Selasa, 19 November 2019

Melirik Matoa Buah Khas dari Papua

www.bambofoundation.org- Berbicara tanaman Matoa (Pometia pinnata) barangkali pikiran kita akan melesat jauh ke tanah Papua. Hal ini cukup beralasan lantaran Matoa memang telah ditetapkan sebagai flora identitas (maskot) Papua Barat. Alasan lain yang membuat tanaman ini seolah identik dengan bumi Papua adalah karena tanaman ini hampir dapat dijumpai di seluruh wilayah dataran rendah hingga ketinggian ± 1200 m dpl di tanah Papua.
Menanam buah matoa
Bibit Matoa yang di tanam di Kalimantan
Namun status buah khas Papua yang melekat padanya kerap kali mengecoh dan membuat orang beranggapan bahwa tanaman ini hanya tumbuh di Papua, padahal tanaman yang masih satu keluarga dengan rambutan ini sesungguhnya juga bisa ditemukan dibeberapa daerah lain. Matoa tumbuh tersebar mulai dari Sri Lanka dan Kepulauan Andaman melalui Asia Tenggara, sampai Fiji dan Samoa. Di Indonesia Matoa juga terdapat di beberapa daerah seperti di Sulawesi, Maluku, Jawa, Kalimantan, Malaysia dan Papua Nugini.

Belakangan, buah Matoa yang semakin populer membuat banyak pecinta buah membudidayakannya. Sehingga diprediksi, tanaman Matoa sudah bisa di jumpai hampir di seluruh Indonesia. Tanaman ini dapat dengan mudah diperbanyak dengan cara generatif ataupun vegetatif. Secara generatif dapat dilakukan dengan menanam bijinya. Pada kondisi yang cocok, biji Matoa yang disemai akan berkecambah dalam hitungan hari atau minggu. Sedangkan perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cangkok atau okulasi. Namun, mengingat Matoa adalah tumbuhan yang tingginya dapat mencapai hingga puluhan meter dengan diameter batang lebih dari 1 meter, maka sebaiknya jangan di tanam terlalu dekat dengan rumah apalagi hasil perbanyakan dengan cangkok karena berisiko tumbang.

Tanaman matoa termasuk tanaman non klimaterik yang berarti tanaman yang tak bisa dipanen muda karena pematangan buah akan berhenti setelah dipetik. Dengan kata lain, matoa tidak bisa diperam seperti halnya buah lain semisal pisang, cempedak, atau mangga. Buah matoa kaya vitamin C dan E, namun memiliki kandungan glukosa jenuh. Vitamin C bermanfaat sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas dan meningkatkan daya tahan tubuh. Vitamin E dapat membantu meringankan stres, memberikan nutrisi pada kulit, dan meminimalisasi risiko terserang penyakit kanker dan jantung koroner.

Manfaat lainnya dari tanaman ini adalah batang dan kulit pohonnya. Batang Matoa dapat digunakan sebagai bahan bangunan misalnya untuk papan lantai, serta untuk perabot rumah tangga. Sedangkan kulit pohon berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pestisida alami. 
Share:

Jumat, 15 November 2019

Nasib Ikan Bendera (Chromobotia macracanthus) Semakin Langka

www.bambofoundation.org- Ikan Botia Macan (Chromobotia macracanthus) atau yang bagi masyarakat Kalimantan Tengah juga dikenal dengan sebutan Ikan Kakari atau Bendera adalah jenis ikan dari keluarga Botiidae. Ikan yang juga dikenal dengan nama Clown Loach ini merupakan satu-satunya anggota genus Chromobotia. Kita patut berbangga karena ikan ini adalah ikan asli Indonesia yang berasal dari perairan yakni pedalaman pulau Sumatra dan Kalimantan.
Ikan bendera
Ikan Botia atau dikenal juga dengan Ikan Bendera (Chromobotia macracanthus)

Di alam ikan ini relatif dapat dengan mudah kita bedakan dengan jenis ikan lain karena penampilannya yang khas. Warna yang dominan terdapat pada tubuhnya adalah hitam, kuning dan oranye. Ada semacam tiga warna hitam vertikal (di bagian punggung agak lebar dan menyempit ke arah perut). Pada bagian sirip dada, perut dan ekor berwarna oranye kemerahan dengan sedikit kombinasi warna hitam untuk jenis Botia yang hidup di Kalimantan, sedangkan Botia Sumatera seluruhnya cenderung hanya oranye kemerahan. Ciri lainnya dari Ikan Botia Macan atau Ikan Bendera ini adalah terdapat semacam duri atau tanduk di dekat matanya yang diduga berfungsi sebagai alat pertahan atau mungkin juga untuk menangkap mangsa. 

