Senin, 28 Juni 2021

Berkenalan Dengan Satwa Endemik dan Dilindungi Di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum

www.bambofoundation.org - Kawasan Taman Biodiversitas Suluh Pambelum yang didirikan Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) di Desa Tumbang Baraoi Kecamatan Petak Malai Kabupaten katingan Provinsi Kalimantan Tengah ternyata menyimpan beragam fauna eksotis bahkan  bersifat endemik serta dilindungi

Kupu Trogon

Pendiri taman biodiversitas Muhammad Jumani mengatakan dari hasil pendataan sementara sedikitnya ada empat jenis fauna yang berhasil diidentifikasi berstatus dilindungi atau merupakan satwa endemik tercatat tinggal atau hidup disekitar area ini. 


Tupai Kerdil Kalimantan

"Ada empat jenis fauna yang menjadi perhatian kami. Dua diantaranya berstatus endemik dan dua lagi merupakan hewan yang dilindungi dan masuk dalam daftar appendix II", ujar Jumani.  

Lebih lanjut Founder Bambo Foundation ini menjelaskan empat fauna yang dimaksud yang pertama adalah dari kelompok mamalia yakni Tupai Kerdil Kalimantan (Exilisciurus exilis) yang juga dikenal dengan sebutan "Bornean Pygmi Squirrel" yakni sejenis tupai kecil yang panjang totalnya hanya sekitar 12,5 cm dengan berat kurang dari 20 gram. Selain berstatus endemik hewan mungil ini juga tercatat sebagai salah satu jenis tupai terkecil di dunia. 

Kadal pohon kalimantan

Hewan yang kedua merupakan jenis reptil bersisik yang dikenal dengan nama Kadal Pohon Kalimantan (Dasia vittata). Sesuai namanya hewan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dipepohonan mencari semut atau serangga kecil ini tercatat sebagai hewan endemik yang mana hanya terdapat di pulau Kalimantan.

Fauna eksotis berikutnya adalah jenis serangga dari bangsa Lepidoptera yang familiar dengan nama Kupu Trogon atau Kupu-kupu Rajah Brooke. Kupu-kupu dengan nama ilmiah Trogonoptera brookiana dapat dikenali dari sayapnya yang dominan hitam kombinasi hijau terang. Jenis ini merupakan hewan dilindungi yang terdaftar dalam Appendix II CITES. CITES adalah sebuah konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies flora dan satwa  liar, sedangkan Appendix II adalah daftar spesies yang tidak terancam kepunahan, tapi mungkin terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan. 

Hewan yang ke empat adalah binatang yang sangat populer dalam dunia dongeng atau fabel yaitu Kancil atau Pelanduk (Tragulus kanchil). Spesies sebangsa rusa namun berukuran lebih kecil ini merupakan hewan penghuni hutan primer dan sekunder termasuk di Kalimantan. Kendati perburuan terhadap hewan ini cukup umum, seluruh genus pelanduk (Tragulus) merupakan satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Lebih lanjut ia menceritakan, di areal kurang lebih 2500 m2 tersebut pada awalnya akan dibuat taman buah lokal, namun karena berbagai pertimbangan termasuk ditemukannya beberapa fauna eksotis endemik serta dilindungi tersebut akhirnya diputuskan untuk ditingkatkan menjadi taman biodiversitas. 

Taman biodiversitas sendiri pada dasarnya memiliki beberapa fungsi antara lain :

  1. Tempat pelestarian tumbuhan lokal khususnya yang memiliki tingkat ancaman tinggi terhadap kelestariannya
  2. Sebagai sarana rekreasi berbasis lingkungan
  3. Tempat edukasi bagi pelajar dan masyarakat umum
  4. Sumber genetik tumbuhan dan tanaman lokal
  5. Ruang terbuka hijau
  6. Tutupan vegetasi

Jumani berharap gagasan yang ia coba wujudkan bersama rekan-rekannya ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hal ini ia sampaikan mengingat dana yang diperlukan untuk mengembangkan areal menjadi sebuah taman biodiversitas yang dapat memenuhi setidaknya enam fungsi dimaksud membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain mengandalkan swadaya dan kantong pribadi, sumber dana yang diharapkan hanyalah dari proposal dan donasi di situs penggalangan online kitabisa.com

"Salah satu tujuan utama didirikannya taman biodiversitas ini adalah untuk melestarikan buah lokal. Beragam jenis buah dan flora khas yang ada di sana tentu akan menjadi daya pikat sekaligus memberi daya dukung bagi kehidupan satwa liar yang ada disekitar kawasan yang saat ini bisa jadi semakin sulit untuk mendapatkan makanan karena dampak alih fungsi hutan dan lahan", pungkasnya. 

