untuk membedakan donasi yang masuk untuk kegiatan Proyek Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan Program Peduli Jantung Borneo (PJB) dengan program yang lain. 
  6. Menginformasikan rencana adopsi pohon melalui Telp/WA 0822-5531-3036
Daftar jenis dan ketersediaan bibit tanaman buah Proyek Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan Program Peduli Jantung Borneo (PJB).


No Kode Jenis Bibit (Nama Lokal) Nama Ilmiah Stok
1 A1 Tenggareng/maritam Nephelium ramboutan-ake ada
2 A2 Balangkasua/kenyem Lepisanthes alata ada
3 A3 Buah mentega/ bisbul Diospyros blancoi -
4 A4 Limpasu Baccaurea lanceolata ada
5 A5 Buah bakau/ katitiwar Aglaia sapindina ada
6 A6 Ketapi/Kecapi Sandoricum koeatjape ada
7 A7 Kasturi Mangifera kasturi ada
8 A8 Asam Pangi Mangifera pajang ada
9 A9 Asam Putar Mangifera torquenda ada
10 A10 Tanggu Lansium domesticum ssp ada
11 A11 Tangkuhis D. longan ssp var malesianus ada
12 A12 Durian Merah/ Lahung Durio dulcis -
13 A13 Pampaken Durio kutejensis ada
14 A14 Durian lokal Durio zibetinus ada
15 A15 Karantungan/ Durian krakup Durio oxleyanus -
16 A16 Umbing Baccaurea angulata -
17 A17 Salak hutan Eleiodoxa conferta ada
18 A18 Suli - ada
19 A19 Rambutan garuda Nephelium lapaceum ssp -
20 A20 Kumbayau/Kramu Dacroydes rostrata -
21 A21 Tarap Artocarpus odoratissimus -
22 A22 Cempedak lokal Artocarpus integer ada
23 A23 Jambu agung Syzygium malaccense ada
24 A24 Kapul Baccaurea macrocarpa ada




Bantu Donasi dengan Klik Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum" agar tidak hanya berbagai jenis pohon buah lokal yang bisa dilestarikan tetapi juga berbagai fauna endemik serta dilindungi yang hidup di sekitar kawasan ini. 
Share:

Rabu, 20 November 2019

Buah Mata Kucing Yang Mulai Terasing

www.bambofoundation.org- Buah Tangkuhis atau dikenal juga dengan nama Mata Kucing (Malaysia), Ihau (Kalimantan Timur), Medaro (Sumatera) adalah tanaman dari suku lerak-lerakan (Sapindaceae) yang merupakan buah asli Asia Tenggara. Secara umum, rasa dan tekstur daging buah Tangkuhis atau mata kucing mirip dengan lengkeng karena memang merupakan spesies yang sama atau satu jenis. 
Budidaya Tangkuhis di Kalimantan
Bibit Tangkuhis Untuk Program Peduli Jantung Borneo (PJB)

Tangkuhis (Dimocarpus longan ssp. malesianus var malesianus) adalah sejenis lengkeng hutan yang secara umum dapat ditemukan di hutan-hutan Kalimantan (termasuk wilayah Malaysia). Sayangnya berbagai aktivitas alih fungsi hutan yang semakin masif  telah memberikan dampak bagi populasi Tangkuhis di alam liar. Sulitnya menemukan buah-buahan lokal termasuk Tangkuhis telah dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan misalnya di Kabupaten Kapuas¹. 

Lengkeng Hutan Kalimantan
Buah Tangkuhis/ Mata Kucing (Dimocarpus longan ssp malesianus var malesianus)
Buah Tangkuhis yang secara umum hanya diperjualbelikan di pasar lokal dan hanya pada musim tertentu membuat tanaman ini belum cukup populer sehingga cenderung kalah dengan buah impor atau buah lain yang hampir tersedia sepanjang tahun. Selain itu kecendurungan masyarakat untuk lebih memilih mencari buah ini dihutan saat ketika musimnya tiba juga menjadi salah satu faktor belum banyaknya budidaya Mata Kucing khususnya di Kalimantan. 

Namun seiring waktu sulitnya menemukan buah yang punya cita rasa manis dan menyegarkan ini, serta mulai digaungkannya gerakan peduli buah-buahan lokal termasuk melalui program Peduli Jantung Borneo (PJB), masyarakat mulai tertarik untuk melakukan budidaya. Upaya budidaya buah lokal termasuk Tangkuhis dengan perbanyakan baik melalui biji, okulasi maupun cangkok bahkan telah dilakukan di beberapa tempat seperti Muara Teweh sejak beberapa tahun lalu². 