Ikan Bendera atau tiger botia adalah salah satu ikan hias air tawar yang cukup digemari. Bahkan menurut beberapa sumber sekitar tahun 2000-an ikan ini pernah di eksploitasi besar-besaran di mana anak ikan ini dihargai sekitar 100-500 rupiah per ekor. Pada saat itu diperkirakan ada ribuan ikan yang dijual kepada para pengumpul untuk dijual lagi. Ketika itu pemburu ikan Bendera dapat dengan mudah mengumpulkan ikan ini dengan menggunakan pasat  tepat pada saat musim ikan mudik atau disebut juga "agas". 

Kini keberadaan ikan Botia atau ikan Bendera sudah mulai sulit ditemukan. Meskipun  data Red List IUCN belum mencantumkan status konservasi untuk ikan ini, namun dari penuturan masyarakat khususnya yang ada di Kalimantan, mengindikasikan bahwa kini ikan ini telah semakin langka. Potensi ikan ini sebagai ikan hias akuarium memang sangat menggiurkan, namun ada baiknya eksploitasinya tetap di jaga dan dibatasi. Salah satu solusinya adalah dengan mengkaji dan mempelajari cara perkembangbiakannya sehingga dapat dibudidayakan sebagai salah satu ikan komersil. 

Tidak kalah penting dalam menjaga kelestarian ikan termasuk ikan Bendera ini adalah dengan berlaku lebih arif dan bijak terhadap alam. Pencemaran sungai dengan sampah, khususnya sampah plastik dan limbah serta cara-cara penangkapan ikan ilegal dengan racun dan arus listrik (setrum) adalah ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem perairan tidak terkecuali ikan. Mari lebih Peduli Jantung Borneo.
Share:

Mengenal Moonrat Si Tikus Bulan

www.bambofoundation.org- Kehidupan malam di hutan-hutan Kalimantan ternyata tidak kalah ramai dengan aktivitas siang harinya. Jika siang hari lantai-lantai hutan diisi oleh hewan-hewan  diurnal, maka malam hari giliran para nokturnal yang beraksi. Lantai hutan misalnya, relung yang sama yang ditempati bajing tanah pada siang hari akan di isi oleh salah satu hewan unik yang sekilas menyerupai tikus putih raksasa ketika malam tiba.

Moonrat Borneo
Tikus Bulan (Moonrat )
Moonrat atau Tikus Bulan (Echinosorex gymnura), memang sepintas mirip tikus besar sebagai mana namanya "rat", namun hewan yang biasanya hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan ini bukanlah termasuk famili Rodentia atau tidak berkerabat dekat dengan tikus atau hewan pengerat, melainkan termasuk kedalam famili Erinaceidae atau lebih dekat dengan landak. Moonrat merupakan satu-satunya hewan yang berada di dalam genus Echinosorex.
Moonrat borneo
Tikus Bulan Kalimantan (Echinosorex gymnura alba)
Di Kalimantan Moonrat yang biasa dijumpai adalah subspesies alba (Echinosorex gymnura alba). Tikus Bulan ini memiliki rambut  dominan putih kekuningan dan hanya sedikit yang berwarna gelap (hitam atau coklat) yang menutupi tubuhnya. Rambut yang berwarna gelap ini terdapat pada sekitar belakang kepala hingga punggung. 
Tikus Bulan memakan serangga seperti kecoak, cacing dan terkadang juga siput, ikan dan katak walaupun kadang-kadang dia juga memakan buah-buahan. Indera penciumannya berkembang sangat baik sehingga dapat dengan mudah menemukan makanan atau mangsa meski di malam hari yang gelap. Sebaliknya, bau khas menyengat yang mengandung amonia adalah "senjata" ampuh untuk menghindarkan diri dari berbagai predator. Bau khas ini juga berfungsi sebagai penanda wilayah dan memperingati moonrat lainnya.
makanan tikus bulan
Tikus Bulan/ moonrat putih
Walaupun di hutan-hutan Moonrat atau tikus bulan adalah hewan liar, namun pada beberapa kasus ia cenderung tidak takut terhadap kehadiran manusia. Pada beberapa kasus, hewan ini bahkan berani mendatangi sumber makanan dan melakukan kontak dengan manusia yang rumahnya dekat dengan hutan. 

