Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah - Indonesia 74459

Rabu, 21 Desember 2022

Guest House Ala Huma Betang di Taman Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Pada dasarnya tujuan kehadiran Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) adalah untuk mendukung dan menjadi katalisator bagi perubahan-perubahan positif ditengah masyarakat Indonesia, khususnya di area lingkup kerja yayasan. Sehingga hasil akhirnya yang diharapkan dari buah perubahan tersebut tidak lain adalah untuk sebesar-besarnya manfaat khalayak terutama warga sekitar.

Guest House Tumbang Baraoi
Progress Pembangunan Guest House Ala Rumah Betang
di Taman Suluh Pambelum, Desa Tumbang Baraoi, Kec. Petak Malai

Oleh karena itu, ketika Bpk Camat Petak Malai menyampaikan gagasan untuk membangun sebuah Guest House di areal Taman Suluh Pambelum mendekati akhir tahun 2022 lalu, pendiri Bambo Foundation menyambut baik ide tersebut. Memegang prinsip sebagai NGO, pihak yayasan tentu juga tidak terbesit untuk mengambil keuntungan biaya ganti lahan seluas 20x20m persegi yang akan dimanfaatkan untuk proyek. Bagaimanapun, pembangunan ini tentu adalah bagian dari perubahan-perubahan yang diyakini positif dan akan semakin membawa kemajuan di Desa Tumbang Baraoi, selaku ibukota kecamatan. 

Pembangunan Guest House di Petak Malai

Mengusung konsep ala Huma Betang atau Rumah Betang, Guest House yang terletak di sisi Utara kawasan taman sedang dalam proses pengerjaan saat tulisan ini dirilis. Meski sudah mencapai progress sekitar 50 persen, proyek ini terbilang kurang lancar karena berbagai kendala. Salah satu kendala yang memang tidak bisa dikompromi adalah kendala alam dan kondisi topografi areal pembangunan. 

Lokasi bangunan yang berada di lereng bukit menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksana proyek, belum lagi  masalah akses atau transportasi kelokasi juga turut menjadi hambatan. Di tengah-tengah progress pembangunan jembatan yang menjadi penghubung satu-satunya jalan darat sempat ambruk dan terputus. Padahal, sarana ini sangat penting untuk mobilisasi angkutan bahan atau material proyek. Meski diupayakan sesegara mungkin, pembangunan kembali jembatan Sei Tapi membutuhkan waktu berminggu-minggu  sebelum dapat digunakan kembali. 

Berdasarkan observasi lapangan, bangunan Guest House yang dananya bersumber dari APBD Kab. Katingan ini memiliki tiga kamar yang mungkin akan digunakan untuk menjamu tamu pemerintahan yang sedang dinas atau menghadiri kegiatan di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan. 

Bagi Taman Suluh Pambelum tentunya kehadiran Guest House ini diharapkan dapat mendukung visi dan misi awal sesuai dengan konsep Taman Biodiversitas yang mana salah satunya adalah sebagai area rekreasi berbasis lingkungan. Sebagai langkah kongkrit kolaborasi yang bisa realisasikan misalnya dalam menata dan menjaga areal taman atau pengadaan sarana penunjang seperti lahan parkir, pengadaan tempat sampah dan atau gazebo. 


Share:

Kamis, 15 Desember 2022

Taman Suluh Pambelum Terima Peserta Kegiatan Persami Gabungan

www.bambofoundation.org - Selaras dengan salah satu tujuan Taman Suluh Pambelum yakni menjadi tempat edukasi dan sosialisasi dalam rangka menumbuhkan semangat peduli terhadap lingkungan, Bambo Foundation sangat welcome terhadap masyarakat yang ingin berkunjung dan memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan. Tentunya selama aktivitas yang dimaksud adalah yang positif dan ramah serta bersahabat dengan lingkungan. 
Kegiatan persami di Taman Suluh Pambelum

Beberapa waktu lalu, Taman Suluh Pambelum Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) menerima peserta kegiatan Persami (perkemahan Sabtu-Minggu) gabungan SMPN Satap 3 Sanaman Mantikei dan SMAN 1 Petak Malai yang akan menggunakan area Camping Ground yang telah disediakan. Sesuai dengan namanya aktivitas ini dilaksanakan selama dua hari yakni Sabtu - Minggu (26-27 November 2022) lalu. 
Belajar Sandi Kotak
Camping Ground Taman Suluh Pambelum adalah area khusus yang disediakan untuk mendirikan tenda. Karena luas taman sendiri yang masih sangat terbatas, tempat ini sementara hanya bisa menampung sekitar  8-10 tenda berukuran sedang. Lokasi ini pertama kali digunakan pada saat kegiatan Kemah Bakti Literasi yang di adakan pada Agustus 2022 lalu. 

