Sabtu, 11 September 2021

Anggrek Ikonik Dendrobium hallieri Endemik Kalimantan

www.bambofoundation.org - Menghilangnya hutan karena faktor apapun adalah sebuah bencana yang sangat disesalkan. Tidak hanya akan kehilangan pertahanan utama bagi ancaman pemanasan global yang kian masif tetapi  juga sumber daya alam baik berupa flora maupun fauna yang tak ternilai harganya bagi umat manusia. 

Dendrobium hallieri

Anggrek epifit adalah salah satu harta karun umat manusia yang akan merasakan dampak langsung dari musnahnya pepohonan di hutan. Kelompok jenis ini adalah yang terbanyak dari jenis anggrek yang lain yakni anggrek tanah, dan anggrek batu. Walaupun beberapa jenis anggrek epifit juga adaptif dan mampu bertahan di tanah namun perubahan kondisi habitat yang ekstrim dan tiba-tiba seringkali menyebabkan rumpun-rumpun anggrek "terbakar" sebelum sempat menyesuaikan diri. 

Dendrobium hallieri

Ada banyak sekali jenis anggrek epifit yang ada di Indonesia, di Hutan Kalimantan (Borneo) diperkirakan jumlahnya tidak kurang dari 3000 spesies dari beragam genus yang tersebar mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian dari jenis ini cukup umum yakni dapat dijumpai hampir diseluruh pulau besar di Indonesia hingga negara lain. Namun beberapa di antaranya hidup endemik atau hanya di temukan di daerah tertentu misalnya anggrek ikonik  Dendrobium hallieri

Anggrek spesies Paling mahal

Dendrobium hallieri adalah satu dari jenis tanaman berbunga dari suku Orchidaceae. Tanaman ini tumbuh secara alami dengan menempel di kulit-kulit pohon yang berfungsi sebagai substrat. Selain cantik, anggrek langka dengan  bunga relatif besar berwarna kuning ini hanya dijumpai di pulau Kalimantan atau bersifat endemik. 

Tim observasi Bambo Foundation menemukan spesies ini saat menjelajah hutan dengan ketinggian sekitar 150-200 mdpl. Meski tetap tumbuh di daerah ternaung agaknya jenis anggrek ini lebih menyukai daerah yang sedikit lebih hangat dengan kelembaban sedang. Hal ini mengingat area habitat tanaman ini lebih banyak didominasi pepohonan dengan diameter batang kurang dari 20 cm. 

Selain bunga berwarna kekuningan dan terdapat semacam rambut berwarna oranye pada bagian lidah, anggrek ini juga memiliki ciri khas batang yang banyak ditutupi oleh semacam rambut (trikoma) berwarna hitam. Trikoma ini cenderung padat pada batang yang relatif muda namun agak berkurang ketika batang sudah menua.

Bunga anggrek Dendrobium hallieri yang sewaktu kuncup berwarna hijau  ketika  mekar dapat bertahan beberapa hari namun umumnya kurang dari seminggu. Berdasarkan pengamatan sampel koleksi yang ada di Taman Suluh Pambelum, setiap berbunga jenis ini hanya memunculkan 2-4 kuntum bunga. 

Mari jaga hutan kita, jika memang harus cukup ambil apa yang kita butuhkan dari alam. Setiap hari, luas hutan terus berkurang puluhan bahkan ratusan hektar, kita sadari atau tidak kita semakin berada di ujung krisis pepohonan. Ayo mulai sekarang kita giatkan 1 hari tanam 1 pohon, di pekarangan, di lahan-lahan tidur, di mana saja tempat yang layak dan bisa kita tanam. Semoga gerakan ini dapat memperbaiki atau setidaknya mengurangi ancaman dan dampak dari semakin menipisnya hutan kita.

Share:

Senin, 09 Agustus 2021

Berburu Durian Merah Langka Di Pedalaman Kalimantan

www.bambofoundation.org - Sudah hampir tiga tahun terakhir kami tidak melakukan perburuan bibit buah langka di Kecamatan Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah. Hal ini lantaran musim panen buah raya di daerah ini harus tertunda karena kondisi cuaca yang tidak menguntungkan. Padahal biasanya aneka buah mulai dari yang umum seperti jenis rambutan, manggis dan mangga-manggaan hingga yang terbilang langka seperti Kapul, Pangi, Tangkuhis dan Umbing selalu melimpah hampir setiap tahun. 

Durian Merah Langka Kalimantan

Tahun ini meski belum dapat digolongkan kedalam musim panen buah raya namun buah-buahan yang tersedia masih cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal. Tentu saja kesempatan emas ini tidak dilewatkan apalagi saat ini  awal Agustus 2021  buah-buahan dari Genus Durio juga sudah mulai matang dan berjatuhan.

Ada beberapa jenis Durio yang menjadi incaran kami, yakni jenis Durian Merah/ Lahung (Durio dulcis), Durian krakup (Durio oxleyanus) dan Durian Gundul yang pernah menghebokan dunia pada tahun 2007 lalu . Untuk varietas terakhir ini masih menjadi misteri mengapa bisa ada pohon yang jika di taksir usianya diperkirakan mungkin sudah di tanam sebelum tahun di mana Durian Gundul ditemukan pertama kali di kaki Gunung Rinjani, Lombok, NTB. 

Rasa Buah Lahung

Namun, tahun ini sepertinya satu-satunya pohon Durian Gundul yang kami ketahui gagal berbuah karena saat kami survey bunganya rontok tak bersisa. Maka kami menyasar Durian Merah/ Lahung yang juga merupakan jenis durian unik tidak hanya dari segi warna, duri tetapi juga rasanya. 

Asal Buah Lahung

Ada beberapa spot Durio dulcis yang berhasil ditemukan sedang berbuah. Namun kali ini kami mendatangi salah satu lokasi yang dikenal dengan nama Munyun yang letaknya kurang lebih sekitar 12 km dari Desa Tumbang Baraoi. Di sini hanya ada satu pohon yang berdiameter di atas 50 cm dan tinggi mungkin mencapai lebih dari 20 meter. 

Cara mengupas Durian Merah

Dari titik keberangkatan kami menggunakan sepeda motor melalui jalan desa sepanjang 6 km dan dilanjutkan menyusuri jalan perusahaan HPH. Perjalanan menggunakan sepeda motor hanya bisa sampai pada sebuah dukuh dipinggiran jalan utama, selanjutnya track berupa jalan setapak dan sesekali berlumpur harus ditempuh dengan berjalan kaki. Diperkirakan perjalanan ini setidaknya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit untuk sampai tepat di bawah pohon Durian Merah. Kendati kontur tanah berupa perbukitan kecil namun pohon ini tumbuh tepat didaerah cekungan yang relatif becek dan berair. 

Hal unik mengenai buah-buahan terutama durian di daerah ini adalah siapapun berhak untuk memungut buahnya yang jatuh selama dia bersedia menunggu atau berada dilokasi. Bahkan dalam beberapa kasus sesorang yang bukan pemilik pohon pun tidak dilarang untuk mendirikan pondok disekitar pohon untuk menunggu buah-buah yang secara alami jatuh ketika sudah matang. Tentu saja walaupun demikian etikanya kita tetap harus permisi dan meminta izin kepada si empunya. 

Maka musim buah durian seperti saat ini adalah surga bagi penikmatnya. Asalkan mau sedikit berusaha mendatangi pohon-pohon durian yang sedang berbuah maka bisa makan dengan sepuasnya tanpa perlu harus membeli. Bagi yang enggan atau malas untuk menunggu dan mengumpulkan buahnya  tentu tetap dapat menikmati legitnya si Raja buah dengan mengeluarkan sedikit rupiah, karena biasanya ada beberapa anak-anak yang menjajakan buah hasil perburuan mereka. 

Tidak heran di lokasi pohon Durian merah yang kami datangi juga sudah relatif bersih dari semak-semak karena sudah didatangi entah berapa banyak orang. Setiap mereka yang datang akan berkeliling dan mencari buah-buah yang telah jatuh sebelum dia tiba termasuk kami. Namun, karena angin yang begitu tenang dan alokasi waktu yang hanya sebentar, kami hanya berhasil mengumpulkan dua buah durian merah saja. 

Setelah kurang lebih 30 menit berada dilokasi kami harus puas kembali dengan membawa pulang hanya dua buah Durian Merah di tambah bonus beberapa biji dan bibit hasil cabutan untuk disemai terlebih dahulu sebelum siap di tanam dilokasi Taman Suluh Pambelum. Semoga perburuan berikutnya kami bisa lebih puas menikmati buah yang diyakini paling manis di antara jenis durian dengan aroma khas seperti vanili ini. 


Share:

Kamis, 08 Juli 2021

Joran Tradisional Dari Pelepah Palem

www.bambofoundation.org - Joran tradisional dari Pelepah Palem barangkali masih asing bagi sebagian orang khususnya di perkotaan. Joran-joran menggunakan tanaman tertentu yang diolah sendiri dahulu banyak digunakan bagi para pecinta hobi mancing, namun seiring waktu mulai kehilangan peminatnya karena berbagai alasan. Selain lantaran kalah bersaing dengan joran-joran modern yang lebih praktis, penyebab lain joran klasik sudah tidak banyak digunakan mungkin saja karena akibat bahan yang semakin sulit didapat atau justru pengrajinnya sendiri sudah mulai langka. 