Sementara itu, Andhika Prasetya  selaku penanggungjawab pembangunan taman tetap optimis bisa menyelesaikan pengerjaan meski mengalami beberapa hambatan terutama  biaya pembebasan lahan “buy back land”. Dikatakan Andhika, saat ini kawasan taman baru memiliki 0,25 Ha padahal idealnya paling tidak sebuah taman biodiversitas memiliki luasan lahan 3 Ha. Karena konsepnya adalam taman maka selain berbagai jenis tumbuhan khas, di kawsan ini juga akan dibangun berapa sarana penunjang. untuk pengunjung dan wisatawan minat khusus.

"Saat ini penataan areal dan penanaman pohon buah terus dilakukan, kendati masih ada kendala kami tetap yakin bisa mewujudkannya dalam tiga tahun kedepan", ucapnya. 
Share:

Senin, 17 Mei 2021

Khasiat dan Kandungan Nutrisi Buah Botong

www.bambofoundation.org - Buah Botong atau Kundur atau Beligo adalah buah dari sejenis tanaman sayuran merambat atau menjalar di atas permukaan tanah. Buah ini memiliki dua variasi yang umum yakni yang berbentuk panjang bahkan hingga lebih dari satu meter dan yang berbentuk bulat mirip semangka. Meski secara fisik baik batang maupun buahnya relatif mirip dari segi bentuk dan ukuran (yang berbentuk bulat) namun buah Botong memiliki ciri khas yakni terdapat semacam "bulu" halus seperti beludru berwarna putih pada bagian kulit luarnya. Beludru ini akan berangsur-angsur hilang ketika buah matang namun tetap mempertahankan warnanya yakni hijau.

Sayur Botong

Buah atau sayur Botong merupakan tanaman asal Asia Tenggara namun kini sudah dibudidayakan di beberapa wilayah lain seperti Asia Timur dan Selatan. Buah yang dikenal dengan nama Winter Melon ini dikenal memiliki banyak khasiat terutama untuk kesehatan. 

Jenis sayuran yang diyakini dapat membantu program kehamilan ini memiliki daging buah berwarna putih dengan bagian tengah relatif berongga dan lebih lunak. Di dalam rongga inilah biji-biji buah botong yang sedikit lebih besar dari biji timun berada. Biji yang berwarna putih atau cenderung krem ini merupakan salah satu media perbanyakan yang lazim digunakan. 

Kandungan nutrisi dan manfaat kesehatan buah ini dilansir dari Healthline media antara lain dijelaskan bahwa buah dengan nama latin atau nama ilmiah Benincasa hispida mengandung sekitar 96 persen air. Selain  tinggi protein dan karbohidrat juga rendah kalori serta mengandung lemak baik. Nutrisi bermanfaat lainnya yang juga terkandung dalam buah ini adalah beberapa  jenis vitamin, seperti vitamin C, vitamin B1, vitamin B2, kalsium, dan zat besi. 

Serat dalam buah kundur/ botong juga terbilang cukup tinggi dan sangat baik guna melancarkan sistem pencernaan.Tidak hanya itu kandungan zat flavonoid dan karoten adalah dua jenis anti oksidan yang dipercaya dapat menjaga tubuh dari kerusakan sel, ganguan penyakit diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. 

Jenis buah yang bermanfaat untuk mendukung program kehamilan disematkan untuk botong kendati belum ada pengujian secara ilmiah mengingat manfaat kandungan asam folat sebagai salah satu gizi penting untuk meningkatkan kesuburan dan mencegah kecacatan janin juga terkandung di dalam buah botong.

Cara menanam buah botong sangat simpel, bahkan dalam beberapa kasus tumbuh dengan sendirinya dari biji yang kadang "dilemparkan" bersama kulit buah setelah di sayur. Tanaman botong tumbuh dengan baik pada kondisi tanah yang baik dengan kandungan unsur hara yang cukup. Tanaman dapat menghasilkan buah tanpa mengenal musim dan biasanya sudah panen setelah berumur sekitar 70 hari setelah di tanam. 