Moonrat adalah hewan unik asli Asia Tenggara yang hanya ditemukan di beberapa daerah seperti wilayah hutan di Myanmar selatan, Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, dan Sumatra. Khusus untuk Echinosorex gymnura alba atau Tikus Bulan putih mungkin hanya ditemukan di Kalimantan. 

Ancaman utama terhadap moonrat adalah kegiatan deforestasi karena pembangunan manusia untuk pertanian, perkebunan, dan pembalakan komersial. Menjaga hutan Borneo (Kalimantan) adalah tanggung jawab bagi setiap elemen masyarakat, karena tidak hanya merupakan habitat bagi flora dan fauna tetapi juga jantung bagi kehidupan Kalimantan secara umum, termasuk manusia. Mari dukung Program Peduli Jantung Borneo (PJB) Yayasan Baraoi Mutiara Borneo mengampanyekan "Save Jantung Borneo". 
Share:

Sabtu, 19 Oktober 2019

Bambo Foundation Siapkan Lahan Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan

www.bambofoundation.org - Upaya serius Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) untuk mewujudkan pilot project percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan  (Peta Bulak) yang merupakan bagian dari program Peduli Jantung Borneo (PJB) mulai mendapat angin segar. Impian tersebut semakin dekat dengan kenyataan setelah salah seorang warga bersedia lahannya dialihfungsikan menjadi lokasi percontohan.


Sahabat Alam Borneo
Aksi Tanam Pohon 26 Agustus 2019 di Lahan Pilot Project Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan
Di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan-Kalimantan Tengah

Terletak di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan, luas lahan yang memang tidak seberapa yakni diperkirakan hanya sekitar 4.500 m² dengan kesepakatan biaya pembebasan lahan sebesar Rp 2.500 rupiah/m² atau jika ditotal kurang lebih Rp 11.250.000,- (Sebelas Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah).
Peduli Jantung Borneo Bambo Foundation
Aksi Tanam Pohon 26 Agustus 2019 di Lahan Pilot Project Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan
Di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan-Kalimantan Tengah
Tanggal 26 Agustus 2019 lalu, bertepatan dengan aksi sosial tanam pohon kegiatan Kemah Bakti Literasi, sekitar 50 bibit telah ditanam di lokasi percontohan ini. Beberapa bibit pohon buah yang ditanam tersebut antara lain Tangkuhis (Dimocarpus longan subsp malesianus var malesianus), Tenggareng (Nephelium ramboutan-ake), Asam putar (Mangifera turqoenda), Asam pangi (Mangifera pajang), Kecapi (Sandoricum koetjape), Balangkasua (Lepisanthes alata), Bisbul (Diospyros blancoi), Tanggu (Lansium domesticum), Pampaken (Duri kutejensis) dan Durian merah (Durio dulcis).

Tentu saja aksi tanam tersebut hanyalah langkah awal dalam merealisasikan Program PJB Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan. Lahan yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari Kantor Kecamatan ini diharapkan setidaknya memiliki koleksi 1.000 tanaman buah langka yang tumbuh dan dapat di jumpai di Kalimantan.

Untuk mendukung pilot project ini Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta dan menjadi bagian dari Sahabat  Alam Borneo dengan mengikuti Program Adopsi pohon di lokasi Percontohan Tanaman Buah Langka Kalimantan, dengan Berdonasi sebesar Rp 50.000,- /plant (untuk bibit, biaya pembebasan lahan dan perawatan selama 2 tahun). Donasi dapat di salurkan melalui Rek BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO.


Share:

Rabu, 16 Oktober 2019

Yayasan Bambo Gelar Kemah Bakti Literasi Pertama di Katingan

Tumbang Baraoi - Dibuka oleh Camat Petak Malai, Kusuma Jaya SE, Kemah Bakti Literasi tahun 2019 yang digelar selama tiga hari, Minggu-Selasa (25-27 Agustus) di Desa Tumbang Baraoi Kecamatan Petak Malai sukses terselenggara. 
Yayasan Bambo
Camat Petak Malai, Kusuma Jaya, SE bersama Panitia dan Peserta Kegiatan Kemah Bakti Literasi 2019
di Lapangan Buluh Merindu, Desa Tumbang Baraoi
Dalam sambutannya Kusuma Jaya SE, menyampaikan terimakasih kepada Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) atas ide dan gagasannya untuk menggelar kegiatan Kemah Bakti Literasi pertama di Kecamatan Petak Malai Tahun 2019 ini. Menurutnya Kegiatan literasi seperti ini sangat penting khususnya bagi generasi muda. Lebih lanjut Ia juga berharap even ini tidak hanya dilaksanakan tahun ini saja tetapi bisa menjadi agenda rutin tahunan.