Cara membuat Joran Dari Pelepah Palem
Bahan untuk joran tradisional yang sudah umum adalah dari rumpun bambu, ada beberapa jenis bambu yang biasa digunakan untuk membuat joran pancing beberapa yang mungkin cukup familiar seperti bambu cendani dan bambu petung. Beberapa di antaranya menggunakan teknik dan cara pengolahan joran khusus yang mungkin berbeda antar daerah. Di Kalimantan Selatan misalnya, bambu juga sering digunakan untuk memancing terutama jenis ikan Betok dan Gabus yang populasinya banyak terdapat di rawa-rawa gambut. Untuk jenis ikan ini, joran bambu yang digunakan berukuran relatif kecil yang mana pangkalnya hanya berdiameter sebesar jempol tangan (untuk memancing ikan betok) dan kurang lebih sebesar jempol kaki untuk memancing ikan Gabus. 

Jenis-jenis joran tradisional

Di Kalimantan Tengah khususnya di daerah hulu atau pedalaman seperti Kecamatan Petak Malai lokasi Taman Suluh Pambelum, penggunakan bambu untuk joran tradisional relatif sangat jarang. Meskipun di daerah ini banyak dijumpai bambu namun agaknya jenis yang ada tidak cocok untuk digunakan sebagai joran pancing. Namun demikian, beberapa jenis yang berdiameter kecil masih digunakan untuk keperluan joran "banjur"  yakni teknik menangkap ikan dengan cara ditinggal setelah kain diberi umpan dan dijenguk setelah beberapa saat biasanya dalam beberapa jam. 

Kendati jenis bambu yang digunakan sebagai joran sulit ditemukan, suku Dayak yang merupakan masyarakat asli daerah ini pada umumnya tetap menggunakan joran untuk memancing ikan-ikan yang berukuran relatif kecil hingga sedang. Sebagai gantinya tanaman yang digunakan untuk joran pengganti bambu adalah pelepah palem. Ada beberapa jenis palem yang dapat digunakan seperti pelepah aren, rotan, dan  pelepah pelem dari jenis Salak Hutan

Joran Tradisional dari Pelepah Palem Salak Hutan ini cukup kuat dan nyaman digunakan untuk memancing jenis-jenis ikan seperti Seluang Kalimantan (Rasbora spp), Sepat Siam (Trichopodus pectoralis), Sepat rawa ( Betok (Anabas testudineus), Sepat rawa (Trichopodus trichopterus) Bahkan ikan Gabus (Channa striata) yang berukuran sedang. 

Cara membuat Joran dari Pelepah Palem ini cukup mudah dan jenis tumbuhan ini cukup banyak tumbuh di hutan-hutan sekunder di sekitar desa. Pilih salah satu pelepah yang kokoh, biasanya sudah berwarna hijau agak kekuningan namun bukan yang telah kering. Potong dengan hati-hati karena pelepah ini memiliki banyak duri tajam. Pangkas daun dan duri-duri yang menempel. Joran ini belum siap digunakan karena masih berat dan biasanya bengkok/ melengkung. Agar ringan, maka perlu didiamkan selama beberapa hari agar kering (sebaiknya kering angin saja). Selama proses pengeringan joran dapat diluruskan. Cara meluruskan joran ini bisa dengan beragam pilihan misalnya ditindih dengan benda yang agak berat atau di gantung dengan seutas tali, posisinya pangkal di bagian atas dan pada bagian ujung joran yang menghadap kebawah diberi pemberat. 

Joran tradisional dari pelepah palem yang sudah lurus dan ringan ini sudah bisa di pasang nilon dan mata kail atau mata pancing setelah kurang lebih satu minggu. Agar awet, joran ini harus disimpan ditempat kering setelah digunakan.  Jika basah saat digunakan maka sebelum disimpan perlu dikeringkan terlebih dahulu untuk menghindari jamur yang membuat pancing ini akan cepat rusak. Tertarik mencoba ?.

Share:

Senin, 05 Juli 2021

Serangga Lentera Kalimantan (Pyrops intricatus)

www.bambofoundation.org - Serangga Lentera adalah serangga unik lainnya yang juga dapat dijumpai di Kalimantan. Dinamai serangga lentera sebenarnya bukan lantaran serangga ini mampu menghasilkan cahaya, akan tetapi dari bentuk kepalanya yang memanjang dan terkadang menggembung pada bagian ujung atau moncongnya sehingga dahulu diduga dapat memancarkan cahaya seperti lentera. 

Serangga lentera Kalimantan


Faktanya Serangga Lentara  yang memiliki sejumlah nama lain seperti Lalat Lentera (Lantern flies) atau Lalat Lanthorn dengan nama ilmiah Pyrops intricatus merupakan kelompok serangga dari famili Fulgoridae yang tidak menghasilkan cahaya seperti halnya kunang-kunang. Famili ini banyak dijumpai di daerah tropis dan tercatat setidaknya ada 125 genus secara keseluruhan tersebar diseluruh dunia. 

Kepala memanjang yang menyerupai moncong bahkan ada yang berukuran hampir sebesar tubuhnya ini diduga berfungsi untuk membantu serangga tersebut meraih atau menembus kulit pohon yang merupakan makanannya. 

Klasifikasi Serangga Lentera Kalimantan adalah sebagai berikut :
Kingdom   : Animalia
Phylum     : Arthropoda
Class         : Insecta
Order        : Hemiptera
Infraorder : Fulgoromorpha
Family      : Fulgoridae
Genus       : Pyrops
Species     : Pyrops intricatus

Jika beruntung, di Taman Suluh Pambelum pengunjung atau pelancong dapat menemukan serangga ini hinggap atau beristirahat di pepohonan. terkadang selain serangga lentera beberapa jenis serangga lain seperti stick insect atau serangga ranting, beragam jenis capung, bahkan kupu-kupu langka, juga bisa dijumpai disekitar areal kawasan taman.

Taman yang dibangun secara swadaya ini masih dalam proses pengembangan, dan membutuhkan banyak support atau dukungan. Salah satu bentuk dukungan yang bisa dilakukan adalah dengan berdonasi melalui link laman donasi Taman Suluh Pambelum atau dengan membagikannya kepada teman atau keluarga baik secara langsung ataupun dengan mempostingnya di laman sosial media . 

Referensi : Wikipedia
Share:

Minggu, 04 Juli 2021

Salak Hutan Buah Lokal Rimba Kalimantan

www.bambofoundation.org - Rasa buah salak hutan yang manis atau cenderung lebih asam dengan warna oranye atau merah sudah sangat familiar bagi anak-anak Suku Dayak khususnya yang masih atau pernah bermukim di pinggiran hutan. Kendati umumnya tumbuh liar diantara rimbunnya pepohonan dan semak belukar, namun tanaman ini mudah dikenali karena memiliki karakteristik yang khas. 

Buah Salak Hutan

Salak Hutan dibeberapa daerah dikenal dengan nama lain kelubi, salak merah atau asam paya. Adalah sejenis tanaman yang menghasilkan buah serupa salak dengan kulit buah bersisik dan daging buah berwarna putih. Dibandingkan jenis buah salak pada umumnya, salak hutan memiliki buah yang realtif lebih kecut dan warna kulit buah yang lebih mencolok yakni berwarna merah. 

Salak hutan

Pengalaman penulis selama berburu salak hutan jarang menemukan jumlah buah lebih dari 10 dalam satu tandan. Hal ini mungkin karena di habitat aslinya salak yang merupakan tanaman berumah dua (dioceous) yang berarti bahwa dalam satu individu terdapat bunga jantan atau bunga betina saja hanya mengandalkan serangga dalam upaya penyerbukannya, sebab peran angin mungkin kurang begitu signifikan lantaran kondisi hutan dengan semak belukar dan tegakan yang rapat. 

Salak hutan termasuk kelompok tanaman palem-paleman (Areaceaeae), seperti halnya Pinang, Kelapa, Sawit, Aren, Rumbia dan Nypah. Namun berbeda dengan beberapa jenis tanaman tersebut yang relatif lebih aman untuk di panen, pelepah-pelepah daun salak memiliki duri tajam dan relatif kokoh sehingga perlu ekstra hati-hati saat mencoba memanen atau memetik buahnya. Duri-duri ini dapat mencapai panjang hingga lebih dari 5 cm dan dapat dengan mudah menembus sendal jepit atau celana jeans apalagi kulit manusia.

Saat ini belum diketahui adanya upaya budidaya salak hutan secara konkrit atau besar-besaran. Meski warna kulit buahnya menarik, namun rasanya yang cenderung lebih asam mungkin menjadi alasan kurangnya minat para petani atau pengusaha perkebunan memilih tanaman ini untuk dijadikan komoditi. Padahal saat ini salak hutan sudah mulai diusahakan untuk olahan asinan dan manisan. 

Ketergantungan terhadap alam khususnya hutan juga sangat berisiko terhadap salak hutan itu sendiri mengingat kondisi hutan cenderung tidak stabil dan mudah mengalami alih fungsi dan terdegredasi akibat berbagai aktivitas manusia. Sadar akan hal ini, Yayasan Baraoi Mutiara Borneo melalui program Peduli Jantung Borneo mendirikan Taman Suluh Pambelum yang menjadi pusat pelestarian berbagai jenis tumbuhan buah lokal di luar kawasan konservasi yang mana salah satu koleksinya adalah Salak Hutan ini. 