Bibit buah botong sebaiknya dipilih yang bernas sebelum ditanam yakni dengan cara merendamnya di air hangat selama kurang lebih 30 menit. Biji yang baik adalah yang tenggelam dan terlihat "gemuk" setelah perendaman sedangkan yang tipis dan biasanya mengapung adalah biji yang kurang baik dan harus di pisahkan.  

Sayur Botong adalah salah satu tanaman yang cukup familiar di kalangan masyarakat Dayak khususnya di Katingan, sebetulnya untuk hasil buah yang optimal diperlukan pengolahan tanah seperti pengolahan media tanah pada penanaman sayur labu, timun atau semangka, namun dalam kasus daerah ini umumnya botong di tanam pada lahan tanpa pengolahan secara khusus. Biasanya tanaman ini ditanam bersamaan dengan proses "manugal" atau menanam padi pada areal lahan yang telah ditebas-bakar beberapa minggu sebelumnya. 


Share:

Jumat, 14 Mei 2021

Bangun Pondok Kerja Bukti Kami Serius Dirikan Taman Biodiversitas

www.bambofoundation.org - Tekad dan keseriusan Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) untuk mendirikan taman biodiversitas semakin bulat. Sebagai salah satu bentuk keseriusan ini ialah dengan mendirikan Pondok Kerja di pusat kawasan taman. Kendati hanya berukuran 5,5 m x 4 meter dan hanya berbahan kayu, bangunan ini diperkirakan setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp 13.405.000 rupiah. 

Pendiri Yayasan Bambo

Kendala nihilnya anggaran yang menjadi masalah terbesar saat ini tidak membuat Muhammad Jumani Founder Bambo Foundation berpatah arang. Sembari menunggu donasi yang digalang melalui www.kibtaisa.com/suluhpambelum, secara swadaya bersama rekan-rekannya mereka mulai mengumpulkan bahan, mengolah, kemudian mulai mengerjakannya bergotong royong bersama relawan Peduli Jantung Borneo. 

Pondok Kerja

Ada cerita menarik dalam mengumpulkan material-material yang secara dominan berbahan kayu kelas I karena selain didapatkan dari sumbangan donatur, pendiri juga rela melego motor kesayangan untuk ditukar dengan bahan bangunan. Bahan yang dimaksud adalah dua kubik kayu jenis Benuas untuk keperluan rangka pokok seperti gelagar, tiang dan guntung. 

Eko Ardinatha

Beruntung untuk "Arsitektur" yayasan Bambo memiliki Eko Ardinatha yang cukup piawai dalam merancang, mengerjakan pekerjaan tukang sekaligus memberi arahan kepada relawan saat proses pengerjaan seperti memahat, memalu dan menggergaji. Untuk urusan bangunan sederhana serupa pondok kerja yang masih dibangun secara tradisional ini kami sangat dapat mengandalkannya. Pria asal Pendahara, Katingan ini memang dikenal sebagai sosok yang "low profile" sebab ia tidak sungkan membaur dan bekerja meski walaupun dalam keorganisasian Ia dipercaya sebagai ketua. 

Pondok Kerja

taman biodiversitas

Sosok lainnya yang tak boleh dilewatkan dalam proses pembangunan ini adalah Edi Sabara. Kendati pria single yang juga dikenal supel ini tidak terlalu ahli dalam dunia pertukangan, namun Ia adalah Master of Ceremonies paling berbakat yang dimiliki organisasi. Kehadirannya pada setiap even atau kegiatan yang diselenggarakan Bambo Foundation seperti Kemah Bakti literasi, Manalih Lewu atau Outdoor Class selalu membuat suasana lebih meriah. Ia memahami dalam proses membangun pondok kerja skillnya sebagai MC tidak terlalu dapat diandalkan, maka sebagai gantinya dialah yang acap kali menyediakan konsumsi bagi peserta gotong royong, tentunya meski ia adalah bendahara yayasan dengan kondisi kas yang nihil semua pengeluaran itu berasal dari kantong pribadinya.

Meski saat ini proses pembangunan Pondok Kerja baru ditahap rangka, tetapi semua juga tidak luput dari peran serta seluruh pengurus dan relawan sebut saja Andhika Prasetya, Dodie, Catrine, Subsidie, Heriwati, Delima Sinaga, Tari Budiarti, Set Nita, Alva, Yhosua, Wandinathan, Akbar, Alprianto, Debby, Riko, Jerry, serta relawan lainnya.   