Kemah bakti literasi 2019
Camat Petak Malai bersama Panitia  pada acara Pembukaan Kemah Bakti Literasi 2019 di Aula Merah Putih
“Kalau bisa kegiatan seperti ini diadakan setiap tahun, masalah dana Saya yakin desa bisa bantu karena ini adalah bagian dari pemberdayaan masyarakat asal di koordinasikasikan terlebih dahulu”, ujarnya saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan.

Meski hanya di hadiri oleh tiga dari delapan desa/dusun yang diundang, sebanyak 35 peserta yang merupakan siswa/siswi yang masih duduk di Sekolah Dasar di Kecamatan Petak Malai sangat antusias mengikuti jalannya rangkaian acara.
Foto Suasana Perkemahan
Suasana Perkemahan 
Peserta dari Desa Tumbang Tangoi misalnya, rela urunan sewa alkon agar dapat hadir pada kegiatan kemah bakti literasi di desa Tumbang Baraoi. Lina, guru pendamping utusan tersebut menyebutkan Ia dan rekannya Sri “nekat” menyewa perahu motor (alkon) milik warga karena tidak ingin melewatkan kesempatan berharga megikuti perkemahan. Baginya kegiatan semacam ini sangat bermanfaat bagi anak-anak apalagi even semacam ini sangat jarang dilaksanakan di daerah hulu.

Absennya beberapa desa lain dikarenakan beberapa faktor, di antaranya masalah transportasi dan kesiapan. Ketidak tersediaan angkutan transportasi ini juga tidak lepas dari defisitnya anggaran pelaksanaan sehingga panitia tidak dapat menyediakan transportasi gratis bagi para peserta yang secara geografis letak desa cukup berjauhan. 
Jarimatika
Outdoor Class (ODC) dengan tema Jarimatika
Untuk menyukseskan kemeriahan kegiatan perkemahan, Panitia akhirnya mengambil langkah inisiatif memberikan kuota tambahan perwakilan dari desa Tumbang Baraoi. Dengan tambahan kuota tersebut, SDN 1 Tumbang Baraoi mengirimkan lima tim perwakilan sehingga total peserta yang hadir adalah tujuh utusan (35 peserta). 
Bambo Foundation
Lomba Cerdas Cermat di Auala Merah Putih, Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai
Dalam Rangka Kegiatan Kemah Bakti Literasi 2019

Gerakan Pungut Sampah di Katingan
Bakti Sosial Aksi Pungut Sampah di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai
Dalam Rangka Kegiatan Kemah Bakti Literasi 2019
Beragam aktivitas yang mengusung tema “Peduli, Cerdas dan Kreatif” antara lain Kegiatan Tanam Pohon, Bakti Sosial pungut sampah, Lomba Cerdas Cermat, Kegiatan Out Door Class, Lomba Kesenian Tradisional Karungut, Nonton bareng film edukatif, serta api unggun sukses memberikan pengalaman edukatif sekaligus menghibur bagi seluruh peserta. 
Kemah Bakti Literasi
Kegiatan Bakti Sosial Tanam Pohon Buah Langka Kalimantan
Heriwati, ketua Panitia kegiatan mengaku sangat senang karena acara Kemah Bakti Literasi Tingkat Kecamatan Petak Malai tahun 2019 dapat berjalan tanpa hambatan yang berarti. Di akuinya, Ia sempat khawatir karena sampai dengan hari H pelaksanaan, dana yang terkumpul masih minus. Beruntung panitia yang sigap berhasil mendapat pinjaman dana dari masyarakat sehingga kegiatan dapat berjalan meski harus mengalami beberapa penyesuaian.
Kemah Bakti Literasi
Penyerahan Hadiah Dan Uang Pembinaan Bagi Juara Lomba Cerdas Cermat
Kegiatan ditutup oleh Muhammad Jumani, pendiri Bambo Foundation, Selasa (27/8) malam di Lapangan Buluh Merindu Desa Tumbang Baraoi Kecamatan Petak Malai.  Penutupan tersebut juga sekaligus diisi penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba dan dihibur dengan acara Api Unggun dan menari manasai bersama panitia, peserta, undangan dan seluruh masyarakat yang hadir.

Share:

Melirik Matoa Buah Khas dari Papua

www.bambofoundation.org- Berbicara tanaman Matoa ( Pometia pinnata ) barangkali pikiran kita akan melesat jauh ke tanah Papua. Hal ini cuk...

Follow by Email

Facebook

Comments