Share:

Jumat, 02 Juli 2021

Jamur Makroskopis di Taman Suluh Pambelum Kalimantan Tengah

www.bambofoundation.org - Ragam jenis jamur cantik dan eksotis yang pernah dijumpai tumbuh di sekitar kawasan Taman Suluh Pambelum turut memperkuat alasan pentingnya keberadaan Taman Biodiversitas atau Taman Kehati ini. Belasan jenis jamur tersebut sudah berhasil didokumentasikan secara sederhana dalam bentuk foto. 
Jamur Mikroskopis Di Taman Suluh Pambelum

Organisme yang dikelompokan kedalam kingdom fungi ini tumbuh pada berbagai substrat seperti kayu lapuk, serasah, hingga kotoran hewan. Meski sebenarnya diyakini ada lebih banyak spesies namun, dokumentasi terbatas hanya pada jamur yang berukuran makro atau berukuran relatif besar dan dapat diamati secara visual tanpa alat bantu. 
Kumpulan Foto Jamur Makroskopis

Jamur memiliki cara yang unik dalam hal cara memperoleh makanannya. Jamur tidak menelan makanannya seperti hewan atau manusia, namun beberapa jenis jamur mengeluarkan sejenis zat yang membuat sisa makhluk hidup lain menjadi terurai. Zat hara dari sisa makhluk hidup inilah yang kemudian diserap dan sebagian lagi dilepaskan kembali ke lingkungan. 
Jamur yang bisa dimakan

Beberapa Jamur di Taman Suluh Pambelum diketahui bersifat edible atau dapat dimakan berdasarkan penuturan masyarakat setempat. Misalnya seperti Jamur Kuping (Auricularia auricula-judae) namun beberapa jenis lainnya juga diyakini mungkin beracun atau berbahaya.

Berikut beberapa contoh jenis jamur yang ada Taman Suluh Pambelum, Desa Tumbang Baraoi Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. 

Jenis jamur Makroskopis Borneo

Gambar jenis-jenis jamur makroskopis
Selain foto yang kami tampilkan di atas masih ada beberapa jenis jamur lainnya yang belum di tampilkan di sini ataupun belum sempat terdokumentasi. Bagi kawan-kawan yang ingin kolaborasi untuk melakukan penelitian tentang ragam jenis jamur yang ada di Taman Suluh Pambelum kami sangat welcome. 
Share:

Senin, 28 Juni 2021

Giant Pill Millipedes Serangga Bola Menggemaskan Di Taman Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Taman Kehati atau Taman Biodiversitas  memiliki fungsi utama menjaga sumber daya alam hayati namun demikian sebagaimana seperti yang tertulis dalam hukum alam, sejatinya kehidupan makhluk hidup di dalam sebuah ekosistem tidak dapat terlepaskan antara satu komponen dengan komponen lainnya baik berupa hubungan faktor biotik dengan abiotik, maupun interaksi sesama biotiknya. 

Giant Pill Millipedes Borneo

Begitupula dengan yang terjadi di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum, Petak Malai, Katingan, Kalimantan Tengah, walaupun tujuan utamanya adalah sebagai kawasan konservasi bagi tumbuhan buah lokal secara insitu maupun exsitu nyatanya areal ini juga menjadi rumah bagi beragam fauna eksotis yang akan sangat bergantung dan membutuhkan habitat yang aman dan terjaga.

Giant Pill Bug Borneo

Hewan-hewan unik dan eksotis yang kami maksud tidak hanya jenis satwa endemik dan dilindungi di Taman Suluh Pambelum, tetapi juga meliputi banyak jenis arthropoda yang belum diketahui dengan pasti baik dari segi keberagaman jenis maupun status kelangkaan dan endemisitasnya. 

"Giant Pill Millipedes" atau "Giant Pill Bug" adalah salah satu contohnya. Hewan tak bertulang belakang yang tergolong kedalam Ordo Sphaerotheriida ini layak menyandang gelar unik lantaran kebiasaan mempertahankan dirinya yang menyerupai Trenggiling (Manis javanica). Eksoskeleton yang kuat dan kemampuan menggulung adalah mekanisme pertahanan tangguh hewan ini terhadap beberapa jenis predator. Tidak hanya itu warnanya yang cenderung hitam atau gelap juga membantu "serangga" lucu ini berkamuflase diantara serasah dan rerumputan. 

Dibalik tingkahlakunya yang unik yakni menggulung ketika terancam bahaya, teman kecil kita ini adalah pahlawan bagi beragam jenis tumbuhan karena perannya sebagai detrivor. Seperti halnya rayap dan cacing tanah, mereka memakan bahan organik mati seperti daun dan kayu di lantai hutan kemudian memecah bahan organik yang membusuk dan melepaskan nutrisi yang terkunci kembali ke dalam tanah. Daur ulang seperti ini tidak hanya sangat penting untuk nutrisi tanaman tetapi juga untuk seluruh ekologi.

Giant Pill Millipedes masih menyimpan banyak misteri dan tanda tanya. Hingga tahun 2014 diperkirakan ordo ini memiliki sekitar 34 Genera (marga) dengan lebih dari 326 jenis dan baru sekitar 20 genera yang telah dideskripsikan. Di Kalimantan khususnya Kalimantan Tengah, data tentang jenis Giant Pill Bug yang ditemukan masih sangat minim. 

Berdasarkan data dari wikipedia, jenis-jenis yang mungkin terdapat di Indonesia khususnya Kalimantan termasuk di Taman Suluh Pambelum besar kemungkinan dari famili Zephroniidae yakni dari genus Bothrobelum, Zephronia, Sphaeropoeus, Castanotherium, Rajasphaera. Tentu saja untuk lebih pastinya perlu diadakan penelitian atau identifikasi lebih lanjut. Namun apapun, jenisnya hewan unik dan lucu ini harus terus kita jaga kelestariannya.

Ayo Patungan Klik Bantu kami membangun Taman Biodiversitas Taman Suluh Pambelum

Share:

Giat Rutin Pemeliharaan Plantation Area Taman Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org- Dalam perencanaan tata kelola Taman Biodiversitas Suluh Pambelum wilayah taman dibagi menjadi beberapa areal, salah satunya Plantation Area atau areal penanaman. Areal ini terletak persis di pintu masuk sebelah timur atau tepat disisi Jalan Batu Tumbung. Plantation area ini terbagi dua, pertama berupa areal yang relatif lebih kecil dan merupakan lokasi penanaman pada tahun 2019 bertepatan kegiatan Kemah Bakti Literasi. Bersama peserta Kemah Bakti Literasi, panitia dan relawan menanam beragam jenis buah seperti, mangga, jeruk, kecapi, matoa, tenggareng, asam pangi, kweni, kapul, lengkeng, jambu biji, jambu bol, rambutan, dan durian. 

Taman Suluh Pambelum

Adapun lokasi kedua area penanaman hanya berjarak beberapa meter setelah daerah cekungan. Areal ini mulai ditanami sejak tahun 2020 hingga sekarang. Beberapa jenis bibit buah yang sudah ditanam antara lain Durian merah, Paken, Kapul, Tangkuhis, Tenggareng, Rambutan, Mangga, Buah Bahkau, Ramania, Kasturi, Asam Pangi, Langsat, Sirsak, cempedak dan lain-lain. 

Taman Biodiversitas Suluh pambelum

Sekitar 85 persen tanaman yang ditanam di kedua lokasi ini merupakan bibit dari hasil semai biji. Oleh karena itu proses perkembangannya relatif lambat terutama untuk satu atau dua tahun pertama. Kami berupaya memaksimalkan pertumbuhan bibit-bibit ini sedapat mungkin dengan segala keterbatasan yang ada. Selain dengan upaya pemberian pupuk,  giat rutin perawatan seperti penyiraman khususnya pada waktu dimana hari tanpa hujan berturut-turut membuat kondisi tanah mengalami kekeringan serta pembersihan atau penyiangan rumput yang dapat menjadi gulma bagi tanaman. 

1day1tree

Proses pemeliharaan berupa penyiangan gulma ini juga masih dilakukan dengan cara tradisional yakni menggunakan pisau atau parang. Keterlibatan relawan sangat membantu mempercepat dan meringankan proses ini. Sebagai perbandingan, jika dikerjakan sendiri aktivitas ini membutuhkan waktu beberapa hari, namun dengan gotong royong belasan relawan hanya memerlukan waktu beberapa jam saja.

Sebagaian besar relawan ini merupakan siswa-siswi SMA Negeri 1 Petak Malai, satu-satunya Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Petak Malai Kabupaten Katingan. Kegiatan-kegiatan Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) memang seringkali melibatkan para relawan yang masih duduk di bangku sekolah hingga yang sudah  berstatus mahasiswa perguruan tinggi, selain untuk menumbuhkan semangat kerelawanan adanya kegiatan ini juga bertujuan mengajak muda-mudi lebih peduli terhadap sesama dan terhadap lingkungan. 

Belasan muda-mudi ini bergabung dengan suka rela tanpa dibayar ataupun dipungut biaya. Bagi mereka ini adalah aktivitas yang positif dan juga menyenangkan karena selain berbakti untuk sesama serta lingkungan juga menjadi ajang hiburan atau refreshing dari rutinitas sehari-hari karena dapat berkumpul, bertemu dan bercengkrama dengan rekan-rekan lain. 