Kami berharap, Pondok Kerja yang nantinya tidak hanya akan mendukung proses pengembangan kawasan menjadi Taman Biodiversitas tetapi juga menjadi sarana edukasi dan riset ini dapat segera rampung 100 persen. Tentunya kami juga sangat menyadari, pembangunan baik Pondok Kerja ataupun Taman Biodiversitas "Suluh Pambelum" membutuhkan banyak bantuan dan kerjasama berbagai pihak tidak hanya dalam lingkup organisasi tetapi juga dengan intansi luar yang memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga dan mempertahankan kekayaan alam kita yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu kami mengajak seluruh pihak untuk mendukung upaya ini dengan berdonasi melalui Rek BRI 7128-01-013147-53-3 a.n YAYASAN BARAOI MUTIARA BORNEO atau secara online di website www.kibtaisa.com/suluhpambelum

Share:

Rabu, 12 Mei 2021

Pesona Scindapsus Borneo (Kalimantan)

www.bambofoundation.org - Pesona Scindapsus tanaman hutan dari suku monstera yang sedang naik kelas kian menghipnotis para pehobies tanaman hias. Tidak tanggung-tanggung harga per "plant" bisa membuat peminatnya haru rela mengeluarkan ratusan hingga jutaan rupiah. Padahal tadinya, tanaman-tanaman dengan karakter dan pola unik ini dulunya hanyalah tanaman liar yang banyak tumbuh di hutan-hutan. 

Daftar Scindapsus Borneo

Tanaman Scindapsus adalah sekelompok tanaman yang berasal dari keluarga Araceae. Walaupun banyak ditemukan di Indonesia, pada dasarnya genus ini juga dijumpai di beberapa daerah lain di Asia Tenggara, New Guinea, Queensland dan beberapa pulau di Pasifik Barat. Diketahui setidaknya ada sekitar 35 spesies Scindapsus yang terdata, menariknya sekitar 12 jenis di antaranya dapat ditemukan di Pulau Borneo (Kalimantan).

Beberapa jenis Scindapsus yang di temukan di pulau Borneo (mencakup wilayah negara Malaysia dan Brunei Darussalam) adalah sebagai berikut. 

Scindapsus coriaceus 

Jenis ini termasuk spesies Scindapus langka Borneo dan data tentang detail tanaman masih sangat terbatas. Beberapa referensi menyebutkan tanaman ini tercatat di jumpai di gunung Kinabalau, Sabah, Malaysia. Gunung Kinabalau adalah gunung dengan puncak tertinggi di Kalimantan dan termasuk dalam salah satu gunung tertinggi di Asia Tenggara dengan tinggi  4.095,2 meter. Wilayah gunung ini termasuk area berstatus kawasan konservasi taman nasional. 

Scindapsus crassipes 

Data mengenai spesies Scindapsus yang satu ini juga masih terbilang minim dan sangat terbatas. Scindapsus crassipes diketahui  merupakan jenis tumbuhan asli yang dijumpai di Pulau Kalimantan. Walaupun dalam beberapa literatur koleksi yang ditemukan berasal dari Serawak, Malaysia namun tidak menutup kemungkinan juga terdapat di beberapa daerah lain di pulau terbesar ke tiga di dunia ini.

Scindapsus beccarii

Flora yang satu ini memiliki daerah sebaran yang sedikit lebih luas yakni tidak hanya terbatas di Borneo saja tetapi juga Sumatera, dan semenanjung Malaysia.  Tumbuhan perennial ini tumbuh pada daerah yang relatif lembab dengan intensitas cahaya matahari redup hingga sedang.  Seperti ciri khas tanaman tropis pada umumnya yang menyukai kelembaban tinggi ia dapat mentolerir suhu antara 21  hingga 32 derajat celcius. 

Bagi para pehobies tanaman hias yang ingin merawat jenis Scindapsus Borneo ini harus memperhatikan kelembaban media yang dapat menggunakan tanah yang subur dan memiliki prositas yang baik. Hal ini sangat penting untuk menjaga kelembaban media, sebab akar Scindapsus beccarii rentan terhadap pembusukan jika media terlalu basah. Pemupukan dapat dilakukan setiap dua minggu sekali ketika tanaman tampak tumbuh dengan aktif. Perbanyakan dapat dilakukan dengan cara stek batang. 