Acara Hiburan Persami

Karena terbilang baru maka tidak dipungkiri fasilitas di kawasan ini masih terbilang sangat minim. Selain tempat mandi terbuka dan toilet umum, belum ada fasilitas lain yang biasanya wajib tersedia di area camping. Salah satu yang vital misalnya adalah tempat sampah, untuk sementara tempat sampah hanya disediakan kantong-kantong sampah darurat selama kegiatan padahal sejatinya harus tersedia tempat sampah permanen atau semi permanen. Begitupula dengan penerangan sebagai salah satu fasilitas utama juga belum tersedia. Solusi sementara penerangan selama kegiatan menggunakan sumber listrik dari Aki (Accu).

Fasilitas Camping Ground Taman Suluh Pambelum

Keterbatasan fasilitas ini tentu saja lantaran terbatasnya anggaran untuk pengadaannya. Adapun pembangunan beberapa fasilitas yang sudah ada selain berasal dari donasi masyarakat juga dibantu dari dana swadaya pengurus dan relawan. 
Suasana Camping Ground Taman Suluh Pambelum

Namun demikian, kekurangan ini secara umum tidak memengaruhi antusias dan semangat peserta yang terdiri dari 22 siswa-siswi usia pendidikan SMP dan SMA yang melaksanakan  kegiatan persami kali ini. Terbukti senyum ceria selalu tersungging di wajah-wajah energik mereka selama proses kegiatan. Bahkan beberapa siswa merasa kegiatan yang digelar dua hari ini masih terasa sangat singkat dan berharap segera dapat mengikutinya kembali di tahun 2023 mendatang. 

Suasana Taman yang masih terbilang asri dengan beberapa pepohonan alami menjadi tempat yang pas bagi mereka untuk bersantai selama momen istirahat baik menggunakan ayunan (hammock) maupun hanya sekedar menikmati seduhan hangat teh atau kopi di panggung sederhana. 
Share:

Senin, 29 Agustus 2022

Peserta Kemah Bakti 2022, Tanam Pohon di Taman Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Kemah Bakti Literasi se Kecamatan Petak Malai tahun 2022 yang di gelar di area Camping Ground Taman Suluh Pambelum akhirnya sukses terselenggara. Acara tahunan Program Yayasan Bambo bidang Pendidikan ini dihelat selama tiga hari yakni Senin-Rabu (22-24 Agustus 2022) lalu dengan di ikuti empat tim perwakilan dari delapan perwakilan yang seharusnya hadir. 

Bibit Baccaurea macrocarpa

Selain berbagai agenda kegiatan perkemahan yang diadakan untuk mengasah kemampuan literasi, perkemahan ini juga mengusung kegiatan bakti sosial salah satunya yaitu tanam pohon. Pada kesempatan kali ini peserta perekemahan secara simbolis melakukan penanaman empat jenis tanaman di Taman Suluh Pambelum.

Bibit Buah Lokal Kalteng

Adapun jenis-jenis pohon yang ditanam adalah Durian merah (Durio dulcis), Kapul (Baccaurea macrocarpa), Mangga (Mangifera indica), dan Jambu biji (Psidium guajava). Beberapa diantara bibit ini merupakan hasil semai biji dan beberapa diantaranya hasil cangkok. 

Kegiatan menanam pohon sangat penting diperkenalkan dan dibiasakan dikalangan anak-anak sebagai generasi penerus. Karena saat ini negara kita boleh jadi tidak kekurangan orang pintar, namun semakin minim orang-orang yang sungguh-sungguh peduli terutama terhadal lingkungan. Sebagaimana pepatah lama "Tak kenal maka tak sayang", maka dengan memperkenalkan dunia kecintaan terhadap lingkungan salah satunya dengan menanam pohon diharapkan generasi-generasi masa depan ini akan memiliki kecintaan dan kepedulian terhadap alam. 