Share:

Berkenalan Dengan Satwa Endemik dan Dilindungi Di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Kawasan Taman Biodiversitas Suluh Pambelum yang didirikan Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) di Desa Tumbang Baraoi Kecamatan Petak Malai Kabupaten katingan Provinsi Kalimantan Tengah ternyata menyimpan beragam fauna eksotis bahkan  bersifat endemik serta dilindungi

Kupu Trogon

Pendiri taman biodiversitas Muhammad Jumani mengatakan dari hasil pendataan sementara sedikitnya ada empat jenis fauna yang berhasil diidentifikasi berstatus dilindungi atau merupakan satwa endemik tercatat tinggal atau hidup disekitar area ini. 


Tupai Kerdil Kalimantan

"Ada empat jenis fauna yang menjadi perhatian kami. Dua diantaranya berstatus endemik dan dua lagi merupakan hewan yang dilindungi dan masuk dalam daftar appendix II", ujar Jumani.  

Lebih lanjut Founder Bambo Foundation ini menjelaskan empat fauna yang dimaksud yang pertama adalah dari kelompok mamalia yakni Tupai Kerdil Kalimantan (Exilisciurus exilis) yang juga dikenal dengan sebutan "Bornean Pygmi Squirrel" yakni sejenis tupai kecil yang panjang totalnya hanya sekitar 12,5 cm dengan berat kurang dari 20 gram. Selain berstatus endemik hewan mungil ini juga tercatat sebagai salah satu jenis tupai terkecil di dunia. 

Kadal pohon kalimantan

Hewan yang kedua merupakan jenis reptil bersisik yang dikenal dengan nama Kadal Pohon Kalimantan (Dasia vittata). Sesuai namanya hewan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dipepohonan mencari semut atau serangga kecil ini tercatat sebagai hewan endemik yang mana hanya terdapat di pulau Kalimantan.

Fauna eksotis berikutnya adalah jenis serangga dari bangsa Lepidoptera yang familiar dengan nama Kupu Trogon atau Kupu-kupu Rajah Brooke. Kupu-kupu dengan nama ilmiah Trogonoptera brookiana dapat dikenali dari sayapnya yang dominan hitam kombinasi hijau terang. Jenis ini merupakan hewan dilindungi yang terdaftar dalam Appendix II CITES. CITES adalah sebuah konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies flora dan satwa  liar, sedangkan Appendix II adalah daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. 

Hewan yang ke empat adalah binatang yang sangat populer dalam dunia dongeng atau fabel yaitu Kancil atau Pelanduk (Tragulus kanchil). Spesies sebangsa rusa namun berukuran lebih kecil ini merupakan hewan penghuni hutan primer dan sekunder termasuk di Kalimantan. Kendati perburuan terhadap hewan ini cukup umum, seluruh genus pelanduk (Tragulus) merupakan satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Lebih lanjut ia menceritakan, di areal kurang lebih 2500 m2 tersebut pada awalnya akan dibuat taman buah lokal, namun karena berbagai pertimbangan termasuk ditemukannya beberapa fauna eksotis endemik serta dilindungi tersebut akhirnya diputuskan untuk ditingkatkan menjadi taman biodiversitas. 

Taman biodiversitas sendiri pada dasarnya memiliki beberapa fungsi antara lain :

  1. Tempat pelestarian tumbuhan lokal khususnya yang memiliki tingkat ancaman tinggi terhadap kelestariannya
  2. Sebagai sarana rekreasi berbasis lingkungan
  3. Tempat edukasi bagi pelajar dan masyarakat umum
  4. Sumber genetik tumbuhan dan tanaman lokal
  5. Ruang terbuka hijau
  6. Tutupan vegetasi

Jumani berharap gagasan yang ia coba wujudkan bersama rekan-rekannya ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hal ini ia sampaikan mengingat dana yang diperlukan untuk mengembangkan areal menjadi sebuah taman biodiversitas yang dapat memenuhi setidaknya enam fungsi dimaksud membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain mengandalkan swadaya dan kantong pribadi, sumber dana yang diharapkan hanyalah dari proposal dan donasi di situs penggalangan online kitabisa.com

"Salah satu tujuan utama didirikannya taman biodiversitas ini adalah untuk melestarikan buah lokal. Beragam jenis buah dan flora khas yang ada di sana tentu akan menjadi daya pikat sekaligus memberi daya dukung bagi kehidupan satwa liar yang ada disekitar kawasan yang saat ini bisa jadi semakin sulit untuk mendapatkan makanan karena dampak alih fungsi hutan dan lahan", pungkasnya. 

Sementara itu, Andhika Prasetya  selaku penanggungjawab pembangunan taman tetap optimis bisa menyelesaikan pengerjaan meski mengalami beberapa hambatan terutama  biaya pembebasan lahan “buy back land”. Dikatakan Andhika, saat ini kawasan taman baru memiliki 0,25 Ha padahal idealnya paling tidak sebuah taman biodiversitas memiliki luasan lahan 3 Ha. Karena konsepnya adalam taman maka selain berbagai jenis tumbuhan khas, di kawsan ini juga akan dibangun berapa sarana penunjang. untuk pengunjung dan wisatawan minat khusus.

"Saat ini penataan areal dan penanaman pohon buah terus dilakukan, kendati masih ada kendala kami tetap yakin bisa mewujudkannya dalam tiga tahun kedepan", ucapnya. 
Share:

Senin, 17 Mei 2021

Khasiat dan Kandungan Nutrisi Buah Botong

www.bambofoundation.org - Buah Botong atau Kundur atau Beligo adalah buah dari sejenis tanaman sayuran merambat atau menjalar di atas permukaan tanah. Buah ini memiliki dua variasi yang umum yakni yang berbentuk panjang bahkan hingga lebih dari satu meter dan yang berbentuk bulat mirip semangka. Meski secara fisik baik batang maupun buahnya relatif mirip dari segi bentuk dan ukuran (yang berbentuk bulat) namun buah Botong memiliki ciri khas yakni terdapat semacam "bulu" halus seperti beludru berwarna putih pada bagian kulit luarnya. Beludru ini akan berangsur-angsur hilang ketika buah matang namun tetap mempertahankan warnanya yakni hijau.

Sayur Botong

Buah atau sayur Botong merupakan tanaman asal Asia Tenggara namun kini sudah dibudidayakan di beberapa wilayah lain seperti Asia Timur dan Selatan. Buah yang dikenal dengan nama Winter Melon ini dikenal memiliki banyak khasiat terutama untuk kesehatan. 

Jenis sayuran yang diyakini dapat membantu program kehamilan ini memiliki daging buah berwarna putih dengan bagian tengah relatif berongga dan lebih lunak. Di dalam rongga inilah biji-biji buah botong yang sedikit lebih besar dari biji timun berada. Biji yang berwarna putih atau cenderung krem ini merupakan salah satu media perbanyakan yang lazim digunakan. 

Kandungan nutrisi dan manfaat kesehatan buah ini dilansir dari Healthline media antara lain dijelaskan bahwa buah dengan nama latin atau nama ilmiah Benincasa hispida mengandung sekitar 96 persen air. Selain  tinggi protein dan karbohidrat juga rendah kalori serta mengandung lemak baik. Nutrisi bermanfaat lainnya yang juga terkandung dalam buah ini adalah beberapa  jenis vitamin, seperti vitamin C, vitamin B1, vitamin B2, kalsium, dan zat besi. 

Serat dalam buah kundur/ botong juga terbilang cukup tinggi dan sangat baik guna melancarkan sistem pencernaan.Tidak hanya itu kandungan zat flavonoid dan karoten adalah dua jenis anti oksidan yang dipercaya dapat menjaga tubuh dari kerusakan sel, ganguan penyakit diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. 

Jenis buah yang bermanfaat untuk mendukung program kehamilan disematkan untuk botong kendati belum ada pengujian secara ilmiah mengingat manfaat kandungan asam folat sebagai salah satu gizi penting untuk meningkatkan kesuburan dan mencegah kecacatan janin juga terkandung di dalam buah botong.

Cara menanam buah botong sangat simpel, bahkan dalam beberapa kasus tumbuh dengan sendirinya dari biji yang kadang "dilemparkan" bersama kulit buah setelah di sayur. Tanaman botong tumbuh dengan baik pada kondisi tanah yang baik dengan kandungan unsur hara yang cukup. Tanaman dapat menghasilkan buah tanpa mengenal musim dan biasanya sudah panen setelah berumur sekitar 70 hari setelah di tanam. 

Bibit buah botong sebaiknya dipilih yang bernas sebelum ditanam yakni dengan cara merendamnya di air hangat selama kurang lebih 30 menit. Biji yang baik adalah yang tenggelam dan terlihat "gemuk" setelah perendaman sedangkan yang tipis dan biasanya mengapung adalah biji yang kurang baik dan harus di pisahkan.  

Sayur Botong adalah salah satu tanaman yang cukup familiar di kalangan masyarakat Dayak khususnya di Katingan, sebetulnya untuk hasil buah yang optimal diperlukan pengolahan tanah seperti pengolahan media tanah pada penanaman sayur labu, timun atau semangka, namun dalam kasus daerah ini umumnya botong di tanam pada lahan tanpa pengolahan secara khusus. Biasanya tanaman ini ditanam bersamaan dengan proses "manugal" atau menanam padi pada areal lahan yang telah ditebas-bakar beberapa minggu sebelumnya. 