Pohon Tangkuhis terbilang besar, dengan tinggi dapat mencapai 40 meter dan diameter batang sekitar 1 meter. Daunnya rimbun dan merupakan daun majemuk dengan bentuk anak daun bulat memanjang. Umumnya berbunga setahun sekali, bunga terletak di ujung (flos terminalis) berbentuk payung menggarpu dengan warna kuning kecoklatan.  

Secara tekstur buah dan biji Tangkuhis tidak jauh berbeda dengan lengkeng, namun jika diamati pada bagian kulitnya akan terlihat perbedaan lebih jelas. Jika pada lengkeng kulitnya polos/ licin dan berwarna kuning-kecoklatan, maka kulit buah Tangkuhis memiliki semacam bintil atau tidak licin, warnanyapun berbeda yakni hijau-kekuningan. 

Barangkali belum banyak yang mengetahui kalau selain buahnya yang banyak digemari, ternyata tanaman Tangkuhis juga memiliki banyak manfaat lain. Batang pohonnya misalnya, cukup baik digunakan sebagai bahan bangunan atau perkakas rumah tangga. Tidak hanya itu biji, bunga, daun dan buahnya juga berpotensi untuk digunakan sebagai obat karena kandungan quercetin dan quercitrin nya. 

Quercetin adalah sejenis antioksidan flavonoid yang ditemukan dalam makanan nabati, termasuk sayuran hijau, tomat, buah beri, dan brokoli. Menurut sebuah studi makanan anti-peradangan yang mengandung quercetin dapat membantu mengelola sejumlah masalah kesehatan peradangan, termasuk penyakit jantung dan masalah pembuluh darah, alergi, infeksi, kelelahan kronis, dan gejala yang berkaitan dengan gangguan autoimun seperti radang sendi

Beberapa manfaat Quercetin antara lain ;
  1. Mengurangi peradangan
  2. Mencegah alergi
  3. Mendukung kesehatan jantung (mengurangi risiko aterosklerosis)
  4. Melawan kanker
  5. Meningkatkan daya tahan tubuh
  6. Menjaga kesehatan kulit
Tanaman Tangkuhis memang memiliki banyak potensi yang sayang untuk diabaikan. Segudang potensinya ini tentu hanya akan menjadi sebuah cerita jika spesies ini hilang atau punah, oleh karena itu sudah sepantasnya kita khususnya masyarakat asli Kalimantan memberikan perhatian lebih. Dengan maraknya penebangan hutan dan alih fungsi lahan, kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan alam, oleh karena itu perlu upaya budidaya dan perbanyakan. Tangkuhis dapat diperbanyak dengan cara  generatif ataupun vegetatif. Secara generatif dapat dilakukan dengan menyemai atau menanam bijinya. Sedangkan teknik vegetatif dapat dilakukan dengan mencangkok atau okulasi.

Bagi sahabat yang tertarik ikut dalam upaya konservasi tanaman buah Kalimantan bisa bergabung bersama kami. Caranya mudah yakni cukup dengan donasi Rp 50 ribu, kamu bisa menjadi pengasuh (adopter) pohon buah yang dikehendaki. Cara menjadi adopter dan jenis-jenis pohon buah yang bisa kamu adopsi bisa dilihat klik link halaman ini Adopsi Pohon Buah Kalimantan.

Mari Bersama Jaga Jantung Borneo Kita!

¹https://www.antaranews.com/berita/149651/buah-buahan-dari-hutan-kapuas-mulai-langka
²https://www.antaranews.com/berita/448038/tanaman-buah-langka-kalimantan-dibudidayakan-di-barito-utara
Share:

Selasa, 19 November 2019

Melirik Matoa Buah Khas dari Papua

www.bambofoundation.org- Berbicara tanaman Matoa (Pometia pinnata) barangkali pikiran kita akan melesat jauh ke tanah Papua. Hal ini cukup beralasan lantaran Matoa memang telah ditetapkan sebagai flora identitas (maskot) Papua Barat. Alasan lain yang membuat tanaman ini seolah identik dengan bumi Papua adalah karena tanaman ini hampir dapat dijumpai di seluruh wilayah dataran rendah hingga ketinggian ± 1200 m dpl di tanah Papua.
Menanam buah matoa
Bibit Matoa yang di tanam di Kalimantan
Namun status buah khas Papua yang melekat padanya kerap kali mengecoh dan membuat orang beranggapan bahwa tanaman ini hanya tumbuh di Papua, padahal tanaman yang masih satu keluarga dengan rambutan ini sesungguhnya juga bisa ditemukan dibeberapa daerah lain. Matoa tumbuh tersebar mulai dari Sri Lanka dan Kepulauan Andaman melalui Asia Tenggara, sampai Fiji dan Samoa. Di Indonesia Matoa juga terdapat di beberapa daerah seperti di Sulawesi, Maluku, Jawa, Kalimantan, Malaysia dan Papua Nugini.
matoa dari kalimantan
Buah Matoa (Pometia pinnata)