Tak dapat disangkal, fakta telah berbicara bahwa bumi kondisi bumi saat ini tidak sedang baik-baik saja. Pencemaran dan perubahan iklim akibat efek rumah kaca semakin mengkhawatirkan. Oleh karena itu, selain dengan upaya menekan gas emisi maka cara lain adalah dengan memperbanyak penyerap alami polutan itu sendiri yang tidak lain salah satunya adalah pohon-pohon dan tanaman hijau. Dengan demikian meski tidak dapat menghentikan sepenuhnya, setidaknya kita telah andil untuk mengurangi bahaya yang disebabkan oleh pemanasan global.


Share:

Sabtu, 25 Juni 2022

Manfaat dan Kandungan Artocarpus dadah

www.bambofoundation.org - Artocarpus merupakan marga (genus) tumbuhan yang setidaknya mencakup setidaknya 50 jenis (spesies). Walaupun tidak semuanya populer, pohon-pohon yang sebagian besar penghasil buah ini juga telah cukup dikenal di masyarakat. Jenis-jenis yang sudah umum terutama karena dimanfaatkan buahnya  antara lain Nangka (Artocarpus heterophyllus), Cempedak (Artocarpus integer), Sukun (Artocarpus altilis) dan Keledang (Artocarpus lanceifolius). 


Manfaat artocarpus dadah

Selain terkenal karena pada umumnya menghasilkan buah-buah yang edibel dengan rasa yang enak beberapa jenis tumbuhan dari Genus Artocarpus juga dikenal sebagai penghasil kayu yang berkualitas baik. Kayu-kayu ini banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti bahan bangunan dan perabot rumah tangga. 

Artocarpus dadah Miq. adalah salah satu dari marga Artocarpus yang memiliki beberapa kelebihan tidak hanya buahnya dapat dimakan dan kayunya berkualitas baik tetapi juga memiliki kandungan yang berpotensi sebagai promotor antitumor, antibakteri, antifungal, antiimflamatori, dan antikanker. 

Tanaman Artocarpus liar

Kendati buahnya berukuran kecil dan tidak dapat dibandingkan seperti halnya Sukun ataupun Nangka, akan tetapi tumbuhan ini merupakan sumber utama senyawa turunan fenolik yaitu senyawa flavon di atau tri-oksigenasi dan terisoprenilasi pada posisi C-3, dan juga dikenal sebagai sumber utama senyawa fenolik turunan flavonoid, aril-benzofuran, stilbenoid dan santon turunan flavonoida, yang memiliki aktivitas biologi sebagai promotor antitumor, antibakteri, antifungal, antiimflamatori, dan antikanker sbeagaimana dikutip dari Neliti.com maka potensi tanaman ini tentu tidak boleh diabaikan. 

Jenis  Artocarpus

Sebagaimana kebanyakan Artocarpus lainnya, Artocarpus dadah juga merupakan tanaman pohon lebat yang dapat tumbuh setinggi hingga 35 m, dengan ranting-ranting yang tertutup rapat dengan rambut pendek, kekuningan hingga coklat kemerahan. Buahnya berkulit halus, agak bulat atau lonjong, sewaktu muda berwarna hijau pucat dan berubah kekuningan ketika matang,  lebar buah 2,5-8,9 cm.  Daging buah berwarna merah muda  dengan bagian tengah berwarna lebih pucat dan bergetah.

Persebaran Artocarpus dadah meliputi Myanmar, Thailand, Sumatra, Semenanjung Malaysia, Singapura, dan Kalimantan.



Share:

Selasa, 14 Juni 2022

Persiapan Area Apotik Hidup Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Tidak disangkal kawasan yang saat ini terus dirintis agar dapat memenuhi unsur-unsur sehingga layak membuatnya disebut kawasan Taman Biodiversitas memang masih jauh dari luasan minimum yang dibutuhkan. Dengan areal yang relatif sempit ini tentu saja membuat perencanaannya menjadi tidak mudah. Di satu sisi sesuai namanya taman biodiversitas menuntut keberagaman, padahal faktanya semakin tinggi keberagaman yang diinginkan maka semakin besar pula Space  yang harus disediakan. 