Share:

Jumat, 14 Mei 2021

Bangun Pondok Kerja Bukti Kami Serius Dirikan Taman Biodiversitas

www.bambofoundation.org - Tekad dan keseriusan Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) untuk mendirikan taman biodiversitas semakin bulat. Sebagai salah satu bentuk keseriusan ini ialah dengan mendirikan Pondok Kerja di pusat kawasan taman. Kendati hanya berukuran 5,5 m x 4 meter dan hanya berbahan kayu, bangunan ini diperkirakan setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp 13.405.000 rupiah. 

Pendiri Yayasan Bambo

Kendala nihilnya anggaran yang menjadi masalah terbesar saat ini tidak membuat Muhammad Jumani Founder Bambo Foundation berpatah arang. Sembari menunggu donasi yang digalang melalui www.kibtaisa.com/suluhpambelum, secara swadaya bersama rekan-rekannya mereka mulai mengumpulkan bahan, mengolah, kemudian mulai mengerjakannya bergotong royong bersama relawan Peduli Jantung Borneo. 

Pondok Kerja

Ada cerita menarik dalam mengumpulkan material-material yang secara dominan berbahan kayu kelas I karena selain didapatkan dari sumbangan donatur, pendiri juga rela melego motor kesayangan untuk ditukar dengan bahan bangunan. Bahan yang dimaksud adalah dua kubik kayu jenis Benuas untuk keperluan rangka pokok seperti gelagar, tiang dan guntung. 

Eko Ardinatha

Beruntung untuk "Arsitektur" yayasan Bambo memiliki Eko Ardinatha yang cukup piawai dalam merancang, mengerjakan pekerjaan tukang sekaligus memberi arahan kepada relawan saat proses pengerjaan seperti memahat, memalu dan menggergaji. Untuk urusan bangunan sederhana serupa pondok kerja yang masih dibangun secara tradisional ini kami sangat dapat mengandalkannya. Pria asal Pendahara, Katingan ini memang dikenal sebagai sosok yang "low profile" sebab ia tidak sungkan membaur dan bekerja meski walaupun dalam keorganisasian Ia dipercaya sebagai ketua. 

Pondok Kerja

taman biodiversitas

Sosok lainnya yang tak boleh dilewatkan dalam proses pembangunan ini adalah Edi Sabara. Kendati pria single yang juga dikenal supel ini tidak terlalu ahli dalam dunia pertukangan, namun Ia adalah Master of Ceremonies paling berbakat yang dimiliki organisasi. Kehadirannya pada setiap even atau kegiatan yang diselenggarakan Bambo Foundation seperti Kemah Bakti literasi, Manalih Lewu atau Outdoor Class selalu membuat suasana lebih meriah. Ia memahami dalam proses membangun pondok kerja skillnya sebagai MC tidak terlalu dapat diandalkan, maka sebagai gantinya dialah yang acap kali menyediakan konsumsi bagi peserta gotong royong, tentunya meski ia adalah bendahara yayasan dengan kondisi kas yang nihil semua pengeluaran itu berasal dari kantong pribadinya.

Meski saat ini proses pembangunan Pondok Kerja baru ditahap rangka, tetapi semua juga tidak luput dari peran serta seluruh pengurus dan relawan sebut saja Andhika Prasetya, Dodie, Catrine, Subsidie, Heriwati, Delima Sinaga, Tari Budiarti, Set Nita, Alva, Yhosua, Wandinathan, Akbar, Alprianto, Debby, Riko, Jerry, serta relawan lainnya.   

Kami berharap, Pondok Kerja yang nantinya tidak hanya akan mendukung proses pengembangan kawasan menjadi Taman Biodiversitas tetapi juga menjadi sarana edukasi dan riset ini dapat segera rampung 100 persen. Tentunya kami juga sangat menyadari, pembangunan baik Pondok Kerja ataupun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum" membutuhkan banyak bantuan dan kerjasama berbagai pihak tidak hanya dalam lingkup organisasi tetapi juga dengan intansi luar yang memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga dan mempertahankan kekayaan alam kita yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu kami mengajak seluruh pihak untuk mendukung upaya ini dengan berdonasi melalui Rek BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO atau secara online di website www.kibtaisa.com/suluhpambelum

Share:

Rabu, 12 Mei 2021

Pesona Scindapsus Borneo (Kalimantan)

www.bambofoundation.org - Pesona Scindapsus tanaman hutan dari suku monstera yang sedang naik kelas kian menghipnotis para pehobies tanaman hias. Tidak tanggung-tanggung harga per "plant" bisa membuat peminatnya haru rela mengeluarkan ratusan hingga jutaan rupiah. Padahal tadinya, tanaman-tanaman dengan karakter dan pola unik ini dulunya hanyalah tanaman liar yang banyak tumbuh di hutan-hutan. 

Daftar Scindapsus Borneo

Tanaman Scindapsus adalah sekelompok tanaman yang berasal dari keluarga Araceae. Walaupun banyak ditemukan di Indonesia, pada dasarnya genus ini juga dijumpai di beberapa daerah lain di Asia Tenggara, New Guinea, Queensland dan beberapa pulau di Pasifik Barat. Diketahui setidaknya ada sekitar 35 spesies Scindapsus yang terdata, menariknya sekitar 12 jenis di antaranya dapat ditemukan di Pulau Borneo (Kalimantan).

Beberapa jenis Scindapsus yang di temukan di pulau Borneo (mencakup wilayah negara Malaysia dan Brunei Darussalam) adalah sebagai berikut. 

Scindapsus coriaceus 

Jenis ini termasuk spesies Scindapus langka Borneo dan data tentang detail tanaman masih sangat terbatas. Beberapa referensi menyebutkan tanaman ini tercatat di jumpai di gunung Kinabalau, Sabah, Malaysia. Gunung Kinabalau adalah gunung dengan puncak tertinggi di Kalimantan dan termasuk dalam salah satu gunung tertinggi di Asia Tenggara dengan tinggi  4.095,2 meter. Wilayah gunung ini termasuk area berstatus kawasan konservasi taman nasional. 

Scindapsus crassipes 

Data mengenai spesies Scindapsus yang satu ini juga masih terbilang minim dan sangat terbatas. Scindapsus crassipes diketahui  merupakan jenis tumbuhan asli yang dijumpai di Pulau Kalimantan. Walaupun dalam beberapa literatur koleksi yang ditemukan berasal dari Serawak, Malaysia namun tidak menutup kemungkinan juga terdapat di beberapa daerah lain di pulau terbesar ke tiga di dunia ini.

Scindapsus beccarii

Flora yang satu ini memiliki daerah sebaran yang sedikit lebih luas yakni tidak hanya terbatas di Borneo saja tetapi juga Sumatera, dan semenanjung Malaysia.  Tumbuhan perennial ini tumbuh pada daerah yang relatif lembab dengan intensitas cahaya matahari redup hingga sedang.  Seperti ciri khas tanaman tropis pada umumnya yang menyukai kelembaban tinggi ia dapat mentolerir suhu antara 21  hingga 32 derajat celcius. 

Bagi para pehobies tanaman hias yang ingin merawat jenis Scindapsus Borneo ini harus memperhatikan kelembaban media yang dapat menggunakan tanah yang subur dan memiliki prositas yang baik. Hal ini sangat penting untuk menjaga kelembaban media, sebab akar Scindapsus beccarii rentan terhadap pembusukan jika media terlalu basah. Pemupukan dapat dilakukan setiap dua minggu sekali ketika tanaman tampak tumbuh dengan aktif. Perbanyakan dapat dilakukan dengan cara stek batang. 

Scindapsus glaucescens

Pesona Scindapsus Borneo berikutnya juga tidak kalah unik dan langka yakni Scindapsus glaucescens. Seperti halnya jenis yang lain flora endemik Borneo ini juga merupakan tanaman yang biasa tumbuh  dengan "memanjat" pohon-pohon yang ada disekitarnya. Diduga ini adalah salah satu bentuk upayanya dalam mendapatkan sinar matahari yang sangat terbatas pada bagian lantai hutan karena tajuk pepohonan yang begitu lebat di hutan hujan. 

Tangkai daun yang panjang dengan bentuk daun yang cenderung berbentuk bulat lonjong (oval) berwarna hijau solid menjadi ciri khas tanaman. Dibandingkan dengan beberapa spesies lain yang lebih populer sebagai tanaman hias, jenis ini nampaknya belum terlalu dilirik barangkali selain karena informasinya yang sangat terbatas juga karena sifat endemisitasnya. 

Scindapsus hederaceus

Habitat Scindapus jenis ini memiliki daerah sebaran mulai dari Indo-china, Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Malaysia. Pada umumnya tumbuh di hutan cemara kering, dan sangat jarang di hutan rawa gambut, di atas batu pasir serta batu kapur. 

Di habitat alaminya secara fisik, termasuk tumbuhan yang berukuran sedang hingga besar dengan daun yang tersusun secara teratur pada batang pemanjat dan cenderung berkumpul pada ujung batang yang berbunga. Namun pada beberapa kasus di tangan pehobies cenderung tergolong jenis yang tumbuh dengan lambat. Meski demikian tanaman ini ternyata memiliki nilai eksotisme yang cukup kuat. Warna hijau kebiruan yang solid dan daun yang elegan membuatnya nampak berkarisma. 