Belakangan, buah Matoa yang semakin populer membuat banyak pecinta buah membudidayakannya. Sehingga diprediksi, tanaman Matoa sudah bisa di jumpai hampir di seluruh Indonesia. Tanaman ini dapat dengan mudah diperbanyak dengan cara generatif ataupun vegetatif. Secara generatif dapat dilakukan dengan menanam bijinya. Pada kondisi yang cocok, biji Matoa yang disemai akan berkecambah dalam hitungan hari atau minggu. Sedangkan perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cangkok atau okulasi. Namun, mengingat Matoa adalah tumbuhan yang tingginya dapat mencapai hingga puluhan meter dengan diameter batang lebih dari 1 meter, maka sebaiknya jangan di tanam terlalu dekat dengan rumah apalagi hasil perbanyakan dengan cangkok karena berisiko tumbang.

Tanaman matoa termasuk tanaman non klimaterik yang berarti tanaman yang tak bisa dipanen muda karena pematangan buah akan berhenti setelah dipetik. Dengan kata lain, matoa tidak bisa diperam seperti halnya buah lain semisal pisang, cempedak, atau mangga. Buah matoa kaya vitamin C dan E, namun memiliki kandungan glukosa jenuh. Vitamin C bermanfaat sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas dan meningkatkan daya tahan tubuh. Vitamin E dapat membantu meringankan stres, memberikan nutrisi pada kulit, dan meminimalisasi risiko terserang penyakit kanker dan jantung koroner.

Manfaat lainnya dari tanaman ini adalah batang dan kulit pohonnya. Batang Matoa dapat digunakan sebagai bahan bangunan misalnya untuk papan lantai, serta untuk perabot rumah tangga. Sedangkan kulit pohon berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pestisida alami. 
Share:

Jumat, 15 November 2019

Nasib Ikan Bendera (Chromobotia macracanthus) Semakin Langka

www.bambofoundation.org- Ikan Botia Macan (Chromobotia macracanthus) atau yang bagi masyarakat Kalimantan Tengah juga dikenal dengan sebutan Ikan Kakari atau Bendera adalah jenis ikan dari keluarga Botiidae. Ikan yang juga dikenal dengan nama Clown Loach ini merupakan satu-satunya anggota genus Chromobotia. Kita patut berbangga karena ikan ini adalah ikan asli Indonesia yang berasal dari perairan yakni pedalaman pulau Sumatra dan Kalimantan.
Ikan bendera
Ikan Botia atau dikenal juga dengan Ikan Bendera (Chromobotia macracanthus)

Di alam ikan ini relatif dapat dengan mudah kita bedakan dengan jenis ikan lain karena penampilannya yang khas. Warna yang dominan terdapat pada tubuhnya adalah hitam, kuning dan oranye. Ada semacam tiga warna hitam vertikal (di bagian punggung agak lebar dan menyempit ke arah perut). Pada bagian sirip dada, perut dan ekor berwarna oranye kemerahan dengan sedikit kombinasi warna hitam untuk jenis Botia yang hidup di Kalimantan, sedangkan Botia Sumatera seluruhnya cenderung hanya oranye kemerahan. Ciri lainnya dari Ikan Botia Macan atau Ikan Bendera ini adalah terdapat semacam duri atau tanduk di dekat matanya yang diduga berfungsi sebagai alat pertahan atau mungkin juga untuk menangkap mangsa. 

Ikan Bendera atau tiger botia adalah salah satu ikan hias air tawar yang cukup digemari. Bahkan menurut beberapa sumber sekitar tahun 2000-an ikan ini pernah di eksploitasi besar-besaran di mana anak ikan ini dihargai sekitar 100-500 rupiah per ekor. Pada saat itu diperkirakan ada ribuan ikan yang dijual kepada para pengumpul untuk dijual lagi. Ketika itu pemburu ikan Bendera dapat dengan mudah mengumpulkan ikan ini dengan menggunakan pasat  tepat pada saat musim ikan mudik atau disebut juga "agas". 