Apotik Hidup Taman Suluh Pambelum

Upaya mengumpulkan spesimen hidup untuk melengkapi keberagaman khususnya tanaman yang memiliki potensi besar dan tingkat ancaman yang tinggi di habitatnya juga tidak bisa dikatakan  mudah, namun jika dibandingkan upaya perluasan areal yang jelas berhubungan langsung dengan pendanaan tanpa adanya bantuan pihak ketiga benar-benar seperti "pungguk merindukan bulan". 
Apotik Hidup di Katingan

Kendati demikian tentu saja Yayasan Baraoi Mutiara Borneo tidak berpangku tangan. Ibarat pepatah "Proses tidak akan mengkhianati hasil", yayasan bersama relawan tetap senantiasa bekerja dan memberikan buah pikiran sebaik mungkin untuk mendukung upaya konservasi yang tujuannya tidak lain adalah untuk kemaslahatan umat manusia itu sendiri.

Beberapa waktu lalu, yayasan bersama relawan mengadakan giat bakti membersihkan lahan di sekitar area penanaman pohon buah lokal. Area yang tidak seberapa luas ini merupakan tanah kosong yang hanya ditumbuhi semak belukar. Ke depan rencannya lahan yang sedikit ini akan diperuntukan untuk menanam berbagai tumbuhan berkhasiat obat baik yang sudah cukup umum maupun tanaman yang berasal dari daerah sekitar.  

Sebagaimana diketahui Kecamatan Petak Malai lokasi Taman Biodiversitas Suluh Pambelum berada merupakan daerah yang mana sebagian penduduknya masih menggunakan bahan-bahan obat tradisional di antaranya yang sudah dikenal antara lain Pasak Bumi, Saluang Belum dan Ginseng. 

Ironisnya, tanaman berkhasiat obat yang dulu dapat dengan mudah mereka jumpai hanya dengan berjalan kaki beberapa langkah di belakang rumah kini sudah semakin sulit ditemui. Setidaknya mereka harus pergi ke hutan di sekitar desa atau ke desa tetangga untuk mendapatkannya. Tak heran, karena semakin sulitnya menemukan tanaman yang dimaksud ditambah lagi dengan semakin berkembangnya obat-obatan pabrikan hanya para tetua yang mengenal dan masih memanfaatkannya. Sedangkan bagi generasi muda, yang mengenalnya saja sudah dapat dihitung dengan jari lebih-lebih menggunakannnya. 

Oleh karena itu diharapkan dengan adanya area Apotik Hidup ini nantinya selain dapat berfungsi sebagai upaya konservasi juga dapat menjadi sarana edukasi untuk memperkenalkan kembali tanaman obat-obat tradisional khususnya kalangan remaja. Dengan demikian di masa mendatang tidak mustahil jika penggunaan tanaman obat tradisional yang diyakini jauh lebih ramah bagi tubuh ini akan kembali meningkat. 

Share:

Minggu, 12 Juni 2022

Alih Fungsi Lahan Ancam Puyuh Sengayan

www.bambofoundation.org - Tidak banyak yang tahu bahwa di lantai hutan tropis dataran rendah dan perbukitan Kalimantan termasuk di sekitar  area Taman Biodiversitas Suluh Pambelum Kecamatan Petak Malai, Kab. Katingan Kalimantan Tengah terdapat spesies burung eksotis yang memesona. Masyarakat setempat menamainya burung "Siau" yang secara umum dikenal dengan Burung Puyuh Sengayan. 

Puyuh Sengayan
Burung Puyuh Sengayan (Jantan)

Puyuh Sengayan atau Puyuh Jambul dengan lama ilmiah Rollulus rouloul merupakan sejenis burung puyuh kecil dengan panjang dapat mencapai 25 cm. Ciri khas yang dapat dikenali dari hewan ini adalah adanya kulit berwarna kemerahan di sekitar mata dan adanya jambul atau bulu tegak di atas kepalanya. Burung jantan memiliki warna biru-keunguan mengkilap, paruh berwarna hitam-merah, dan dahi berwarna putih, serta jambul yang berdiri tegak seperti sikat. Sedangkan yang betina kepala dan jambul pendek berwarna abu-abu, sayap kecokelatan dan bulu berwarna hijau serta berukuran lebih kecil dibandingkan jantan.