Scindapsus latifolius

Data dan informasi Scindapsus endemik Borneo ini masih sangat terbatas. Selain diketahui menjadi salah satu koleksi Brunei Darussalam, berdasarkan laporan Mitsuru Hota tanaman ini ditemukan di Sarawak, Malaysia. 

Jika diamati berdasarkan identifikasi visual, tanaman ini termasuk tanaman berukuran sedang hingga besar. Daun berwarna hijau berbentuk bulat lonjong melekat pada tangkai daun yang relatif besar dan panjang. Uniknya pada bagian ujung batang tampaknya terdapat semacam rambut atau serat-serat seperti ijuk pada pohon enau. Jenis ini nampaknya belum terlalu populer sebagai tanaman hias dikalangan pehobies. 

Scindapsus longistipitatus

Tanaman endemik ini lagi-lagi sangat sulit ditemukan referensinya. Selain koleksi berupa herbarium di Royal Botanic Garden yang menyebutkan bahwa tanaman ini dikoleksi dari Sabah Banguey Island, Malaysia informasi lainnya hampir tidak ada. 

Ciri fisik yang dapat dideskripsikan dari penampakan visual tanaman ini yang mungkin menjadi ciri khas adalah adanya semacam pelebaran seperti sayap pada tangkai daun yang relatif panjang. Tangkai daun ini menopang daun berukuran relatif sedang dengan bentuk bulat lonjong dengan ujung daun agak lancip. Seperti halnya kebanyakan Scindapsus, jenis ini juga merupakan tanaman "pemanjat".

Scindapsus mamilliferus 

Salah satu spesies endemik yang tercatat menjadi koleksi hidup di Bogor Botanic Garden. 

Scindapsus perakensis 

Tersebar luas dibeberapa daerah seperti Bangladesh, Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Jawa, Sumatra, Sulawesi, Filipina. Termasuk jenis Scindapus Gren Leaf berdaun mengkilap yang sudah cukup dikenal sebagai tanaman hias. Namanya perakensis barangkali mengacu pada herbarium yang terdapat di Royal Botanical Garden yang dikoleksi dari Perak, Malaysia. 

Scindapsus pictus

Merupakan jenis yang umum dan memiliki cukup banyak variasi. Tersebar mulai dari India, Bangladesh, Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Filipina. Di habitatnya tanaman ini dapat tumbuh hingga ketinggian 3 meter, pada daerah yang cenderung ternaung yang bahkan dapat mentorelerir suhu minimum hingga 15 derajat celcius. 

Ciri khas dari jenis ini adalah adanya bercak-bercak putih "pictus" pada permukaan daunnya yang berbentuk bulat lonjong dan cenderung runcing pada bagian ujung. Sekilas bentuk daun ini mirip bentuk syimbol hati yang tidak sempurna karena bagian bawahnya agak melengkung kesamping. Beberapa varietasnya memiliki harga yang cukup fantastis dikalangan pecinta tanaman hias. Salah satu varietasnya yakni Scindapsus pictus "exotica" merupakan tanaman asli yang tumbuh di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum yang dibangun oleh Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation)

Scindapsus rupestris

Tanaman khas dengan daun hijau secara menyeluruh. Tangkai daun agak kaku dan relatif panjang. Termasuk jenis Scindapsus yang cukup umum dan dapat ditemukan di Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, dan Sumatra.

Scindapsus treubii

Pesona Scindapus treubii terletak pada daunnya yang tampaknya dibedakan menjadi dua varietas yakni Moonlight dan Dark Form. Pada varietas Moonlight daun yang nampak menyerupai lambang hati tersebut lebih cerah pada bagian tengah. Warna ini nampak seperti sebuah krem yang dikuaskan pada permukaan daun, sedangkan pada varietas Dark Form warna daun pada permukaan tampak hijau gelap secara keseluruhan. 

Kendati bukan tanaman endemik Kalimantan, jenis ini cukup bernilai dikalangan kolektor tanaman hias. Jenis ini tesebar luas mulai didaerah Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, dan Sumatra. 

Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas Untuk Selamatkan Jantung Borneo Kita !

Share:

Minggu, 09 Mei 2021

Rambusa buah liar yang berkhasiat

www.bambofoundation.org - Anak-anak yang pernah tinggal di pedesaan khususnya di Kalimantan pasti sudah tidak asing dengan buah Rambusa (Passiflora foetida Linne). Tanaman unik ini dikenal dengan banyak nama lokal seperti cemot, bilaran, kalimutan dan permot. Walaupun pada masa kanak-kanak hanya tergoda dengan rasa buahnya yang manis sedikit asam dan terasa segar ketika sudah matang ternyata buah yang diduga dulunya berasal dari amerika latin ini memiliki cukup banyak khasiat kesehatan. 

Khasiat buah rambusa

Buah cemot atau rambusa umumnya tumbuh liar atau tidak ditanam secara sengaja. Tanaman tergolong herba ini tumbuh menjalar atau merambat di atas permukaan tanah atau "mengikatkan" diri pada tanaman-lain disekitarnya karena adanya semacam "tentakel" yang keluar didekat pangkal tangkai daun. Daunnya memiliki rambut-rambut halus sejenis trikoma sehingga terasa kasar saat dipegang. 

Bentuk buah bilaran

Secara fisik buah rambusa berwarna hijau saat muda dan berangsur berubah kuning hingga jingga ketika matang. Semakin ketingkat oranye ini, isi buah yang lebih tampak seperti markisa mini semakin terasa lebih manis dan sedikit rasa asam. Buah yang hanya seukuran kelereng ini sangat unik karena ditutupi oleh daun pembalut serupa benang yang teranyam sehingga terlihat seperti sebuah mutiara di dalam keranjang berbentuk bulat. 

Manfaat buah rambusa di pedesaan

Buah "cemot" mengandung mineral seperti potassium, kalsium, dan zat besi. Kandungan potassiumnya sangat berguna bagi tubuh diantaranya dapat menguatkan otot, mencegah stroke, mengontrol tekanan darah, menjaga sistem syaraf dan sebagainya.

Manfaat buah "cemot" atau rambusa  antara lain :

1. Menjaga Kesehatan Tulang

2. Mencegah Anemia

3. Mencegah  Kanker

4. Mengontrol Tekanan Darah

5. Menjaga Kesehatan Gusi dan Gigi

Terkadang pucuk atau "suluh" yakni ujung tanaman ini juga dapat manfaatkan untuk sayur. Namun perlu diingat, kendati buah yang sudah matang rasanya enak dan berkhasiat obat namun tidak dianjurkan memakan buah yang masih muda (berwarna hijau) karena diketahui beracun, namun jenis racun apa atau zat apa yang terkandung pada buah yang masih muda belum dijumpai sumber yang menyebutkannya. 

Share:

Sabtu, 08 Mei 2021

Bagaimana Kunang-kunang dapat menghasilkan cahaya ?

www.bambofoundation.org - Kunang-kunang cenderung lebih banyak ditemukan di pedesaan dibandingkan dengan daerah kota atau pemukiman yang padat. Jika menengok kebelakang belasan atau puluhan tahun silam, serangga malam ini masih sangat dengan mudah dapat kita jumpai di sekitar rumah ataupun pematang sawah. Namun kini, bahkan dibeberapa hutan kota sekalipun serangga kecil ini sudah sangat jarang ditemukan. 

Bagaimana kunang-kunang menghasilkan cahaya

Menurut beberapa sumber, serangga malam ini merupakan salah satu hewan yang sensitif terhadap perubahan habitat alaminya terutama akibat pencemaran berupa penggunaan pestisida yang mencemari tanah, asap dan gas buang kendaraan dan pabrik-pabrik bahkan cahaya yang ternyata dapat menganggu ritual kawin mereka. Tidak heran, semua faktor yang disebutkan sangat identik dengan daerah perkotaan dan pemukiman-pemukiman padat yang sudah mulai meninggalkan habit atau kebiasaan ramah lingkungan. 

Popularitas kunang-kunang sebenarnya terletak dari kemampuannya menghasilkan cahaya. Cahaya yang dihasilkan ada yang terus menerus namun adapula yang tampak berkedip-kedip bergantung pada jenisnya.  Diperkirakan setidaknya ada 1.100 spesies kunang-kunang dengan ciri fisik secara umum memiliki tubuh agak lonjong dan sayap lentur. Pejantan bersayap utuh dan memiliki mata majemuk yang besar sedangkan betinanya kebanyakan tanpa sayap dengan mata kecil mirip larva bersegmen. Larva ini bersifat karnivor dengan memangsa siput dan keong.

Lantas dari manakah sumber cahaya kunang-kunang ?

Kunang-kunang menghasilkan cahaya karena adanya organ pembuat cahaya yang terdapat pada segmen tertentu dibagian perut atau kadang-kadang di dadanya. Dari sini cahaya berwarna kuning ke hijauan langsung dihasilkan ketika zat yang disebut "lusiferin" dioksidasi menjadi oksi­-lusiferin oleh oksigen di udara dengan adanya air dan enzim lusiferase.

Energi cahaya yang dihasilkan serangga ini sangat efesien. Cahaya yang dihasilkan kunang-kunang memiliki efesiensi 95 persen,  bandingkan dengan cahaya matahari yang hanya 35 persen atau lampu pijar yang hanya mengubah 10 persen energinya menjadi cahaya. 