Kini keberadaan ikan Botia atau ikan Bendera sudah mulai sulit ditemukan. Meskipun  data Red List IUCN belum mencantumkan status konservasi untuk ikan ini, namun dari penuturan masyarakat khususnya yang ada di Kalimantan, mengindikasikan bahwa kini ikan ini telah semakin langka. Potensi ikan ini sebagai ikan hias akuarium memang sangat menggiurkan, namun ada baiknya eksploitasinya tetap di jaga dan dibatasi. Salah satu solusinya adalah dengan mengkaji dan mempelajari cara perkembangbiakannya sehingga dapat dibudidayakan sebagai salah satu ikan komersil. 

Tidak kalah penting dalam menjaga kelestarian ikan termasuk ikan Bendera ini adalah dengan berlaku lebih arif dan bijak terhadap alam. Pencemaran sungai dengan sampah, khususnya sampah plastik dan limbah serta cara-cara penangkapan ikan ilegal dengan racun dan arus listrik (setrum) adalah ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem perairan tidak terkecuali ikan. Mari lebih Peduli Jantung Borneo.
Share:

Mengenal Moonrat Si Tikus Bulan

www.bambofoundation.org- Kehidupan malam di hutan-hutan Kalimantan ternyata tidak kalah ramai dengan aktivitas siang harinya. Jika siang hari lantai-lantai hutan diisi oleh hewan-hewan  diurnal, maka malam hari giliran para nokturnal yang beraksi. Lantai hutan misalnya, relung yang sama yang ditempati bajing tanah pada siang hari akan di isi oleh salah satu hewan unik yang sekilas menyerupai tikus putih raksasa ketika malam tiba.

Moonrat Borneo
Tikus Bulan (Moonrat )
Moonrat atau Tikus Bulan (Echinosorex gymnura), memang sepintas mirip tikus besar sebagai mana namanya "rat", namun hewan yang biasanya hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan ini bukanlah termasuk famili Rodentia atau tidak berkerabat dekat dengan tikus atau hewan pengerat, melainkan termasuk kedalam famili Erinaceidae atau lebih dekat dengan landak. Moonrat merupakan satu-satunya hewan yang berada di dalam genus Echinosorex.
Moonrat borneo
Tikus Bulan Kalimantan (Echinosorex gymnura alba)
Di Kalimantan Moonrat yang biasa dijumpai adalah subspesies alba (Echinosorex gymnura alba). Tikus Bulan ini memiliki rambut  dominan putih kekuningan dan hanya sedikit yang berwarna gelap (hitam atau coklat) yang menutupi tubuhnya. Rambut yang berwarna gelap ini terdapat pada sekitar belakang kepala hingga punggung. 
Tikus Bulan memakan serangga seperti kecoak, cacing dan terkadang juga siput, ikan dan katak walaupun kadang-kadang dia juga memakan buah-buahan. Indera penciumannya berkembang sangat baik sehingga dapat dengan mudah menemukan makanan atau mangsa meski di malam hari yang gelap. Sebaliknya, bau khas menyengat yang mengandung amonia adalah "senjata" ampuh untuk menghindarkan diri dari berbagai predator. Bau khas ini juga berfungsi sebagai penanda wilayah dan memperingati moonrat lainnya.
makanan tikus bulan
Tikus Bulan/ moonrat putih
Walaupun di hutan-hutan Moonrat atau tikus bulan adalah hewan liar, namun pada beberapa kasus ia cenderung tidak takut terhadap kehadiran manusia. Pada beberapa kasus, hewan ini bahkan berani mendatangi sumber makanan dan melakukan kontak dengan manusia yang rumahnya dekat dengan hutan. 

Moonrat adalah hewan unik asli Asia Tenggara yang hanya ditemukan di beberapa daerah seperti wilayah hutan di Myanmar selatan, Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, dan Sumatra. Khusus untuk Echinosorex gymnura alba atau Tikus Bulan putih mungkin hanya ditemukan di Kalimantan. 

Ancaman utama terhadap moonrat adalah kegiatan deforestasi karena pembangunan manusia untuk pertanian, perkebunan, dan pembalakan komersial. Menjaga hutan Borneo (Kalimantan) adalah tanggung jawab bagi setiap elemen masyarakat, karena tidak hanya merupakan habitat bagi flora dan fauna tetapi juga jantung bagi kehidupan Kalimantan secara umum, termasuk manusia. Mari dukung Program Peduli Jantung Borneo (PJB) Yayasan Baraoi Mutiara Borneo mengampanyekan "Save Jantung Borneo". 
Share:

Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah- Indonesia 74459