Walaupun tergolong bangsa Aves, jenis burung ini lebih banyak menghabiskan waktunya di lantai hutan untuk mencari makan. Selain memakan biji-bijian termasuk padi, ia juga memakan beberapa jenis buah yang jatuh di tanah dan beberapa jenis hewan kecil. Burung Siau tersebar di Asia Tenggara meliputi Thailand, Mayanmar, Semenanjung Melayu, Sumatera dan Kalimantan. 

Salah satu sifat uniknya burung ini adalah ia termasuk hewan yang cenderung untuk bersikap setia pada pasangannya (monogami). Meski dalam berkembang biak betina dapat menghasilkan sekitar 5 butir telur, namun maraknya alih fungsi hutan untuk berbagai kepentingan manusia perlahan namun pasti semakin mengancam populasi spesies ini. 

Sifat monogami barangkali juga menjadi perihal penyebab semakin cepatnya penurunan Puyuh Sengayan, karena bagaimanapun menangkap salah satu pasangan akan berdampak bagi salah satu yang lainnya karena sifat mereka yang hidup dan kawin hanya dengan satu pasangan tetap.

Puyuh Sengayan dievaluasikan sebagai berisiko hampir terancam di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix III. Appendix III merupakan lampiran yang memuat daftar spesies tumbuhan dan satwa liar yang telah dilindungi di suatu negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan memberikan pilihan (option) bagi negara-negara anggota CITES bila suatu saat akan dipertimbangkan untuk dimasukkan ke Appendix II, bahkan mungkin ke Appendix I.



Share:

Selasa, 26 April 2022

Mengenal Kerumbai Merah Endemik Kalimantan di Taman Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Buah unik lainnya yang tumbuh secara alami di Taman Suluh Pambelum, Kecamatan Petak Malai, Kalimantan Tengah adalah "anggur mini" atau Sarcotheca macrophylla. Di kenal juga dengan nama lain kerumbai merah, buah tanaman dari famili  Oxalidaceae ini tampak meng"anggur" yaitu melekat pada tangkai buah secara bergerombol dari atas kebawah seperti untaian anggur.
kerumbai merah

Warna merah cerah dan ukurannya yang mini berasal dari bunga yang pernyerbukannya seringkali dibantu serangga khususnya serangga Trigona. Oleh karena itu bagi peternak Trigona tanaman ini bisa jadi alternatif sumber nektar bagi peliharaan mereka. 

Selain menjadi makanan beberapa hewan liar, seperti bajing, burung dan beberapa jenis hewan lainnya, Kerumbai merah juga kerap kali dikonsumsi oleh anak-anak sekitar sebagai panganan liar. Rasanya yang cenderung kecut membuat anak-anak sering mengkonsumsinya seperti rujak yakni dengan tambahan garam atau penyedap rasa. Buah-buah ini biasanya dikumpulkan saat mereka bermain dipinggiran hutan, bersama buah-buah hutan liar lainnya seperti Suli, rambusa, dan salak hutan. 

Selain pemanfaatan buah untuk konsumsi, dilansir dari laman https://repository.ipb.ac.id, buah ini juga dimanfaatkan untuk sampo khususnya bagi masyarakat daerah Kutai Barat. Selain itu, data tentang tumbuhan dan pemanfaatan secara luas masih sangat terbatas. 


Share:

Kamis, 21 April 2022

Pembangunan "Titian" Untuk Keperluan Akses Air

www.bambofoundation.org - Di kawasan yang kami bangun untuk areal taman biodiversitas Suluh Pambelum terdapat sejenis parit atau sungai kecil yang bermuara pada Sungai Baraoi. Namun sayangnya sungai ini relatif stagnan atau hanya mengalir jika ada hujan. Sebab sumber air dari hulunya sangat minim dan terdapat bekas material jembatan kecil/ gorong-gorong yang seolah menyekatnya sehingga pada keadaan normal seolah membendung aliran dan hanya akan dapat dilalui jika debitnya melimpah sehabis hujan atau ketika debit sungai induknya sedang tinggi. 

alternatif mendapatkan air

Karena lebih banyak stagnan air cenderung kurang jernih yang bisa jadi akibat akumulasi zat yang dikeluarkan oleh akar-akar tanaman atau sisa pembusukan bahan organik seperti kayu dan dedaunan.  Namun demikian air ini masih relatif layak dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari selain untuk konsumsi. 