Kapan kamu terakhir kali melihat kunang-kunang ?

Saat malam hari di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum yang sedang kami bangun masih terdapat banyak kunang-kunang. Sebuah anugerah alam titipan sang Maha Kuasa yang wajib kita jaga dan lestarikan, terlebih bagi mereka yang pernah memiliki kenangan indah bersama kunang-kunang di masa kecil, tetap bisa menyaksikan "lentera-lentera"  mungil ini beterbangan dimalam hari adalah sebuah kesempatan yang sangat berarti. 

Mari Jaga Jantung Borneo Kita ! dengan  Patungan Bangun Taman Biodiversitas

Share:

Rabu, 05 Mei 2021

Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Perlahan tetapi pasti sejak tahun 2019 lalu Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) sedikit demi sedikit  membebaskan lahan masyarakat untuk melestarikan buah lokal yang terancam punah. Pada awalnya areal seluas 0,25 Ha ini akan diarahkan menjadi kebun buah lokal, namun dengan berbagai pertimbangan termasuk dengan ditemukanya fakta bahwa ada beberapa jenis hewan endemik dan dilindungi disekitar kawasan maka diputuskan untuk mengembangkannya menjadi  Taman Biodiversitas. 

Taman Biodiversitas atau taman keanekaragaman hayati (Kehati) memiliki beberapa fungsi antara lain tempat pelestarian tumbuhan lokal, sarana rekreasi, tempat edukasi, sumber genetik tumbuhan lokal, ruang terbuka hijau dan tutupan vegetasi. Saat ini sudah ada ratusan bibit buah termasuk beberapa jenis buah langka yang ditanam di kawasan ini. 

Sayangnya biaya untuk membangun sebuah taman biodiversitas tidaklah sedikit bahkan untuk yang sangat sederhana sekalipun. Untuk itu kami mengajak seluruh lapisan masyarakat, siapapun dan dengan latar belakang apapun untuk turut bergabung Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas yang kami beri nama "Suluh Pambelum" atau "Tunas Kehidupan". 

Kami telah meluncurkan sebuah laman penggalangan dana di situs Kitabisa.com/suluhpambelum. Bagi sahabat sekalian yang belum pernah melakukan donasi di situs ini berikut tutorial atau panduannya. 

1. Klik halaman penggalangan dana www.kitabisa.com/suluhpambelum. Link tersebut akan mengarah pada halaman penggalangan dana dengan judul " Bantu Bangun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum" kemudian klik tombol berwarna merah muda dengan tulisan donasi sekarang.

Cara donasi Bangun Taman Biodiversitas

2. Langkah berikutnya adalah memasukan nominal donasi. Untuk donasi melalui situs atau laman ini nilai minimum atau paling sedikit adalah Rp 10.000,- namun jika melalui aplikasi maka nominal paling rendah untuk donasi adalah Rp 1.000,-. Nominal ini masih bisa dikoreksi atau diedit di halaman selanjutnya.
Cara donasi lingkungan

3. Pilih metode pembayaran. Ada banyak jenis metode atau alternatif pilihan pembayaran donasi, Misalnya pembayaran instan menggunakan e wallet seperti gopay, dompet kebaikan kitabisa, DANA, ShopePay, Linkaja, dan Jenius Pay. Alternatif lain adalah mentransfer ke akun virtual berbagai jenis bank antara lain BCA, MANDIRI, BNI, BRI dan BSI. Pilihan lainnya juga bisa langsung transfer bank atau menggunakan kartu kredit.  Untuk memilih metode pembayaran  klik pada salah satu yang anda inginkan. Untuk contoh panduan donasi kali ini kami akan menggunakan virtual akun BRI. 

Panduan terbaru donasi kitabisa.com

Cara bayar donasi kitabisa.com

cara Berdonasi bidang lingkungan

4. Setelah memilih metode pembayaran maka halaman selanjutnya adalah mengisi nominal donasi. Nominal nominasi akan secara otomatis terisi nilai yang anda pilih pada langkah dua, jika ingin dirubah cukup arahkan pada kolom nominal dan hapus lalu ganti dengan nominal yang baru, jika tidak maka bisa langsung mengisi nama di kolom Nama lengkap dan Nomor HP di Nomor Ponsel atau Email. Klik di sebelah kanan tulisan "sembunyian nama saya" jika ingin berdonasi sebagai anonim (tanpa nama). Anda juga bisa menuliskan doa atau harapan kepada penggalang dana tau anda sendiri di kolom terakhir sebelum lanjut pembayaran.

Cara donasi kitabisa.com

5. Segera anda akan masuk ke halaman instruksi pembayaran serta nomor akun bank virtual  (pada tutorial ini sebelumnya  memilih metode pembayaran menggunakan virtual akun bank BRI). Jika masih belum yakin dan bingung, maka bisa klik salah satu dari tiga panduan pembayaran. 

Membantu penggalangan dana di kitabisa.com
6. Misalnya jika ingin melakukan pembayaran menggunakan BRI Mobile Banking maka caranya dapat dilihat seperti di gambar berikut. 
Cara donasi kitabisa.com pakai BRI

Jangan ragu untuk berdonasi meski hanya Rp 1.000,- , karena bagi kami tidak ada nominal yang terlalu sedikit untuk ikut Patungan Bangun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum". 

Donasi secara langsung juga bisa dikirimkan ke rek BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO (mohon kesediaanya untuk konfirmasi nama dan nominal transfer ke 082255313036). 

Kami juga mohon dengan hormat bagi Bapak/ Ibu atau sahabat sekalian yang bekerja atau memimpin sebuah instansi dan dapat membantu tetapi memerlukan proposal atau usulan agar berkenan menghubungi kami melalui Tlp/ WA : 0822 5531 3036 - Muhammad Jumani atau 0822 5150 6889 - Eko Ardinatha.



Share:

Selasa, 04 Mei 2021

Mengenal Kadal Pohon Reptil Endemik Kalimantan

www.bambofoundation.org - Kadal pohon Kalimantan adalah sedikit jenis kadal yang lebih banyak menghabiskan waktu di pepohonan untuk tinggal, mencari makan hingga berkembangbiak. Jenis kadal pohon ini dalam bahasa Inggris disebut Striped Bornean Tree Skink atau Striped Tree Skink.

Kadal Pohon Kalimantan

Secara fisik Kadal Pohon Kalimantan tidak jauh berbeda dengan kadal serasah atau bengkarung pada umumnya. Selain aktivitasnya yang lebih dominan di batang dan dahan pohon, spesies ini dapat dikenali dari motif strip atau warna pada tubuhnya. Kadal Pohon Kalimantan didominasi warna coklat dengan bintik-bintik kuning pada bagian tubuh terutama punggung, kaki hingga ekor. Pada kepala hingga leher warna cenderung hitam dengan pita atau strip putih kekuningan. Sedangkan pada sisi bagian perut, bagian dalam kaki serta ekor berwarna hijau. 

Reptil dengan nama ilmiah atau nama latin Dasia vittata ini memiliki panjang tubuh sekitar 10,8 cm dan sangat lincah memanjat. Jari-jari kakinya yang ramping dan kuku-kuku yang tajam sangat mendukung aktivitasnya dalam mencari makan di pepohonan berupa semut dan serangga kecil. Warna tubuh khususnya bagian punggung yang dominan coklat cukup baik dalam membantunya membaur dengan warna-kulit-kulit kayu. 

Kadal Pohon Kalimantan ini adalah salah satu dari dua jenis fauna eksotis  endemik yang ditemukan disekitar kawasan Taman Biodiversitas Suluh Pambelum Bambo Foundation. Selain jenis reptil, jenis mamalia kecil yakni Tupai Kerdil Kalimantan atau Bornean Pygmy Squirrel (Exilisciurus exilis) juga tercatat hidup disekitar kawasan ini. Uniknya selain endemik hanya di Pulau Kalimantan hewan mungil ini  juga tercata  menyandang predikat tupai terkecil didunia.

Selain hewan endemik, di areal yang dikembangkan menjadi taman biodiversitas ini juga diketahui menjadi habitat dua hewan dilindungi yaitu dari bangsa kupu-kupu (Trogonoptera brookiana) yang masuk kedalam Appendix II CITES dan Pelanduk Kancil (Tragulus kanchil) satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Diyakini masih ada jenis hewan endemik atau dilindungi  yang belum teridentifikasi di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum, terutama dari kelompok serangga dengan spesies yang jauh lebih berlimpah, namun tidak menutup kemungkinan dari kelas Aves yang juga terpantau cukup beragam.

Taman biodiversitas sendiri pada dasarnya memiliki beberapa fungsi antara lain :

  1. Tempat pelestarian tumbuhan lokal khususnya yang memiliki tingkat ancaman tinggi terhadap kelestariannya
  2. Sebagai sarana rekreasi berbasis lingkungan
  3. Tempat edukasi bagi pelajar dan masyarakat umum
  4. Sumber genetik tumbuhan dan tanaman lokal
  5. Ruang terbuka hijau
  6. Tutupan vegetasi
Pada awalnya, areal seluas 0,25 Ha yang sedang dikembangkan akan dijadikan taman buah lokal, namun mengingat adanya beberapa spesies penting di areal ini serta pertimbangan lainnya maka disepakati untuk mendirikan Taman Biodiversitas. Sayangnya pendirian taman biodiversitas membutuhkan biaya tidak sedikit, terutam biaya pembebasan lahan dan sarana penunjang. Untuk itu selain menyisihkan dana dari  penghasilan pribadi,  sumber dana bergantung pada propsal dan penggalangan melalui situs crowdfounding.  Kami mengajak siapa saja untuk sama-sama bergerak membantu mewujudkan taman biodiversitas ini dengan berdonasi melalui laman www.kitabisa.com/suluhpambelum atau donasi secara langsung ke rek  BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO

Ikuti aktivitas kami melalui halaman facebook www.facebook.com/bambofoundation dan IG : Bambo_Foundation.