Scindapsus glaucescens

Pesona Scindapsus Borneo berikutnya juga tidak kalah unik dan langka yakni Scindapsus glaucescens. Seperti halnya jenis yang lain flora endemik Borneo ini juga merupakan tanaman yang biasa tumbuh  dengan "memanjat" pohon-pohon yang ada disekitarnya. Diduga ini adalah salah satu bentuk upayanya dalam mendapatkan sinar matahari yang sangat terbatas pada bagian lantai hutan karena tajuk pepohonan yang begitu lebat di hutan hujan. 

Tangkai daun yang panjang dengan bentuk daun yang cenderung berbentuk bulat lonjong (oval) berwarna hijau solid menjadi ciri khas tanaman. Dibandingkan dengan beberapa spesies lain yang lebih populer sebagai tanaman hias, jenis ini nampaknya belum terlalu dilirik barangkali selain karena informasinya yang sangat terbatas juga karena sifat endemisitasnya. 

Scindapsus hederaceus

Habitat Scindapus jenis ini memiliki daerah sebaran mulai dari Indo-china, Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Malaysia. Pada umumnya tumbuh di hutan cemara kering, dan sangat jarang di hutan rawa gambut, di atas batu pasir serta batu kapur. 

Di habitat alaminya secara fisik, termasuk tumbuhan yang berukuran sedang hingga besar dengan daun yang tersusun secara teratur pada batang pemanjat dan cenderung berkumpul pada ujung batang yang berbunga. Namun pada beberapa kasus di tangan pehobies cenderung tergolong jenis yang tumbuh dengan lambat. Meski demikian tanaman ini ternyata memiliki nilai eksotisme yang cukup kuat. Warna hijau kebiruan yang solid dan daun yang elegan membuatnya nampak berkarisma. 

Scindapsus latifolius

Data dan informasi Scindapsus endemik Borneo ini masih sangat terbatas. Selain diketahui menjadi salah satu koleksi Brunei Darussalam, berdasarkan laporan Mitsuru Hota tanaman ini ditemukan di Sarawak, Malaysia. 

Jika diamati berdasarkan identifikasi visual, tanaman ini termasuk tanaman berukuran sedang hingga besar. Daun berwarna hijau berbentuk bulat lonjong melekat pada tangkai daun yang relatif besar dan panjang. Uniknya pada bagian ujung batang tampaknya terdapat semacam rambut atau serat-serat seperti ijuk pada pohon enau. Jenis ini nampaknya belum terlalu populer sebagai tanaman hias dikalangan pehobies. 

Scindapsus longistipitatus

Tanaman endemik ini lagi-lagi sangat sulit ditemukan referensinya. Selain koleksi berupa herbarium di Royal Botanic Garden yang menyebutkan bahwa tanaman ini dikoleksi dari Sabah Banguey Island, Malaysia informasi lainnya hampir tidak ada. 

Ciri fisik yang dapat dideskripsikan dari penampakan visual tanaman ini yang mungkin menjadi ciri khas adalah adanya semacam pelebaran seperti sayap pada tangkai daun yang relatif panjang. Tangkai daun ini menopang daun berukuran relatif sedang dengan bentuk bulat lonjong dengan ujung daun agak lancip. Seperti halnya kebanyakan Scindapsus, jenis ini juga merupakan tanaman "pemanjat".

Scindapsus mamilliferus 

Salah satu spesies endemik yang tercatat menjadi koleksi hidup di Bogor Botanic Garden. 

Scindapsus perakensis 

Tersebar luas dibeberapa daerah seperti Bangladesh, Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Jawa, Sumatra, Sulawesi, Filipina. Termasuk jenis Scindapus Gren Leaf berdaun mengkilap yang sudah cukup dikenal sebagai tanaman hias. Namanya perakensis barangkali mengacu pada herbarium yang terdapat di Royal Botanical Garden yang dikoleksi dari Perak, Malaysia. 

Scindapsus pictus

Merupakan jenis yang umum dan memiliki cukup banyak variasi. Tersebar mulai dari India, Bangladesh, Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Filipina. Di habitatnya tanaman ini dapat tumbuh hingga ketinggian 3 meter, pada daerah yang cenderung ternaung yang bahkan dapat mentorelerir suhu minimum hingga 15 derajat celcius. 