Untuk Mendukung aktivitas di "Pondok Kerja" Taman Suluh Pambelum yang secara fisik boleh dikatakan hampir elesai, maka keperluan dasar seperti air adalah "PR" kami berikutnya. Umumnya suplai air di daerah ini bergantung pada air tanah atau menggunakan sumur bor. Akan tetapi pengadaan sumur bor ini memerlukan biaya sehingga masih belum memungkinkan untuk diaplikasikan. 

Dua keperluan dasar air yang paling urgent adalah untuk keperluan toilet dan penyiraman bibit buah yang telah ditanam. Meskipun saat ini sarana toilet masih diupayakan, namun keperluan air untuk penyiraman tanaman akan sangat penting terutama jika terjadi rangkaian hari tanpa hujan berturut-turut selama beberapa hari atau bahkan lebih sepekan. Tanpa penyiraman, bibit-bibit yang baru saja di tanam di mana kondisi akarnya masih dalam proses pertumbuhan akan kekeringan jika kekurangan air. Untuk itu pengadaan akses air ini "mutlak" dibutuhkan.

Peringatan jangan buang sampah

Kedepan sungai kecil ini juga direncanakan untuk dibersihkan dan dirapikan sehingga bisa menjadi nilai tambah bagi daya tarik dan keindahan Taman Suluh Pambelum. Untuk itu kami berharap agar seluruh masyarakat khususnya yang berada disekitar areal agar dapat sama-sama menjaga kebersihannya terutama dengan tidak membuang sampah ke sungai dan sekitarnya. 

Share:

Senin, 03 Januari 2022

Uniknya Hewan krepuskular yang aktif diwaktu peralihan siang-malam

www.bambofoundation.org - Istilah diurnal untuk hewan yang aktif pada siang hari dan nokturnal bagi hewan yang aktif dimalam hari mungkin sudah cukup familiar, contoh hewan-hewan di urnal misalnya ayam, beberapa jenis burung, dan mamalia yang aktif di siang hari, sedangkan contoh hewan nokturnal misalnya tikus, kelelawar, burung hantu, dan tikus bulan (moon rat) seperti pada gambar. Namun selain dua istilah tersebut masih ada kelompok hewan yang ternyata cenderung beraktivitas di waktu peralihan yakni antara siang dan malam atau ketika cahaya remang-remang. Waktu peralihan ini tidak hanya mencakup pergantian antara siang dan malam tetapi juga dini hari. Kelompok hewan tersebut dikatagorikan hewan krepuskular. 

Contoh hewan nokturnal

Hewan Krepaskular adalah hewan yang aktifitas utamanya berlangsung pada kondisi cahaya remang-remang termasuk cahaya matahari yang dipantulkan oleh bulan pada malam hari. Walaupun aktivitasnya pada cahaya remang-remang pada sebagian jenis hewan tersebut hanya aktif pada senja hari, dan sebagian lagi aktif hanya pada dini hari. Contohnya spesies matutinal (atau "matinal") adalah hewan yang aktif secara signifikan pada waktu dini hari sedangkan "vespertine" merupakan hewan-hewan yang aktifitasnya dominan ketika senja hari saja.

Contoh hewan krepaskular misalnya untuk mamalia adalah sigung, hamster, kucing liar, tikus, musang dan mencit sedangkan untuk contoh serangga yang tergolong krepaskular sebenarnya ada banyak sekali namun yang cukup populer misalnya seperti kunang-kunang, ngengat dan beberapa jenis kumbang tertentu. 

Bagi hewan mangsa penyebab hewan-hewan tersebut lebih aktif pada waktu peralihan di antaranya adalah untuk menghindari predator atau pemangsa. Sedangkan bagi beberapa jenis spesies tertentu yang mangsanya adalah hewan krepaskular mungkin akibat dorongan insting mendapatkan makanan.

Tidak hanya berkaitan dengan pemangsa, adanya kecenderungan suatu spesies menjadi krepaskular nampaknya juga berkaitan dengan faktor lingkungan seperti cuaca ekstrim misalnya di daerah gurun. Beberapa jenis kadal dan ular hanya keluar pada waktu-waktu peralihan untuk menghindari cuaca yang sangat ekstrim di kawasan tersebut. 



Share:

Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah- Indonesia 74459