Share:

Selasa, 30 Maret 2021

Selamatkan Tumbuhan Lokal Melalui Taman Biodiversitas

SariAgri - Prihatin akan keberadaan tumbuhan buah lokal yang kian langka mendorong Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) berinisiatif mendirikan Taman Biodiversitas di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah.

Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

“Setiap tahun kehadiran buah-buahan lokal di pasar tradisional dan desa-desa yang dulu merupakan penghasilnya semakin berkurang, sementara upaya perbanyakan atau penanaman kembali nyaris tidak ada,” kata founder Bambo Foundation, Muhammad Jumani.

Terancamnya keberadaan buah-buah lokal tersebut, ungkap dia, akibat alih fungsi lahan dan kebiasaan sebagian masyarakat yang menempuh cara instan untuk memanen buah dengan cara menebang pohonnya. Padahal jika bergantung pada alam, perlu waktu hingga puluhan tahun bagi biji-bijian tersebut untuk bisa mencapai usia produktif dan menghasilkan buah.

Untuk itu, sejak 2016 Bambo Foundation memulai berburu biji-bijian tumbuhan buah lokal dari desa ke desa khususnya di Kecamatan Petak Malai untuk keperluan perbanyakan menggunakan teknik tanam biji di dalam polybag. Hasilnya, sudah ada ratusan bibit tumbuhan buah lokal yang sudah dan siap tanam.

Kini Taman Biodiversitas yang dirintis pada 23 Agustus 2019 itu sudah memiliki lebih dari seratusan bibit buah yang mana sebagian di antaranya adalah buah-buahan lokal eksotis dan khas seperti asam pangi (Mangifera pajang), kapul/ tampoi (Baccaurea macrocarpa), tenggareng (Nephelium ramboutan-ake), tangkuhis (Dimocarpus longan var malaysianus), kecapi (Sandoricum koetjapi), balangkasua, dan durian merah (Durio dulcis).

Tidak mudah menemukan areal yang tepat dan cukup luas untuk mendirikan sebuah Taman Biodiversitas. Beruntung, berkat kegigihan dan semangat pantang menyerah, hasil patungan pengurus akhirnya bisa membebaskan lahan milik masyarakat dengan sistem buy back land.

Sebelumnya Jumani, sapaan akrab pria kelahiran Batola, 22 Februari 1985 ini, menuturkan pernah melakukan penanaman bibit tumbuhan lokal bersama-sama masyarakat di beberapa lahan kosong strategis di Desa Tumbang Baraoi, seperti lingkungan SMA dan SD serta sekitar area Lapangan Sepak Bola “Buluh Merindu”, bertepatan Hari Bumi tahun 2018 namun hasilnya belum memuaskan.

“Penanaman tahun 2018 di lahan kosong areal pemukiman kurang efektif karena sulit kontroling, jadi kami berinisiatif membebaskan lahan tidur milik warga dengan sistem membeli lagi lahan masyarakat yang ditelantarkan tersebut, untuk dirintis menjadi Taman Biodiversitas agar lebih mudah dalam perawatan dan pengawasan,” ujar dia.

Pendirian Taman Biodiversitas adalah salah satu bentuk dukungan Yayasan Bambo kepada pemerintah dalam upaya melestarikankeanekaragaman hayati Indonesia. Selain sebagai tempat pelestarian tumbuhan lokal, taman biodiversitas juga berperan sebagai sumber genetik tumbuhan, tutupan vegetasi, ruang terbuka hijau dan ekowisata.

Sementara itu, pegiat konservasi keragaman hayati dari Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) Ferry F. Hoesain, menyambut baik dan mengapresiasi atas upaya yang dilakukan Jumani dan timnya, Kalteng untuk melestarikan tumbuhan buah lokal yang saat ini semangkin langka.

Ferry, yang juga dikenal sebagai pelestari anggrek alam ini, berharap nantinya di Taman Biodiversitas yang dibangun Jumani dan kawan-kawan, bisa semakin banyak tanaman lokal yang bisa dikumpulkan dan ditumbuhkan dengan baik sehingga dapat menjadi tempat riset.

“Melalui kegiatan kepeloporan yang dilakukan oleh Jumani ini diharapkan, bisa juga menjadi inspirasi bagi tokoh muda di daerahnya masing-masing. Sehingga terbangun mata rantai kepedulian terhadap lingkungan, khususnya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia, yang banyak sekali, bahkan mungkin ada yang belum teridentifikasi,” kata Ferry.

Sumber  : Sari Agri

Share:

Sabtu, 20 Maret 2021

Terlalu Dekat Dengan Hutan, Gedung Walet Bahayakan Satwa Liar

www.bambofoundation.org- Konflik antara satwa dan manusia menjadi sesuatu yang tak terhindarkan seiring banyaknya aktivitas manusia yang bersinggungan dengan alam. Cerita tragis Orangutan, Bekantan, Beruang, hingga Harimau yang terbunuh karena masuk pemukiman atau perkebunan warga adalah beberapa contoh ironi yang membuat miris hati.

Antang Alem

Muhammad Jumani, Pendiri Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) yang salah satu programnya bergerak dibidang lingkungan menjelaskan satwa-satwa tersebut dianggap sebagai hama atau ancaman karena harus berjuang hidup ditengah himpitan minimnya sumber pakan atau buruan akibat semakin masifnya kerusakan hutan dan alih fungsi lahan yang menjadi habitat mereka. Padahal semua itu tak lain karena insting bertahan hidup yang menuntunnya mengambil resiko memasuki pemukiman mencari makan sekedar agar tidak mati kelaparan.

Antang Alem

Kisah malang yang dialami contoh hewan-hewan di atas yang harus berhadapan dengan manusia juga tak luput dialami oleh Alap-Alap Walet (Falco subbuteo) burung dari keluarga Falconidae yang oleh sebagian masyarakat Katingan dikenal dengan sebutan “Antang Alem”.


Burung yang dalam bahasa Inggris disebut Eurasian hobby ini adalah salah satu jenis burung pemangsa berukuran kecil dan ramping dengan panjang tubuh antara 29-26 cm. Rentang sayapnya dapat membentang hingga 84 cm. Berat tubuhnya sangat ringan di mana jantan hanya 131-232 gram dan betina sekitar 141-340 gram sehingga wajar sangat efektif menjadikannya seekor predator handal.

Jumani, sapaan akrab laki-laki yang juga Guru di SMAN 1 Petak Malai ini menuturkan di beberapa daerah termasuk Katingan, Alap-alap walet sering kali dicap sebagai hama karena diyakini kerap memangsa burung walet menjelang malam hari ketika burung-burung tersebut akan masuk ke pintu gedung-gedung yang dibangun untuk mereka bersarang. Karena kebiasaan inilah ia mendapat julukan “Antang Alem” atau jika dalam bahasa Indonesia berarti “Elang Malam”.

“Hewan memiliki insting yang menuntun mereka pada mangsa”, ujar Jumani di Petak malai, Selasa.

Potensi menggiurkan dari bisnis sarang burung walet membuat gedung-gedung sarang burung walet menjamur tidak hanya di daerah pemukiman tetapi juga daerah-daerah pinggiran hutan yang sejatinya merupakan habitat Si “Antang Alem”.  Konflik pun tak bisa terhindarkan antara pemilik gedung dan hewan malang tersebut. Dampaknya Si “Antang Alem” kerap diburu dengan senapan atau dijebak menggunakan jaring khusus Karena dianggap sebagai hama.

Meskipun saat ini IUCN Red List masih menetapkan satwa ini dalam status kurang mengkhawatirkan namun perdagangan Alap-alap walet masuk dalam katagori Appendix II, di mana perdaganganya harus mengikuti peraturan tertentu, selain itu upaya perlindungan hewan ini juga diatur dalam PP no 7 tahun 1999.

Kekhawatiran terhadap kelestarian alam termasuk isu-isu lingkungan semisal konflik satwa liar dengan masyarakat seperti inilah yang mendorong Jumani melalui Bambo Foundation aktif mendukung pemerintah dalam bidang lingkungan melalui berbagai kegiatan, salah satunya dengan menggagas Program Peduli jantung Borneo (PJB) pada tahun 2019 dengan merintis Taman Biodiversitas di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan.

Jumani berharap, upaya-upaya atau langkah-langkah konkrit untuk menjaga flora dan fauna dari ancaman kepunahan harus dipikirkan sedini mungkin tidak hanya oleh pemerintah tetapi seluruh komponen masyarakat. Sebab hutan dan kekayaan alam yang ada saat ini adalah titipan anak cucu kita kelak yang harus kita jaga dan pertanggungjawabkan. 

Share:

Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah- Indonesia 74459