Sabtu, 08 Mei 2021

Bagaimana Kunang-kunang dapat menghasilkan cahaya ?

www.bambofoundation.org - Kunang-kunang cenderung lebih banyak ditemukan di pedesaan dibandingkan dengan daerah kota atau pemukiman yang padat. Jika menengok kebelakang belasan atau puluhan tahun silam, serangga malam ini masih sangat dengan mudah dapat kita jumpai di sekitar rumah ataupun pematang sawah. Namun kini, bahkan dibeberapa hutan kota sekalipun serangga kecil ini sudah sangat jarang ditemukan. 

Bagaimana kunang-kunang menghasilkan cahaya

Menurut beberapa sumber, serangga malam ini merupakan salah satu hewan yang sensitif terhadap perubahan habitat alaminya terutama akibat pencemaran berupa penggunaan pestisida yang mencemari tanah, asap dan gas buang kendaraan dan pabrik-pabrik bahkan cahaya yang ternyata dapat menganggu ritual kawin mereka. Tidak heran, semua faktor yang disebutkan sangat identik dengan daerah perkotaan dan pemukiman-pemukiman padat yang sudah mulai meninggalkan habit atau kebiasaan ramah lingkungan. 

Popularitas kunang-kunang sebenarnya terletak dari kemampuannya menghasilkan cahaya. Cahaya yang dihasilkan ada yang terus menerus namun adapula yang tampak berkedip-kedip bergantung pada jenisnya.  Diperkirakan setidaknya ada 1.100 spesies kunang-kunang dengan ciri fisik secara umum memiliki tubuh agak lonjong dan sayap lentur. Pejantan bersayap utuh dan memiliki mata majemuk yang besar sedangkan betinanya kebanyakan tanpa sayap dengan mata kecil mirip larva bersegmen. Larva ini bersifat karnivor dengan memangsa siput dan keong.

Lantas dari manakah sumber cahaya kunang-kunang ?

Kunang-kunang menghasilkan cahaya karena adanya organ pembuat cahaya yang terdapat pada segmen tertentu dibagian perut atau kadang-kadang di dadanya. Dari sini cahaya berwarna kuning ke hijauan langsung dihasilkan ketika zat yang disebut "lusiferin" dioksidasi menjadi oksi­-lusiferin oleh oksigen di udara dengan adanya air dan enzim lusiferase.

Energi cahaya yang dihasilkan serangga ini sangat efesien. Cahaya yang dihasilkan kunang-kunang memiliki efesiensi 95 persen,  bandingkan dengan cahaya matahari yang hanya 35 persen atau lampu pijar yang hanya mengubah 10 persen energinya menjadi cahaya. 

Kapan kamu terakhir kali melihat kunang-kunang ?

Saat malam hari di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum yang sedang kami bangun masih terdapat banyak kunang-kunang. Sebuah anugerah alam titipan sang Maha Kuasa yang wajib kita jaga dan lestarikan, terlebih bagi mereka yang pernah memiliki kenangan indah bersama kunang-kunang di masa kecil, tetap bisa menyaksikan "lentera-lentera"  mungil ini beterbangan dimalam hari adalah sebuah kesempatan yang sangat berarti. 

Mari Jaga Jantung Borneo Kita ! dengan  Patungan Bangun Taman Biodiversitas

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah- Indonesia 74459