Ciri khas dari jenis ini adalah adanya bercak-bercak putih "pictus" pada permukaan daunnya yang berbentuk bulat lonjong dan cenderung runcing pada bagian ujung. Sekilas bentuk daun ini mirip bentuk syimbol hati yang tidak sempurna karena bagian bawahnya agak melengkung kesamping. Beberapa varietasnya memiliki harga yang cukup fantastis dikalangan pecinta tanaman hias. Salah satu varietasnya yakni Scindapsus pictus "exotica" merupakan tanaman asli yang tumbuh di Taman Biodiversitas Suluh Pambelum yang dibangun oleh Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation)

Scindapsus rupestris

Tanaman khas dengan daun hijau secara menyeluruh. Tangkai daun agak kaku dan relatif panjang. Termasuk jenis Scindapsus yang cukup umum dan dapat ditemukan di Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, dan Sumatra.

Scindapsus treubii

Pesona Scindapus treubii terletak pada daunnya yang tampaknya dibedakan menjadi dua varietas yakni Moonlight dan Dark Form. Pada varietas Moonlight daun yang nampak menyerupai lambang hati tersebut lebih cerah pada bagian tengah. Warna ini nampak seperti sebuah krem yang dikuaskan pada permukaan daun, sedangkan pada varietas Dark Form warna daun pada permukaan tampak hijau gelap secara keseluruhan. 

Kendati bukan tanaman endemik Kalimantan, jenis ini cukup bernilai dikalangan kolektor tanaman hias. Jenis ini tesebar luas mulai didaerah Thailand, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, dan Sumatra. 

Ayo Patungan Bangun Taman Biodiversitas Untuk Selamatkan Jantung Borneo Kita !

Share:

Minggu, 09 Mei 2021

Rambusa buah liar yang berkhasiat

www.bambofoundation.org - Anak-anak yang pernah tinggal di pedesaan khususnya di Kalimantan pasti sudah tidak asing dengan buah Rambusa (Passiflora foetida Linne). Tanaman unik ini dikenal dengan banyak nama lokal seperti cemot, bilaran, kalimutan dan permot. Walaupun pada masa kanak-kanak hanya tergoda dengan rasa buahnya yang manis sedikit asam dan terasa segar ketika sudah matang ternyata buah yang diduga dulunya berasal dari amerika latin ini memiliki cukup banyak khasiat kesehatan. 

Khasiat buah rambusa

Buah cemot atau rambusa umumnya tumbuh liar atau tidak ditanam secara sengaja. Tanaman tergolong herba ini tumbuh menjalar atau merambat di atas permukaan tanah atau "mengikatkan" diri pada tanaman-lain disekitarnya karena adanya semacam "tentakel" yang keluar didekat pangkal tangkai daun. Daunnya memiliki rambut-rambut halus sejenis trikoma sehingga terasa kasar saat dipegang. 

Bentuk buah bilaran

Secara fisik buah rambusa berwarna hijau saat muda dan berangsur berubah kuning hingga jingga ketika matang. Semakin ketingkat oranye ini, isi buah yang lebih tampak seperti markisa mini semakin terasa lebih manis dan sedikit rasa asam. Buah yang hanya seukuran kelereng ini sangat unik karena ditutupi oleh daun pembalut serupa benang yang teranyam sehingga terlihat seperti sebuah mutiara di dalam keranjang berbentuk bulat. 

Manfaat buah rambusa di pedesaan

Buah "cemot" mengandung mineral seperti potassium, kalsium, dan zat besi. Kandungan potassiumnya sangat berguna bagi tubuh diantaranya dapat menguatkan otot, mencegah stroke, mengontrol tekanan darah, menjaga sistem syaraf dan sebagainya.

Manfaat buah "cemot" atau rambusa  antara lain :

1. Menjaga Kesehatan Tulang

2. Mencegah Anemia

3. Mencegah  Kanker

4. Mengontrol Tekanan Darah

5. Menjaga Kesehatan Gusi dan Gigi

Terkadang pucuk atau "suluh" yakni ujung tanaman ini juga dapat manfaatkan untuk sayur. Namun perlu diingat, kendati buah yang sudah matang rasanya enak dan berkhasiat obat namun tidak dianjurkan memakan buah yang masih muda (berwarna hijau) karena diketahui beracun, namun jenis racun apa atau zat apa yang terkandung pada buah yang masih muda belum dijumpai sumber yang menyebutkannya. 

Share:

Facebook

Mengenai Saya

Foto saya
Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation) | NGO Bidang Pendidikan, Sosial dan Lingkungan | Desa Tumbang Baraoi, Petak Malai, Katingan Kalimantan Tengah- Indonesia 74459